Rabu, 09 Desember 2009

MAKNA SYAHADATAIN, RUKUN, SYARAT, KONSEKUENSI, DAN YANG MEMBATALKANNYA 1

PERTAMA: MAKNA SYAHADATAIN
[A]. Makna Syahadat "Laa ilaaha illallah"
Yaitu beri'tikad dan berikrar bahwasanya tidak ada yang berhak disembah dan menerima ibadah kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala, menta'ati hal terse-but dan mengamalkannya. La ilaaha menafikan hak penyembahan dari selain Allah, siapa pun orangnya. Illallah adalah penetapan hak Allah semata untuk disembah.

Jadi makna kalimat ini secara ijmal (global) adalah, "Tidak ada sesembahan yang hak selain Allah". Khabar "Laa " harus ditaqdirkan "bi haqqi" (yang hak), tidak boleh ditaqdirkan dengan "maujud " (ada). Karena ini menyalahi kenyataan yang ada, sebab tuhan yang disembah selain Allah banyak sekali. Hal itu akan berarti bahwa menyembah tuhan-tuhan tersebut adalah ibadah pula untuk Allah. Ini Tentu kebatilan yang nyata.

Kalimat "Laa ilaaha illallah" telah ditafsiri dengan beberapa penafsiran yang batil, antara lain:

[1]. "Laa ilaaha illallah" artinya:
"Tidak ada sesembahan kecuali Allah", Ini adalah batil, karena maknanya: Sesungguhnya setiap yang disembah, baik yang hak maupun yang batil, itu adalah Allah.

[2]. "Laa ilaaha illallah" artinya:
"Tidak ada pencipta selain Allah" . Ini adalah sebagian dari arti kalimat tersebut. Akan tetapi bukan ini yang dimaksud, karena arti ini hanya mengakui tauhid rububiyah saja, dan itu belum cukup.

[3]. "Laa ilaaha illallah" artinya:
"Tidak ada hakim (penentu hukum) selain Allah". Ini juga sebagian dari makna kalimat " ". Tapi bukan itu yang dimaksud, karena makna tersebut belum cukup

Semua tafsiran di atas adalah batil atau kurang. Kami peringatkan di sini karena tafsir-tafsir itu ada dalam kitab-kitab yang banyak beredar. Sedangkan tafsir yang benar menurut salaf dan para muhaqqiq (ulama peneliti), tidak ada sesembahan yang hak selain Allah) seperti tersebut di atas.

[B]. Makna Syahadat "Anna Muhammadan Rasulullah"
Yaitu mengakui secara lahir batin bahwa beliau adalah hamba Allah dan RasulNya yang diutus kepada manusia secara keseluruhan, serta mengamalkan konsekuensinya: menta'ati perintahnya, membenarkan ucapannya, menjauhi larangannya, dan tidak menyembah
Allah kecuali dengan apa yang disyari'atkan.

KEDUA: RUKUN SYAHADATAIN
[A]. Rukun "Laa ilaaha illallah"
Laa ilaaha illallah mempunyai dua rukun:
An-Nafyu atau peniadaan: "Laa ilaha" membatalkan syirik dengan segala bentuknya dan mewajibkan kekafiran terhadap segala apa yang disembah selain Allah.

Al-Itsbat (penetapan): "illallah" menetapkan bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dan mewajibkan pengamalan sesuai dengan konsekuensinya.

Makna dua rukun ini banyak disebut dalam ayat Al-Qur'an, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala

"Artinya : Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beri-man kepada Allah, makasesungguhnya ia telah berpegang kepa-da buhul tali yang amat kuat ..." [Al-Baqarah: 256]

Firman Allah, "siapa yang ingkar kepada thaghut" itu adalah makna dari "Laa ilaha" rukun yang pertama. Sedangkan firman Allah, "dan beriman kepada Allah" adalah makna dari rukun kedua, "illallah". Begitu pula firman Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada Nabi Ibrahim alaihis salam :

"Artinya : Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku ...". [Az-Zukhruf: 26-27]

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala , "Sesungguhnya aku berlepas diri" ini adalah makna nafyu (peniadaan) dalam rukun pertama. Sedangkan perkataan, "Tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku", adalah makna itsbat (penetapan) pada rukun kedua.

[B]. Rukun Syahadat "Muhammad Rasulullah"
Syahadat ini juga mempunyai dua rukun, yaitu kalimat "'abduhu wa rasuluh " hamba dan utusanNya). Dua rukun ini menafikan ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (meremehkan) pada hak Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau adalah hamba dan rasulNya. Beliau adalah makhluk yang paling sempurna dalam dua sifat yang mulia ini, di sini artinya hamba yang menyembah. Maksudnya, beliau adalah manusia yang diciptakan dari bahan yang sama dengan bahan ciptaan manusia lainnya. Juga berlaku atasnya apa yang berlaku atas orang lain.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

"Artinya : Katakanlah: 'Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, ...'." [Al-Kahfi : 110]

Beliau hanya memberikan hak ubudiyah kepada Allah dengan sebenar-benarnya, dan karenanya Allah Subhanahu wa Ta'ala memujinya:

"Artinya : Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hambaNya." [Az-Zumar: 36]

"Artinya : Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al-Qur'an) ..."[Al-Kahfi: 1]

"Artinya : Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ..." [Al-Isra': 1]

Sedangkan rasul artinya, orang yang diutus kepada seluruh manusia dengan misi dakwah kepada Allah sebagai basyir (pemberi kabar gembira) dan nadzir (pemberi peringatan).

Persaksian untuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan dua sifat ini meniadakan ifrath dan tafrith pada hak Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Karena banyak orang yang mengaku umatnya lalu melebihkan haknya atau mengkultuskannya hingga mengangkatnya di atas martabat sebagai hamba hingga kepada martabat ibadah (penyembahan) untuknya selain dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mereka ber-istighatsah (minta pertolongan) kepada beliau, dari selain Allah.

Juga meminta kepada beliau apa yang tidak sanggup melakukannya selain Allah, seperti memenuhi hajat dan menghilangkan kesulitan. Tetapi di pihak lain sebagian orang mengingkari kerasulannya atau mengurangi haknya, sehingga ia bergantung kepada pendapat-pendapat yang menyalahi ajarannya, serta memaksakan diri dalam mena'wilkan hadits-hadits dan hukum-hukumnya.

bersambung insyAllah..
[Disalin dari kitab At-Tauhid Lish Shaffil Awwal Al-Ali, Edisi Indonesia Kitab Tauhid 1, Penulis Syaikh Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan, Penerjemah Agus Hasan Bashori Lc, Penerbit Darul Haq] www.almanhaj.or.id

Bukti-Bukti Upaya Pemurtadan yang terjadi di Sumbar

Ada cerita yang tertinggal dari gempa Sumbar, khususnya di daerah Korong Koto Tinggi, Kanagarian Gunung Padai Alai, Padang Pariaman. Di saat relawan bahu membahu membantu saudara-saudaranya yang tertimpa musibah, AS dibantu LSM lokal melancarkan misi pemurtadan dan pendangkalan aqidah ummat. Berikut kesaksian dari seorang relawan Korps Relawan Mujahidin, Muhammad Shiddieq.

I. Kronologis Peristiwa

Di antara daerah terparah yang terletak di pusat kejadian gempa yakni daerah Korong Koto Tinggi, Kenagarian Gunung Padang Alai Kec. V Koto Timur. Kab. Padang Pariaman, Prov. Sumatera Barat

Semenjak hari pertama kejadian tanggal 30 September 2009, daerah ini seperti daerah mati karena seluruh fasilitas yang ada tidak berfungsi, seperti : tidak adanya saluran air bersih, aliran arus listrik mati, jaringan telekomunikasi tidak berfungsi dan yang lebih parah lagi daerah ini tidak bisa diakses melalui jalan darat

Untuk menuju daerah Korong Koto Tinggi, ada tiga jalur jalan yang bisa dilalui :

1. Dari daerah Kab. Padang Pariaman,

2. Dari Daerah Kab. Agam, dan

3. Dari daerah Kota Bukittinggi.

Namun karena dahsyatnya gempa sehingga jalur lalu lintas dari Kab. Padang Pariaman terputus bahkan sampai saat sekarang belum bisa dilewati melalui jalan darat dengan kendaraan roda empat, sedangkan jalur lalu lintas dari Kab. Agam dan kota Bukit Tinggi pada waktu itu longsor di beberapa titik sehingga daerah ini tidak bisa ditempuh melalui jalan darat

Memanfaatkan kondisi genting seperti ini, pada hari Sabtu tanggal 4 Oktober 2009 mulailah mendarat Helikopter dari Amerika Serikat yang berkerjasama dengan LSM Samarintan sebanyak 4 kali pendaratan dalam setiap hari dan mereka membuat Posko di daerah Korong Koto Tinggi

Pada awalnya Amerika Serikat yang berkerjasama dengan LSM Samaritan hanya sekedar mengantarkan bantuan saja sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan, diantara bantuan yang mereka salurkan berupa logistik, tenda, alat-alat dapur, alat-alat pertukangan dan sebagainya

Namun beberapa hari sesudah itu akhirnya dalam istilah Amerika Serikat tidak ada makan siang yang gratis sehingga mereka mulai untuk melancarkan program-program misionaris dan pemurtadan

------------------------------------------------
MOHON SEBAR LUASKAN TULISAN INI
------------------------------------------------

II. Bukti-Bukti Upaya Pemurtadan di Daerah Korong Koto tinggi

Pernyataan dari relawan LSM Samaritan kepada warga Korong Koto Tinggi, dia mengatakan kepada masyarakat Korong koto Tinggi "Ada Hikmah di balik Musibah Ini" yaitu :

1. Bapak dan Ibu bisa menjadikan kami sebagai sorga, sehingga apa saja yang Bapak dan Ibu minta akan kami kabulkan. Bapak dan Ibu meminta rumah akan kami bangunkan, Bapak dan Ibu ingin punya kendaraan akan kami belikan Bapak dan Ibu minta apa saja akan kami wujudkan karena kami adalah sorga bagi Bapak dan Ibu.

2. Kami bersedia untuk mendaratkan helikopter sebanyak 4 kali pendaratan, minimal sebanyak 2 kali pendaratan dalam setiap hari selama 3 tahun berturut-turut tanpa pernah berhenti mendarat walaupun dalam satu hari. Tapi syaratnya hanya satu, Bapak dan Ibu harus mengikuti aturan kami

3. Ketika berposko di Korong Koto Tinggi, mereka melaksanakan pembinaan kepada anak-anak, Setelah melaksanakan pembinaan kepada anak-anak Korong Koto Tinggi dengan jujur anak-anak tersebut mengaku kepada orang tuanya bahwa mereka telah diajarkan pemahaman-pemahaman yang keliru, diantara pemahaman yang keliru tersebut, yaitu:

Misionaris bertanya kepada anak-anak Korong Koto Tinggi, siapa tuhanmu? Dengan jujur anak-anak tersebut menjawab : tuhan kami adalah Allah, dan missionaris membantah sambil berkata : Tuhan itu bukan Allah tapi Isa Al Masih.

Dengan adanya misi pemurtadan di balik solidaritas kemanusiaan, akhirnya masyarakat Korong Koto Tinggi mulai resah dengan keberadaan relawan dari Amerika Serikat dan LSM Samaritan

III. Tindakan Masyarakat Koto Tinggi Dalam Menyikapi Gerakan Misionaris

Setelah masyarakat mulai merasakan adanya gejala-gejala misionaris dan permutadan, maka lebih dari 100 orang warga Korong Koto Tinggi mengadakan rapat bersama di masjid Raya Koto Tinggi, hasil dari rapat tersebut mereka sepakat :

* Walaupun daerah kita tidak mendapatkan bantuan,
* Walaupun daerah kita tidak didatangi oleh relawan-relawan muslim, dan
* Walaupun kita mati kelaparan yang penting aqidah kita jangan sampai bertukar. Kita lahir beragama Islam besar dalam Islam dan kitapun bertekat mati dalam Dienul Islam

Masyarakat Korong koto Tinggi juga sepakat bahwa, mulai dari saat sekarang sampai ke depan tidak diperbolehkan lagi lembaga-lembaga asing dan lembaga-lembaga non muslim untuk masuk ke daerah ini.

IV. Kondisi Masyarakat Pasca Pengusiran Lembaga Asing dan LSM Misionaris

Pasca pengusiran orang-orang Amerika Serikat dan LSM Samaritan dari daerah Korong Koto Tinggi, membuat kondisi masyarakat menjadi memprihatinkan, karena :

* Putusnya jalan menuju daerah ini sehingga bantuan yang datang sangat minim bahkan nyaris tidak ada,
* Masyarakat masih trauma akibat rumah, fasilitas serta sarana dan prasarana yang mereka miliki hancur dan rusak berat,
* Sarana lalu lintas yang rusak berat sehingga untuk menuju daerah ini sangat sulit,
* Listrik sebagai sarana penerangan masih padam,
* Saluran air bersih tidak tersedia,
* Sarana komunikasi masih rusak dan tidak berfungsi,
* Beberapa hari setelah kejadian gempa, daerah ini tidak tersentuh oleh para relawan muslim.

Sampai saat ini bantuan yang masuk ke daerah ini masih sangat minim, hal ini disebabkan karena sarana jalan dari arah Kab. Padang Pariaman yang masih terputus sampai saat sekarang dan tidak dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat. Sementara kondisi jalan ke Koto Tinggi jika melalui daerah Kab. Agam atau kota Bukit Tinggi harus ditempuh selama lebih kurang lima jam perjalanan dan kondisi medan yang sangat curam dan berbahaya

V. Tanggung Jawab Kaum Muslimin

Sebagai saudara sesama muslim kita sangat bangga dengan saudara-saudara kita di Korong Koto Tinggi yang jauh lebih mementingkan Aqidah dari pada perut, jauh lebih mementingkan akhirat dari pada dunia, namun kita harus berbuat untuk membuktikan solidaritas dan ukhuwah Islamiyah kita dengan sesama muslim : diantara yang bisa kita perbuat yaitu :

1. Memprioritaskan bantuan yang sudah ada ke daerah Korong Koto Tinggi, karena disamping daerah ini rusak parah dan juga akibat dari sikap penolakan mereka terhadap orang asing dan misionaris membuat daerah ini sangat kekurangan dibandingkan dengan daerah-daaerah lain yang bersedia menerima bantuan dari lembaga-lembaga asing tersebut.

2. Berupaya untuk merangkul elemen-elemen dan lembaga-lembaga muslim untuk memprioritaskan bantuan ke daerah Korong Koto Tinggi.

3. Menghimbau kepada korban gempa bumi untuk mewaspadai gerakan misionaris.

4. Kepada ormas dan lembaga Islam, untuk membuat tim-tim dakwah yang siap untuk dikirim kedaerah-daerah yang rawan dengan gerakan misionaris.

5. Menjadikan daerah Korong Koto Tinggi menjadi daerah percontohan bagi daerah lain, sehingga tidak mudah dalam menerima bantuan-bantuan asing dan LSM non muslim lainnya.

MONOGRAFI DAERAH KOTO TINGGI

1. Nama Daerah : Korong Koto Tinggi, Kenagarian Gunung Padang Alai, Kec. V Koto Timur Padang Pariaman

2. Jumlah Penduduk : 1016 jiwa (BPS 2007)

3. Jumlah KK : 316 KK

4. Jumlah Rumah : 268 rumah (98 % tidak bisa ditempati lagi)

5. Jumlah Warga Yang Meninggal : 16 Orang Karena Gempa

6. Fasilitas Umum :

a. Masjid : 2 Masjid (1 hancur dan 1 rusak berat)

b. Musholla : 14 buah (hancur)

c. Sekolah : 3 Sekolah

- (1 TK = Hancur rata dengan tanah)

- (1 SD = Hancur rata dengan tanah)

- (1 SMP = Rusak berat)

7. Fasilitas Jalan : 4 jalur jalan hancur, tidak bisa dilewati dengan kendaraan roda 4

8. Jembatan : 1 Putus

-----------------------------------------------------------------------------------------
video bukti terjadinya pemurtadan:
http://www.youtube.com/watch?v=fKxJp6Kl3lY

direkam oleh relawan HTI, lokasi di Padang Sago, Sumbar.

DUDUK DI TEMPAT SHALAT HINGGA TERBIT MATAHARI

Ini termasuk sunnah Nabi shalallahu'alaihi wasallam yang sudah jarang di amalkan. Bagi seseorang yang berkelapangan hendaklah mengamalkannya guna menjaga sunnah Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam. Jabir bin Samurah radhiallahu'anhu berkata," Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam biasanya tidak beranjak dari tempat beliau mengerjakan shalat shubuh atau shalat fajar hingga matahari terbit. Apabila matahari terbit beliau bangkit. Mereka dahulu bercerita tentang pengalaman-pengalaman masa jahiliyah, mereka tertawa sementara Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam hanya tersenyum."
(Shahih Muslim dalam kitab Al-Masaajid wa Mawaadhi'ush shalat(760))

Tidur Pagi Bukan Kebiasaan Para Salaf
Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari Abu Wa'il Syafiq bin salamah al-Asadi, ia berkata,"suatu hari usai shalat shubuh, kami pergi menemui 'Abdullah bin Mas'ud. Kami mengucapkan salam di sisi pintu." Kami di izinkan masuk, tetapi memutuskan untuk menunggu sejenak di luar. Seorang budak berkata,"Silahkan masuk saja?' kamipun masuk dan ternyata 'Abdullah bin Mas'ud sedang duduk berdzikir. Ia berkata,"Apa yang menghalangi kalian masuk, padahal sudah di persilahkan?" "Tidak apa-apa, hanya saja kami mengira masih ada anggota keluarga yang tidur" jawab kami. Ibnu Mas'ud berkata,"Kalian mengira keluarga Ibnu Ummi 'Abdullah (maksudnya dia sendiri) adalah orang-orang yang lalai?"

Ia meneruskan dzikir, sampai ketika mengira matahari telah terbit, ia memanggil budaknya dan bertanya, "Lihatlah apakah matahri telah terbit?"

Budak itu melihatnya ternyata matahari belum terbit, maka Ibnu Mas'ud mengucapkan:
"Segala Puji bagi Allah yang telah membebaskan hari kami ini, dan tidak membinasakan kami dengan dosa-dosa kami."
(HR.Muslim(I/564)

Syaikh Abdur Razzaq al-Badr berkata,"Dialog dalam atsar di atas mencerminkan gambaran secara jelas tentang kehidupan yang penuh vitalitas dan motivasi yang tinggi untuk mengoptimalkan waktu pagi hari di kalangan Salafus Shalih, terutama para sahabat. Dengan ke dalaman ilmu agama yang mereka miliki mereka dapat meletakkan segala sesuatu pada tempatnya."
(Fiqhul Ad'iyah wal Adzkar(3/45)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,"Diantara perkara yang di benci di kalangan salaf adalah tidur antara usai shalat Shubuh sampai matahari terbit. Sebab, itu adalah waktu aktivitas yang memiliki nilai istimewa. Bahkan kalau orang-orang telah berjalan semalam suntuk, mereka tidak di prbolehkan istirahat pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Saat itu adalah awal hari dan kuncinya, waktu turunnya rezeki dan terjadinya pembagian rezeki dan berkah. Saat itulah hari bermula keadaan seluruhnya bergantung pada moment itu. Maka sekiranya memang seseorang harus tidur, hendaknya itu tidur yang sifatnya darurat."
(Madaarijus Salikin(I/308)

Pagi hari adalah waktu-waktu yang penuh berkah lagi berharga, berdasarkan do'a Nabi shallallahu'alaihi wasallam:
"Ya Allah, berkahilah umatku pada pagi harinya."
(HR.Abu Dawud(2608), Ibnu Majah(2236) dan di shahihkan oleh Al-Albani dalam shahih al-jami'(1300)

Maka tidak sepantasnya mengisi waktu ini dengan tidur tanpa ada kebutuhan darurat. Sebab, pagi hari laksana masa muda yang penuh dengan vitalitas dan sore hari ibarat masa tua yang hanya menyisakan tubuh tanpa daya. Orang yang bijak hendaknya memanfaatkan waktu ini dengan membaca dzikir-dzikir pagi dan petang yang di ajarkan oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, sebagaimana yang akan di jelaskan dalam bab Dzikrullah. insyAllah.

Dari buku Panduan Amal Sehari Semalam
Penulis : Abu Ihsan Al Atsari
Penerbit : Pustaka Darul Ilmi

KEUTAMAAN SHALAT SHUBUH BERJAMA'AH

Bangun segera di pagi hari dan mengerjakan shalat shubuh berjama'ah memiliki banyak keutamaan, di antaranya:

1.Allah subhanahu wata'ala membanggakan dihadapan para malaikat orang yang meninggalkan pembaringannya lalu bangun mengerjakan shalat.

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda:
"Allah subhanahu wata'ala takjub melihat seorang lelaki yang banguin dari pembaringan dan kasurnya meninggalkan keluarga dan kekasihnya untuk mengerjakan shalat. Allah subhanahu wata'ala berkata: Wahai malaikat-malaikat-Ku, lihatlah hamba-Ku itu, ia bangun dari pembaringan dan kasurnya meninggalkan keluarga dan kekasihnya untuk mengerjakan shalat karena mengharap pahala dari sisih-Ku dan merindukan apa yang ada di sisih-Ku."
(HR.Ahmad dan di shahihkan oleh Al-Albani dalam misykaatul mashaabih(1251))

2.Siapa saja yang keluar untuk mengerjakan shalat fajar berjama'ah niscaya Allah akan memberinya cahaya pada hari kegelapan.

Buraidah al-Aslami radhiallahu'anhu berkata, Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda:
" Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan di kegelapan ke masjid berupa cahaya yang sempurna pada hari kiamat kelak."
(HR.At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibn Majah dengan sanad shahih, dan di shahihkan oleh Al-Albani dalam shahih sunan Abu Dawud (III/88))

Di kegelapan maksudnya shalat isya' dan subuh. Sabda Nabi shallallahu'alaihi wasallam: "ke masjid," menunjukkan bahwa cahaya ini di berikan kepada orang-orang yang mengerjakan shalat isya' dan shubuh berjama'ah.

3.Kemudian apabila kamu mengerjakan shalat fajar berjama'ah niscaya akan di tulis bagimu pahala qiyamul lail.

Betapa besar keutamaan ini, di tuliskan bagimu pahala qiyamul lail(shalat malam) sementara kamu tidur di atas pembaringanmu, bilamana kamu bangun untuk mengerjakan shalat fajar dan menunaikannya berjama'ah.

Ustman bin Affan radhiallahu'anhu berkata, Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda:
"barang siapa mengerjakan shalat isya' bersama jama'ah seolah-olah ia mengerjakan shalat separuh malam. Dan barang siapa shalat shubuh bersama jama'ah seolah-olah ia mengerjakan shalat semalam penuh."
(HR.Muslim)

4.Para malaikat berkumpul dan mendoakan orang-orang yang mengerjakan shalat shubuh berjama'ah.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:
"Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).(QS.Al-Isra:78)

Ahli tafsir mengatakan, "Yang di maksud qur'anal fajri adalah shalat fajar."
Masyhuuda yakni di hadiri malaikat malam dan malaikat siang.

Abu Hurairah radhiallahu'anhu berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda:
"Shalat berjama'ah lebih utama dua puluh lima kali lipat daripada shalat kamu sendirian. Malaikat malam dan malaikat siang berkumpul menghadiri shalat fajar."

Kemudian Abu Hurairah radhiallahu'anhu berkata,"Silahkan kamu baca:
Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).(QS.Al-Isra:78)
(HR.Bukhari)

5.Jaminan Surga dan terhindar dari api Neraka.

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda:
"Barang siapa shalat Al-Bardain niscaya masuk Surga."
(HR.Bukhari dan Muslim)

Shalat Al-Bardain adalah shalat Subuh dan shalat 'Ashar.

Dalam hadist lain Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda:
"Tidak akan masuk Neraka orang yang shalat sebelum terbit matahari dan shalat sebelum terbenam matahari."
Yakni shalat fajar dan 'Ashar.
(HR.muslim)

6.Berada dalam perlindungan Allah subhanahu wata'ala.

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda:
"Barang siapa shalat Shubuh, maka ia berada dalam perlindungan Allah."
(HR.Muslim)

Dan masih banyak lagi keutamaan lainnya.


Dari buku Panduan Amal Sehari Semalam
Penulis : Abu Ihsan Al Atsari
Penerbit : Pustaka Darul Ilmi

PENGARUH & MANFAAT TAUHID

Tauhid secara bahasa artinya adalah Mengesakan. Sedangkan menurut istilah, tauhid adalah Mengesakan Alllah dalam Uluhiyah, Rububiyah, Nama-Nama dan Sifat-Sifat-Nya. Dari definisi ini menjadi jelas bagi kita bahwa:

1.Tauhid yang murni akan terwujud jika Tuhan disembah (ilah) hanya satu, tidak bermacam-macam.

2.Tauhid yang murni juga akan terwujud jika terdapat keyakinan bahwa Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur alam ini hanya satu, tidak ada sekutu dalam penciptaan dan menghidupkan sebagaimana yang diyakini orang-orang Nashrani bahwa Isa ‘alaihissalam dapat menciptakan, menghidupkan dan mematikan.

3.Tauhid yang murni juga akan terwujud jika berkeyakinan bahwa Allah memiliki Nama-Nama yang Mulia dan Sifat-Sifat yang Agung, tidak ada sekutu bagi-Nya di dalam Nama-Nama dan Sifat-Sifat tersebut.

Layak diketahui bagi setiap hamba Allah, bahwa setiap yang Allah wajibkan memiliki pengaruh dan manfaat yang tampak pada mereka. Dan tauhid merupakan perintah yang paling utama yang Allah wajibkan kepada segenap hamba-Nya. Pengaruhnya positif dan hasilnya tentu sangat besar.

Tidak ada sesuatu yang pengaruhnya sangat baik, buahnya segar dan keutamaannya bermacam-macam seperti yang ada pada tauhid, karena kebaikan dunia dan akhirat merupakan buah dan keutamaan tauhid.

Di antara manfaat tauhid adalah:

1.Tauhid merupakan sebab paling utama terhapusnya dosa dan kesalahan. Dalilnya adalah hadits Anas radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai anak adam, seandainya engkau mendatangi-Ku dengan sepenuh bumi dosa, kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan Aku sedikitpun –yakni beertauhid-, maka Aku akan mendatangimu dengan sepenuh itu pula ampunan’”. (Riwayat Tirmidzi [V/548, no. 3540], Ibnu Majah [II/1255, no.3821], dan Ahmad [V/147, 148, 153, 154, 155]). Demikian pula dengan hadits nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Siapa yang bersaksi (bersyahadat) bahwa tidak ada tuhan yang disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan (bersaksi) bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, dan bahwa Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya serta Kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan roh dari-Nya, dan (bersaksi) bahwa surga adalah haq, neraka adalah haq; Allah akan masukkan dia ke dalam surga-Nya apapun amal yang ada padanya”. (Riwayat Bukhari [VI/474, no. 3435], Muslim [I/57, no. 28]). Hadits ini menunjukkan bahwa Allah mengampuni dosa-dosa seorang hamba dengan sebab tauhidnya yang murni. Adakah manfaat di akhirat yang lebih besar dari ini?

2.Tauhid membebaskan seorang hamba dari perbudakan makhluk dan ketergantungan, ketakutan dan kepasrahan terhadap mereka serta beramal untuk mereka. Hati seorang yang bertauhid selalu bergantung kepada Rabb-nya, Pencipta langit dan bumi yang di Tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu. Inilah harga diri yang hakiki dan kemuliaan yang agung. Seorang yang bertauhid selalu beribadah hanya kepada Allah, tidak mengharapkan kepada selain-Nya dan tidak takut kecuali kepada-Nya. Sehingga dengan demikian, kesuksesan dan keberhasilannya kian terealisir.

3.Tauhid merupakan satu-satunya sebab untuk mengggapai ridho Allah Ta’ala, cinta dan pahala-Nya. Berbeda dengan syirik yang merupakan sebab turunnya siksa Allah, kemurkaan dan kepedihan azab-Nya. Firman Allah Ta’ala: “Kamu tidak akan mendapat suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung.” (QS. Al-Mujadilah: 22).

4.Tauhid yang telah tertanam mantap dalam hati seseorang hamba akan meringankannya dari segala kesulitan, musibah, kepedihan dan kesedihannya. Jika seseorang menyempurnakan tauhid dan keimanannya, dia akan menghadapi kesulitan dan kepedihannya dengan hati yang sabar, jiwa yang tenang, dan menerima serta ridha dengan taqdir Allah. Allah telah memuji orang yang bertauhid ketika mereka menerima musibah. Allah Ta’ala berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka menggucapkan ‘Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat pujian.” (QS. Al-Baqarah: 156-157).


Rujukan: Kitab “Tauhid, Urgensi dan Manfaatnya”, yang ditulis oleh DR. Umar bin Su’ud al-‘Ied dan diterbitkan oleh Al-Maktab at-Ta’awuni Lid Da’wah wal Irsyad wa Tau’iyatil Jaliat bi as-Sulay.

MENTAUHIDKAN ALLAH (Beribadah hanya kepada Allah)

Tauhid adalah mengesakan Allah dalam beribadah. Ketika kita berbicara masalah tauhid, pertama kali yang terbetik dalam ingatan kita adalah masalah yang berkenaan dengan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala atas para hamba-Nya. Hak-hak tersebut menjadi keniscayaan dan konsekuensi dari kalimat agung, yaitu kalimat Laa Ilaaha Illallah. Hak-hak tersebut mencakup hak rububiyyah, uluhiyyah dan asma’ wa sifat.

Hak rububiyyah meliputi keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya Pencipta, Pengatur rezeki, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan dan lainnya. Sedangkan hak uluhiyyah adalah menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai satu-satunya sesembahan yang diibadahi, tak ada sekutu bagi-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku (mentauhidkanKu)”(Adz-Dzariyat:56). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: “Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, ’Sesungguhnya Allah itu al-Masih putra Maryam’. Padahal al-Masih (sendiri) berkata, ’Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu’. Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka..... Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa adzab yang pedih.”(Al-Ma’idah:72-73).
Oleh karena itu, semua bentuk ibadah harus ditujukan hanya kepada Allah semata dan tidak boleh dipalingkan kepada selain-Nya sedikitpun. Contoh ibadah misalnya: do’a, shalat, khauf (takut), roja’ (harapan), tawakkal (berserah diri), dan sebagainya. Maka kita tidak boleh berdo’a kepada selain Allah. Tidak boleh kita berdo’a kepada kuburan, orang yang ada di kuburan, wali, malaikat, dan juga tidak boleh kita berdo’a kepada nabi. Kita hanya berdo’a kepada Allah.

Hak dalam asma’ dan sifat-Nya adalah meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang sempurna sebagaimana yang terdapat di dalam kitab-Nya (Al-Qur’an) dan hadits-hadits Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam.

Makna kalimat Laa Ilaaha Illallah adalah tidak ada yang berhak disembah di langit dan di bumi kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar“(Al Hajj: 62).

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak...”(An-nisa’:36).

Kalimat Laa Ilaaha Illallah bukan berarti: “Tidak ada pencipta selain Allah” sebagaimana yang disangka sebagian orang, karena sesungguhnya orang-orang musyrik pada zaman Rasullullah pun mengakui bahwa Sang Pencipta dan Pengatur alam ini adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun tidak membuat mereka masuk dalam Islam.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan mereka,’ niscaya mereka menjawab, ’Allah,’...”(Az-Zukhruf:87).
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: “Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rizki kepadamu, dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah.’ Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?”(Yunus:31).

Walaupun orang-orang kafir tersebut mengakui bahwa Sang Pencipta dan Pengatur alam ini adalah Allah, namun mereka mengingkari penghambaan (ibadah) hanya kepada Allah, mereka tidak mau memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata. Mereka mengakui Allah yang menciptakan mereka, Allah yang memberikan rizki dan Allah yang mengatur segala urusan, namun mereka tetap menyembah berhala. Alangkah jahilnya orang-orang ini, mereka menyembah sesuatu benda mati yang tidak mampu mendatangkan manfaat...!!! Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “(Dan orang-orang kafir berkata:) Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan”(Shod:5).

KEUTAMAAN KALIMAT LAA ILAAHA ILLALLAH

Dalam kalimat Laa Ilaaha Illallah terkumpul keutamaan yang banyak, dan faedah yang bermacam macam. Namun, keutamaan tersebut tidak akan bermanfaat bagi yang mengucapkannya, apabila sekedar diucapkan saja. Dia baru memberikan manfaat bagi orang yang mengucapkanya dengan keimanan dan melakukan kandungan-kandungannya. Salah satu keutamaannya adalah bahwa orang yang mengucapkannya dengan ikhlas semata-mata karena mencari ridha-Nya maka Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan baginya api neraka. Diantara sabda Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam yang menyebutkan keutamaan kalimat Laa Ilaaha Illallah adalah:

Pertama:
“Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi siapa yang mengatakan Laa Ilaaha Illallah semata-mata karena mencari ridha Allah” (Muttafaq ‘alaihi).

Kedua:
“Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku pada hari kiamat nanti adalah orang yang mengucapkan : ‘Laa Ilaaha Illallah,’ dengan ikhlas dari hati atau jiwanya” (HR. Al-Bukhari [no.99 dan 6570] dan Ahmad [II/373] dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu).

Ketiga:
“Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad adalah Rasul Allah, dengan jujur dari hatinya, melainkan Allah mengharamkannya masuk neraka”(HR. Al-Bukhari [no.128] dan Muslim [no.32] dari hadits Muadz bin Jabal radhiyallaahu ‘anhu). Wallahu A’lam.

Penulis: Benny Mahaputra Adipradana (kaummuslimin.blogspot.com)
Rujukan:
1) Al-Quran dan as-Sunnah Rasulullah yang Shahih.
2) Kasyfusy Syubuhat, Syaikh Muhammad at-Tamimy
3) Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Cetakan Ketiga-Pustaka Imam asy-Syafi’i-Bogor, th. 1427 H.
4) Kitab Tauhid 1, Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan, Cetakan XIV-Darul Haq-Jakarta, th. 1427 H.
5) ElFata, Volume 06, tahun 2006.
6) Dan lain-lain.
barangsiapa mendatangi dukun dan peramal lalu dia benarkan apa yang diucapkan dukun atau peramal itu berarti dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad. (HR Ahmad)

SHALAT SUNNAH FAJAR

Dua raka'at shalat sunnah fajar adalah amalan yang selayaknya kita jaga dan jangan di tinggalkan. Karena Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam sangat menjaga pelaksanaan shalat sunnah fajar di banding shalat shalat lainnya. 'Aisyah radhiallahu'anha berkata," Rasulullah tidak pernah demikian ulet melaksanakan shalat sunnah sebagaimana keuletan beliau melaksanakan dua rakaat fajar sebelum Shubuh."

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda :
"Dua rakaat sunnah fajar lebih baik daripada dunia dan seisinya."
(Hadist riwayat muslim(725))

Dalam riwayat lain Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda :
"Dua rakaat sunnah fajar lebih aku sukai daripada dunia seluruhnya."
(Sunanul Kubra An-Nasaa'I (I/175,nomor 458))

Jika di bandingkan keutamaan dua rakaat sunnah fajar dengan dunia seisinya bahkan dengan dunia seluruhnya niscaya lebih baik, lebih besar dan lebih banyak pahalanya.

Shalat sunnah fajar ini di lakukan secara ringkas.'Aisyah radhiallahu'anha berkata,"Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam biasa mengerjakan shalat ringkas dua rakaat antara adzan dan iqamat saat shalat subuh."
(Hadist Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Dan diantara sunnah Nabi shallallahu'alaihi wasallam adalah melakukan idhthijaa'(berbaring kesebelah kanan) seusai mengerjakan shalat sunnah fajar. Sebagaimana di sebutkan dalam hadist: "Usai mengerjakan shalat sunnah fajar dua raka'at, biasanya Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam berbaring ke sebelah kanan."
(Hadist Riwayat Al-Bukhari)

Bagi yang mengerjakan shalat sunnah ini di rumah dan berkesempatan melaksanakannya meski hanya beberapa menit maka hendaklaj ia melakukannya.

Dari buku Panduan Amal Sehari Semalam
Penulis : Abu Ihsan Al Atsari
Penerbit : Pustaka Darul Ilmi

Selasa, 08 Desember 2009

Renungan Terakhir

Renungan ini adalah nasihat yang saya tujukan bagi setiap muslim dan muslimat yang mendambakan Surga.

Nasihat ini bukan berasal dari saya, namun berasal dari Rabb semesta alam yang telah berfirman (yang artinya):

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharapkan keridhaan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharap perhiasan kehidupan dunia ini, dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta mengikuti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”. (Al-Kahfi: 27)

Maka jika engkau menginginkan surga, pergaulilah orang yang jika engkau melihatnya, engkau segera mengingat Allah, jika berbicara kepadamu, ia hanya berbicara yang baik. Hindarilah orang-orang yang jahat dan ingatlah selalu firman Allah ini (yang artinya),

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit kedua tangannya seraya berkata,’Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.” (Al-Furqan: 27-29)

Yang dimaksud dengan si Fulan dalam ayat ini adalah orang jahat yang mengajakmu kepada segala sesuatu yang menjadikanmu lupa kepada Allah, seperti mengajak mendengarkan kaset-kaset lagu, melihat film, majalah porno, serta mengajak kepada segala sesuatu yang menjadikanmu lupa dari ta’at dan mengingat Allah.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya):

“Pada hari itu (hari qiyamat) para teman karib, sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali ornag-orang bertakwa.” (Az-Zukhruf: 67).

Setiap orang yang disayangi akan menentang orang yang mengasihinya, kecuali orang-orang yang berkasih sayang karena Allah. Setiap teman akan berlepas diri dari temannya kecuali bila persahabatannya itu hanya karena ketaatan kepada Allah. Jika engkau dicoba dengan persahabatan yang tidak menjadikan engkau dekat dengan Allah, segeralah tinggalkan persahabatan itu sebelum mereka meninggalkanmu dan berlepas diri darimu, yaitu saat berada dalam Neraka.

“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.”(Al-baqarah: 166). Dan seorang penyair berkata, “jika bergaul dengan suatu kaum pilihlah yang terbaik, hindari yang hina karena kehinaannya membuatmu hina.”

Sebagai penutup nasihat ini, saya selalu memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar selalu memberimu taufiq dalam segala kebaikan dan menghindarkanmu dari segala kejahatan. Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu dan memudahkan segala urusanmu.



Diambil dari buku “Jagalah Dirimu” karya ‘abdul Muhsin bin ‘Abdul Jabar hal 52-55 Penerbit DARUL HAQ Jakarta, dengan beberapa perubahan.

jauhi perdukunan dan jangan percaya dengan dukun.

Rasullulah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ، لمَ ْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً.

“Barangsiapa yang datang kepada dukun/orang pintar/tukang ramal, lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu, maka tidak akan diterima shalatnya selama 40 malam.” (HR. Muslim no.2230 (125), Ahmad IV/68, V/380 dari seorang istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)

أَوْكَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ. مَنْ أَتَى عَرَّافًا

“Barangsiapa yang mendatangi orang pintar/tukang ramal atau dukun lalu ia membenarkan apa yang diucapkanny, maka sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Ahmad II/408, 429,476, al Hakim I/8 Shahiih al-Jaami’ish SShaghiir no.5939 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, shahih).

Tuntunan Sunnah Saat Masuk Dan Keluar Kamar Mandi/WC

Dalam kehidupan sehari hari kita tentu tak bisa dari kamar mandi/wc, baik tujuannya untuk bersuci, membersihkan diri ataupun buang hajat. Maka sudah selayaknya kita memperhatikan sunnah sunnah nabi ketika masuk dan keluar dari kamar mandi, diantaranya:

Membaca Do'a

Kamar mandi/wc adalah tempat tinggal setan. Karena karena itu hendaknya kita memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan setan laki laki dan perempuan dengan mengucapkan do'a:

- اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ.
,"se-sungguhnya aku berlindung kepadaMu dari godaan setan laki-laki dan perem-puan”.
(HR.Ahmad dari Anas bin Malik, dan di shahihkan oleh Al-Albani dalam shahih al-jami; (4712).

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam jika hendak masuk wc beliau membaca [بِسْمِ اللهِ]
“Dengan nama Allah. Ya Allah" (HR.Ibn Abi Syaibah (29902) dari Anas bin Malik. shahih al-jami' (4714)

Dzikir ini berfungsi untuk menutup aurat manusia dari penglihatan jin.

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam pernah bersabda:
"Penutup aurat anak Adam dari Pandangan jin ketika ia masuk wc adalah dengan mengucapkan bismillah." (shahih al-jami' halaman 675 hadist no:3610)


Masuk Dengan Mendahulukan Kaki Kiri

Karena ia sedang memasuki tempat najis, maka seharusnya ia mendahulukan kaki kiri. Berbeda halnya ketika memasuki tempat yang terhormat dan mulia, hendaknya ia mendahulukan kaki kanan, misalnya masuk ke masjid. Setiap pekerjaan baik dan mulia hendaknya di mulai dengan sebelah kanan. Dan apabila pekerjaan itu sebaliknya, maka di dahului yang sebelah kiri, salah satunya ketika hendak masuk ke kamar mandi/wc.


Jangan Berlama-lama Di Kamar Mandi/wc

Janganlah seseorang berlama lama dalam kamar mandi, usahakan selekas mungkin ia menyelesaikan hajatnya di kamar/mandi. Kalau sudah selesai segeralah keluar dan jangan berlama lama menetap di dalamnya. Karena kamar mandi/wc adalah tempat setan dan kotoran sehingga tempat seperti itu tidak di anjurkan untuk berlama lama berada di situ.

Keluar Dengan Mendahulukan Kaki Kanan

Sebab sebelah kanan selalu di dahulukan dalam melakukan setiap perkara yang baik. Keluar dari kamar mandi/wc berarti berpindah dari tempat yang kotor ke tempat yang bersih. Oleh karena itu mendahulukan kaki kanan ketika keluar.

Bacalah Do'a Ketika Keluar Dari Kamar Mandi/wc

Yaitu do'a yang pernah di ucapkan Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam ketika keluar dari wc yaitu:

غُفْرَانَكَ.
“Aku minta ampun kepadaMu” (HR.Ahmad (VI/155), Abu Dawud (30), An-Nasaa'I dalam kitab Al-Kubra (9907), At Tirmidzi (7), dan ia menghasankan hadist ini, Ibn Majah (300), Ibnu Hibban (1441) Ihsaan, Al-Hakim (I/158), Ad-Daarimi (I/174), Ibn Jaaruud (42), Al_Bukhari dalam Adabul Mufraad (693/97), Ibnu As-Sunni (23), dari 'Aisyah radhiallahu'anha. Shaihi al-jami' (4707).)

Dari buku Panduan Amal Sehari Semalam
Penulis : Abu Ihsan Al Atsari
Penerbit : Pustaka Darul Ilmi

MUTIARA NASEHAT SYAIKH IBNU BAZZ TERHADAP THOLIBUL ‘ILM (2)

Berkata sebagian Para Sahabat (Salafus Shalih), “Inti dari ilmu adalah takut kepada Allah”.

Berkata Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, “Cukuplah takut kepada Allah itu dikatakan sebagai ilmu dan cukuplah membangkang dari-Nya dikatakan sebagai kejahilan.”. Berkata sebagian salafus shalih : “Barangsiapa yang lebih mengenal Allah niscaya dia lebih takut kepada-Nya.” dan menunjukkan kebenaran makna ini sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Adapun aku, demi Allah, adalah orang yang lebih takut kepada Allah daripada kalian dan aku lebih bertakwa kepada-Nya daripada kalian.” Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Oleh karena itulah, kekuatan ilmu seorang hamba terhadap Allah
adalah merupakan sebab kesempurnaan takwa dan keikhlasannya, wuqufnya (berhentinya) dia dari batasan-batasan Allah dan kehati-hatiannya dari kemaksiatan.

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling takut
kepada Allah dari hamba-hamba-Nya adalah ulama’” (QS Fathir : 28).
Maka ulama yang mengetahui Allah dan agama-Nya, mereka adalah
manusia yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya, serta mereka adalah orang yang paling mampu menegakkan agama-Nya.

Di atas mereka ada pemimpin-pemimpin mereka dari kalangan Rasul dan Nabi –alaihimush sholaatu was salaam- kemudian para pengikut mereka dengan lebih baik.

Nabi mengabarkan termasuk tanda-tanda kebahagiaan adalah
fahamnya seorang hamba akan agama Allah. Bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Barangsiapa dikehendaki Allah atasnya kebaikan niscaya ia akan difahamkan akan agamanya”, dikeluarkan di dalam shahihain dari hadits Mu’awiyah Rahiallahu ‘anhu.

Tidaklah hal yang demikian ini melainkan dikarenakan faham terhadap agama akan mendorong seorang hamba untuk menegakkan perintah Allah, untuk takut kepada-Nya dan memenuhi kewajiban-kewajiban-Nya, menghindari apa-apa yang membuat-Nya murka.
Faham terhadap agama akan membawanya kepada akhlak yang mulia, amal yang baik, dan sebagai nasehat kepada Allah dan hamba-hamba-Nya.

Aku memohon kepada Allah Azza wa jalla untuk menganugerahkan
kita, seluruh penuntut ilmu dan kaum muslimin seluruhnya, dengan
pemahaman di dalam agama-Nya dan istiqomah di atasnya. Semoga Allah melindungi kita dari seluruh keburukan jiwa-jiwa kita dan kejelekan amal-amal kita, sesungguhnya Allahlah pelindung dari hal ini dan Ia maha memiliki kemampuan atasnya. Semoga Shalawat dan Salam tercurahkan kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi kita Muhammad, keluarganya dan sahabatnya.

Source : http://www.ummusalma.wordpress.com
(diterjemahkan dari Mansyurat Markaz Imam Albany lid Dirasat al -Manhajiyah wal Abhatsil Ilmiyyah (Surat edaran Markaz Imam Albany tentang pelajaran manhaj dan riset ilmiyah) yang berjudul min durori kalimaati samahatis syaikh al-Allamah Abdul Aziz bin Abdullah bin
Bazz –rahimahullah- Nashihatu Lithullabatil ‘ilm oleh Abu Salma bin Burhan)

MUTIARA NASEHAT SYAIKH IBNU BAZZ TERHADAP THOLIBUL ‘ILM (1)

Segala puji bagi Allah, Sholawat dan salam semoga senantiasa
tercurahkan kepada rasul-Nya, Nabi kita Muhammad, keluarganya dan sahabatnya. Adapun setelah itu : Adalah tidak diragukan lagi, bahwasanya menuntut ilmu termasuk seutama-utama amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, termasuk sebab-sebab kesuksesan meraih surga dan kemuliaan bagi pelakunya.

Termasuk hal yang terpenting dari perkara-perkara yang penting adalah
mengikhlaskan diri dalam menuntut ilmu, menjadikan menuntutnya
karena Allah bukan karena selain-Nya. Dikarenakan yang demikian ini merupakan jalan yang bermanfaat baginya dan juga merupakan sebab diperolehnya kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat.

Dan sungguh telah datang sebuah hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa Sallam, bahwasanya beliau bersabda, “Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu dengan mengharap wajah Allah, tidaklah ia mempelajarinya melainkan untuk memperoleh harta dunia, dia takkan mendapatkan harumnya bau surga di hari kiamat.” Dikeluarkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang hasan. Dan dikeluarkan pula oleh Turmudzi dengan sanad yang di dalamnya ada kelemahan,

dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam beliau bersabda, “Barangsiapa menuntut ilmu dengan maksud untuk membantah ulama, atau
mengumpulkan orang-orang bodoh atau memalingkan wajah-wajah manusia kepada-Nya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam neraka.”

Maka kunasehatkan kepada tiap-tiap penuntut ilmu dan kepada setiap
muslim –yang mengetahui perkataan ini- untuk senantiasa mengikhlaskan segala macam amalan karena Allah, sebagaimana firman Allah : “barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia beramal sholih dan tidak mensekutukan Allah di dalam peribadatan sedikitpun.” (QS Al-Kahfi : 110).

Dan di dalam shohih Muslim dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda : “Allah Azza wa Jalla Berfirman, Aku tidak butuh kepada sekutu-sekutu dari kesyirikan, barangsiapa yang beramal suatu amalan yang mensekutukan-Ku dengan selain-Ku, kutinggalkan ia dengan sekutu-Nya.”

Aku wasiatkan pula kepada tiap tholibul ‘ilm dan tiap muslim
untuk takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan merasa segala
urusannya diawasi oleh-Nya, sebagai implementasi firman Allah,
“Sesungguhnya orang-orang yang takut dengan Rabb mereka yang
tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan
pahala yang besar.” (QS Al-Mulk : 12) dan firmannya, “Dan bagi orang-
orang yang takut dengan Tuhannya disediakan dua surga.” (QS ar-
Rahman : 46).

Tuntunan Sunnah Ketika Bangun Tidur

Inilah waktu ketika membuka mata untuk memulai hari. Hendaknya kita menyadari bahwa ini merupakan nikmat Allah yang sangat besar. Karena Allah subhanahu wata'ala berkenan mengembalikan ruh ke jasad kita setelah Dia mengambilnya selama kita tidur. Artinya Allah berkenan memanjangkan umur kita, memberikan waktu kepada kita untuk mengumpulkan amal shalih, memperbaiki kesalahan dan mengejar kembali apa-apa yang terluput. Tentu saja ini merupakan nikmat yang benar benar harus kita syukuri. Dan bentuk syukur yang selayaknya kita lakukan adalah dengan meneladani sunnah-sunnah Rasululloh shallallahu'alaihi wasallam, di antaranya yaitu:

Biasakan Bangun Pagi-pagi

Yaitu ketika mendengar adzan subuh berkumandang atau kalo bisa sebelumnya. Jangan menunda nunda bangun, terlebih lagi bagi kaum pria yang di wajibkan mengerjakan shalat subuh berjama'ah di masjid. Sesungguhnya seorang yang terlambat bangun di pagi hari telah terluput dari banyak sekali mashlahat dan manfaat serta menyia-nyiakan waktu yang penuh berkah. Sebab Rasulullah shallallahu'alahi wasallam telah memohonkan keberkahan bagi umatnya di waktu pagi. Shakr al-Ghamidi berkata, Rasulullah shallallahu'alahi wasallam bersabda:
"Ya Allah, berkahilah umatku pada pagi harinya." ( HR.Ahmad (IV/4735), Abu Dawud (2606), At-Tirmidzi (1212), dan ia menghasankannya, Ibnu Majah (2236), serta Ibnu Hibban(4735), silahkan lihat kitab shahihul jami' (1300).)

Apabila Rasulullah shallallahu'alahi wasallam mengirim pasukan atau datasemen maka beliau maka beliau melepasnya pagi hari. Dan Shakr (perawi hadist) adalah seorang pedagang. Ia biasa mengirm dagangannya di pagi hari. Dan ia memperoleh keuntungan dan melimpah ruah hartanya.

Dalam riwayat lain di sebutkan dengan redaksi:
"Di berkati ummatku pada pagi harinya." Lihat shahihul Jami' nomor(2841)


Usaplah Wajah Dengan Telapak Tangan Sebelum Beranjak Dari Tempat Tidur

Tujuannya untuk menghilangkan kantuk dan menghapus bekas-bekas tidur. Itulah yang biasa di amalkan Rasulullah shallallahu'alahi wasallam berdasarkan riwayat Ibnu Abbas radhiallahu'anhu, ia berkata:
"Aku bermalam di rumah bibiku Maimunah radhiallahu'anha ,… kemudian Rasulullah shallallahu'alahi wasallam bangun, lalu beliau mengusap wajah dengan tangannya. Setelah itu beliau membaca sepuluh ayat terakhir surat Ali Imraan." (HR.Al-Bukhari (4570) dan Muslim (763).

Mengusap wajah sesudah bangun tidur ini sangat banyak manfaatnya. Banyak kasus orang-orang jatuh di kamar mandi sesudah bangun dari tidur di sebabkan tidak mengamalkan sunnah Nabi ini, wallahul musta'an.


Jangan Lupa Berdo'a

Diantara dzikir yang shahih di riwayatkan dari Rasulullah shallallahu'alahi wasallam adalah:
"- ((اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ)).
“Segala puji bagi Allah, yang menghidupkan kami setelah mematikan kami dan kepadaNyalah kami dikumpulkan.”1
(HR.Al-Bukhari (6312) dan Muslim (2710).)
- ((اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ فِيْ جَسَدِيْ، وَرَدَّ عَلَيَّ رُوْحِيْ، وَأَذِنَ لِيْ بِذِكْرِهِ)).
“Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesehatan pada jasadku dan mengembalikan ruhku kepadaku serta mengizinkanku untuk berdzikir kepadaNya.”2
(HR.Tirmidzi (3401) dan ia menghasankannya. Silahkan lihat kitab shahihul jami' (329).)


Bersiwak Dan Cucilah Tangan Tiga Kali

Siwak berfungsi menyegarkan mulut dan menghilangkan bau tak sedap di sebabkan tidur. Ini merupakan bukti ke teladanan Rasulullah shallallahu'alahi wasallam dalam menjaga kebersihan dan kesehatan. Sebagai mana yang di sebutkan dalam hadist:
"Tidaklah beliau tidur kecuali siwak berada di dekat kepalanya. Jika terbangun beliau mulai dengan bersiwak." (HR.Ahmad (II/117). Silahkan lihat kitab shahih al-jami' (4872).)

Demikian pula, bangun tidur jangan lupa cuci tangan tiga kali sebelum sebelum memasukkan tangan ke dalam bejana atau menyentuh benda-benda yang basah atau terhormat. Ini nerupakan adab yang di contohkan oleh Rasulullah shallallahu'alahi wasallam. Karena orang yang tidur kadang-kadang menyeka keringat atau menggaruk badannya. Bahkan terkadang tanpa sadar ia menyentuh kemaluan atau tempat-tempat yang kotor. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu'alahi wasallam bersabda dalam sebuah hadist:
"jika salah seorang dari kalian bangun dari tidur, maka janganlah ia menyelupkan tangannya kedalam bejana hingga mencucinya tiga kali. Sesungguhnya ia tidak tahu dimanakah tangannya berada tadi malam." (HR.Al-Bukhari (162) dan Muslim (278).)


Berwudhu' Disertai Intinsyaaq dan Intinsyar Tiga Kali

Intinsyaaq artinya bersungguh-sungguh memasukkan air ke hidung dan Intinsyar adalah mengeluarkannya kembali tiga kali ketika berwudhu. Fungsinya untuk mengusir setan, menghilangkan kantuk dan mengusir rasa malas. Rasulullah shallallahu'alahi wasallam bersabda:
"Jika salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya, hendaklah ia berwudhu' dan berintinsyar sebanyak tiga kali, karena sesungguhnya setan bermalam di lubang hidungnya." (HR.Al-Bukhari (3295) dan Muslim (238).)


Jangan Lupa Membereskan Tempat Tidur

Sesungguhnya islam adalah agama yang mengajarkan hidup bersih dan teratur. Dan Allah adalah Dzat yang menyukai keindahan. sulullah shallallahu'alahi wasallam bersabda:
"Allah itu maha indah dan menyukai keindahan." (HR.Muslim (I/65-nomor 275).)

Maka tidak selayaknya seorang muslim meninggalkan tempat tidurnya dalam keadaan acak-acakan, kotor dan berantakan seperti kapal pecah.

Ampunan & Dosa

Allah Ta'ala berfirman: "Dan mohonlah pengampunan - kepada Allah – kerana dosamu." (Muhammad: 19)

Allah Ta'ala berfirman pula: "Dan mohonlah pengampunan kepada Allah, sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Penyayang." (an-Nisa': 106)

Allah Ta'ala juga berfirman: "Maka mahasucikanlah dengan mengucapkan puji-pujian kepada Tuhanmu dan mohonlah pengampunan kepadaNya, sesungguhnya Tuhan itu adalah Maha Penerima taubat." (an-Nashr: 3)

Allah Ta'ala berfirman pula: "Bagi orang-orang yang bertaqwa adalah beberapa syurga di sisi Tuhan mereka yang di bawahnya itu mengalirlah beberapa sungai," sampai pada firmanNya: "Dan orang-orang yang memohonkan pengampunan di waktu pagi." (ali-lmran: 15)

Allah Ta'ala berfirman lagi: "Dan barangsiapa yang mengerjakan keburukan atau menganiaya dirinya sendiri, kemudian memohonkan pengampunan kepada Allah, maka ia akan mendapatkan Allah itu adalah Maha Pengampun lagi Penyayang." (an-Nisa': 110)

Allah Ta'ala juga berfirman: "Tidaklah Allah itu akan menyiksa mereka, selagi engkau -Muhammad - masih ada di kalangan mereka. Allah juga tidak akan menyiksa mereka, selagi mereka itu masih suka memohonkan pengampunan." (al-Anfal: 13)

Allah Ta'ala berfirman lagi: "Dan orang-orang yang apabila melakukan kejahatan atau mengianiaya dirinya sendiri, mereka lalu ingat kepada Allah, kemudian memohonkan pengampunan kerana dosa-dosa mereka itu. Siapakah lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa itu selain Allah? Dan mereka tidak terus-menerus mengulangi perbuatan yang jahat itu, sedang mereka mengetahui."' (ali-lmran: 135)


1.) Dari Anas bin Malik radhiallahu'anhu berkata,"Aku mendengar Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda bahwa Allah subhanahu wata'ala berfirman,"Wahai anak Adam, selama kamu berdoa dan berharap kepada- Ku, maka Aku mengampuni dosa-dosa lampaumu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, meski dosamu sepenuh langit, namun bila kamu meminta ampun kepada-Ku, pastilah Ku ampuni dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, meski kamu datang kepada Ku dengan dosa sepenuh bumi namun bila kamu menemui-Ku tanpa syirik kepada-Ku, maka Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh itu juga. (HR. At-Tirmizy).

2.)Ibnu abbas radhiallahu'anhu. berkata bahwa rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda' sesungguhnya Alloh subhanahu wata'ala mengampuni beberapa kesalahan umatku yang disebabkan keliru ,lupa, dan karena dipaksa' (Hadist Hasan ini diriwayatkan oleh ibnu Majjah, Baihaqi dan lain-lain)

3. Dari abu hurairah radhiallahu'anhu dari nabi shallallahu'alaihi wasallam dalam menceritakan wahyu yang diterimanya dari tuhannya yang maha pemberi berkah lagi maha luhur, beliau bersabda; Seorang hamba berdosa, kemudia ia berdoa; Ya Alloh ampunilah dosaku, ; maka Alloh yang maha pemberi berkah lagi maha luhur berfirman" Hamba-Ku berbuat dosa kemudian ia mengetahui bahwa ia mempunyai tuhan yang mengampuni dosa dan akan menuntut dosanya ,
kemudia ia melakukan dosa lagi dan berdoa; ya tuhanku ampunilah dosaku; maka Alloh yang maha pemberi berkah dan maha luhur berfirman; HambaKu berbuat dosa kemudia ia mengetahui b ahwa ia mempunya tuhan yang mengampuni dosa dan akan menuntut dosanya;
kemudian ia melakukan dosa lagi dan berdoa; ya tuhanku ampunilah dosaku, maka Alloh yang maha pemberi berkah lagi maha luhur berfirman; Hamba-Ku berbuat dosa kemudia ia mengetahu, bahwa ia mempunya tuhan yang mengampuni dosa dan akan menuntu dosanya, Aku benar-benar memberi ampunan kepada Hamba-Ku, maka hendaklah ia berbuat menurut apa yang dikehendakinya (HR.Bukhari dan muslim)

4. Dariabu hurairah radhiallahu'anhu , ia berkata; Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda" Demi zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya , andaikan kalian tidak berdosa, Alloh pasti akan memusnahkan kalian dan mendatangkan kaum yang berdosa kemudia mereka memohon ampunan kepada Alloh, maka Alloh pun mengampuni dosa mereka (HR.Muslim)

5. Dari ibnu umar radhiallahu'anhu, ia berkata ; saya mendengar rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda; di hari kiamat , orang mukmin didekatkan kepada tuhannya , kemudia memberikan perlindungan kepada nya dan bertanya; Tahukah kamu dosa ini ? orang mukmin itu menjawab ; wahai tuhanku saya tahu ; Tuhan berfirman ; "Sesungguhnya Aku telah menutup-nutupi dosamu di dunia, dan sekarang Aku ampuni dosa-dosamu itu, kemudian diberikan kepadanya catatan amal-amal kebaikannya (HR.Bukhari dan Muslim)

6. Dari ibnu mas'ud radhiallahu'anhu, ia berkata ; ada seorang laki-laki mencium seorang wanita kemudia ia menghadap nabi shallallahu'alaihi wasallam dan menceritakan kepada beliau tentang apa yang telah ia kerjakan, kemudian turunlah firman Allah ta'ala; AQIMISH SHALATA THARAFAYIN NAHAARI WA ZULAFAN MINALLAILI INNAL HASANAATI YUDZIBNAS SAYYIATI (Dan dirikan lah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan malam, sesungguhnya perbuatan -perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk,) orang itu bertanya ; Wahai rasulullah apakah ini hanya untuk saya ? Beliau menjawab ; untuk semua umatku ((HR.Bukhari dan muslim)

7.Dari Abu Said dan Abu Hurairah radhiallahu 'anhuma dari Nabi shallallahu'alaihi wasallam., sabdanya:
"Tidak suatu pun yang mengenai seseorang muslim - sebagai mushibah - baik dari kelelahan, tidak pula sesuatu yang mengenainya yang berupa kesakitan, juga kesedihan yang akan datang atau pun yang lampau, tidak pula yang berupa hal yang menyakiti - yakni sesuatu yang tidak menepatii kehendak hatinya, ataupun kesedihan - segala macam dan segala waktunya, sampai pun sebuah duri yang masuk dalam anggota tubuhnya, melainkan Allah menutupi kesalahan-kesalahannya dengan sebab apa-apa yang mengenainya-yakni sesuai dengan mushibah yang diperolehinya- itu." (Muttafaq 'alaih)

Mudah2an Allah mengampuni dosa2 kita semua..Amiin

Jadikan Setiap Amal Bernilai Ibadah

Para ulama' menjelaskan bahwa ibadah meliputi segala sesuatu yang di sukai dan diridhai Allah berupa perkataan dan perbuatan yang lahir maupun batin. Segala aktivitas kita sehari hari bisa bernilai ibadah.
Dalam sebuah hadist Rosululloh shallallahu'alaihi wasallam bersabda:
"dan mendatangi istri adalah shadaqah." HR.Muslim

Dalam hadist yang lain beliau bersabda:
""sesungguhnya, tidaklah engkau mengeluarkan nafkah dengan mengharap wajah Allah kecuali engkau di ganjari pahala atasnya hingga sesuatu yang engkau suapkan ke dalam mulut istrimu." HR.Bukhori

Dalam kitab Fathul Baari, Al-Hafizh Ibnu Hajar menukil perkataan An-Nawawi rahimahullah:
"Faidah yang ingin di petik dalam hadist ini adalah sabda Nabi,"mengharap-yakni mencari-wajah Allah." Dari situ imam An-Nawawi menarik sebuah faidah: suatu aktifitas bilamana bersesuaian dengan kebenaran maka tidaklah mengurangi nilai pahalanya (bila niatnya adalah ibadah). Sebab menyuapkan makanan ke mulut istri biasanya dilakukan saat bercanda dengannya. Tentu saja hal tersebut bercampur dengan nafsu syahwat. Namun demikian, bila tujuannya mengharap pahala Allah, niscaya ia akan memperoleh pahalanya dengan karunia Allah subhanahu wata'ala.

Ibnu Hajar rahimahullah melanjutkan,"Dalam hadist lain di sebutkan lebih gamblang lagi dari sekedar menyuapkan tangan kemulut istrinya, yaitu hadist yang di riwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu dzar radhiallahu'anhu, di sebutkan, Dan berhubungan intim dengan istrinya juba terhitung sedekah.!"

Para sahabat bertanya,"Wahai Rosululloh,apakah seseorang melampiaskan syahwatnya juga mendapat pahala?"

Rosululloh shallallahu'alaihi wa salllam berkata,"Bagaimana menurut kalian bila ia melampiaskannya pada perkara yang haram?"

Imam An-Nawawi rahimahulloh melanjutkan: "Jika demikian keadaannya –yakni dalam perkara yang di kehendaki oleh hawa nafsu- tentu lebih layak bila ganjaran pahala itu di berikan atas perkara yang tidak di kehendaki oleh hawa nafsu!?"

Beliau melanjutkan,"Perumpamaan dengan dengan menyuapkan tangan ke mulut istri tujuannya untuk lebih mempertegas kaidah ini. Sebab, bilamana menyuapkan tangan ke mulut istri sekali suap aja udah berpahala, tentu pahala lebih layak di berikan kepada kepada siapa yang memberi makan orang orang yang membutuhkan makanan, atau mengerjakan amalan ke taatan yang tingkat kesulitannya lebih besar daripada sesuap nasi yang di berikan kepada seorang istri, yang tentu saja nilainya lebih rendah."

Lebih dari itu dapat dikatakan,"Jikalau pahala di berikan kepadanya karena ia telah memberi makan istrinya, yang tentunya ia memperoleh keuntungan darinya. Sebab makanan itu akan membuat tubuh istrinya tampak lebih cantik. Dan biasanya nafkah yang ia berikan kepada istri lebih banyak di dorong dari faktor nafsu. Tentu berbeda dengan bersedekah kepada orang lain yang lebih banyak menuntut pengorbanan, wollohua'lam.

Dari perumpamaan di atas dapat di tarik sebuah kesimpulan bahwa seluruh perbuatan mubah yang kita lakukan seperti tidur, makan, mencari rezki, dan yang lainnya bisa di jadikan sebagai bentuk ibadah dan pendekatan diri kepada Allah subhanahu wata'ala, sehingga dengan cara itu seorang muslim bisa mendapatkan beribu ribu kebaikan dengan syarat niatnya untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Dan semua perbuatan yang kita lakukan itu akan semakin bertambah nilai pahala dan keutamaannya apabila kita bersungguh sungguh menerapkan sunnah sunnah Rosululloh shsllallahu'alaihi wasallam sebagai bukti cinta kita kepada beliau dan ittiba' kita yang tulus kepada ajaran beliau shallallahu'alaihi wasallam.

Dari buku Panduan Amal Sehari Semalam
Penulis : Abu Ihsan Al Atsari
Penerbit : Pustaka Darul Ilmi

HUKUM MENUTUP MUKA BAGI WANITA

Fatwa Syaikh bin Baz rahimahullah:


Pertanyaan:
Apakah menutup muka hukumnya wajib bagi wanita atau tidak? Apa dalil dari Al Qur'an dan sunnah-nya?

Jawaban:
Menurut pendapat yang terkuat, hukum menutup muka bagi wanita adalah wajib
ketika ada seseorang laki-laki yang bukan mahramnya, karena muka tersebut termasuk dalam pengertian perhiasan yang disebut oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an. Firman Allah SWT:
"Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka
(QS.an-Nur:31)

Allah SWT berfirman:
Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang Mukmin, "Hendaklah mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. "Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal karena itu mereka tidak diganggu dan Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang (QS.al-Ahzab:59)

Menurut Ummu Salamah, ketika ayat ini turun "hendaklah mereka mengulurkan
jilbabnya ke seluruh tubuh mereka", wanita-wanita Anshar keluar sambil menutupi kepala mereka dengan kain penutup hitam.(Hadits Shahih, Sunan Abu Daud, hadits no.1401, dalam pembahasan tentang al-Dar, 5/221 didukung pula oleh Abd al-razak Abd Ibn Hamid, Ibn al-Munzir, Ibn Abi Hatim, Ibn Mardawaih, al Albani menilai hadits ini shahih, dalam pembahasan Hijab al-Mar'ah al-muslimah).

Muhammad ibnu Sirin berkata, "Saya pernah bertanya kpd Ubaidah al-salmani tentang firman Allah SWT "hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka", maka ia
menjawab sambil ia memperagakan cara mengenakan jilbab tersebut, yakni ia menutup wajah dan kepalanya serta meninggalkan mata kirinya tetap terbuka. (Shahih diriwayatkan oleh at-Thabari dalam Tafsir-nya 22/33, ia mengupas dalam pembahasan tentang al-Dar 5/221 di dukung al-Faryabi, Abd ibn Hamid, Ibn al-Munzir, serta ibn Abi Hatim).
Allah SWT telah menjelaskan hakikat dan hikmah di balik suruhan tersebut dalam firman Nya "Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal karena itu mereka tidak diganggu", maksudnya perbuatan menutup muka tsb lebih membuat mereka aman, terpelihara dan terjaga dari buka-bukaan dan supaya tidak ada orang yang akan mengganggunya dengan tujuan tdk senonoh dan niat buruk lainnya.

Jilbab wanita adalah baju wanita yang melilit badan dan panjang sampai ke paha, Allah SWT telah berfirman: ”Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.” (QS.an-Nur:31)

Khimar adalah penutup kepala wanita, seperti sorban bagi laki-laki. bagian tengah nya sengaja dilubangi atau dibiarkan terbuka, berguna sebagai tempat memasukkan kepala bila seseorang ingin memakainya dan tempat untuk mengeluarkan kepala bila ia ingin menanggalkannya. Pengertian menutup kerudung (khimar) adalah bahwa seorang wanita menjulurkan sisi tambahan dan kain penutup kepalanya ke bagian dada, leher dan kepalanya, sehingga bagian tersebut tdk terlihat sama sekali. Imam al-Bukhari tlh meriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata, 'Semoga Allah merahmati para wanita yang hijrah pertama kali, ketika Allah menurunkan firman-Nya, "Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya", mereka merobek kain yang mereka miliki untuk berkerudung dgnnya.'

At-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Mas'ud bahwa Rasulullah saw
pernah bersabda:"Wanita itu adalah aurat, maka apabila ia keluar (rumah), ia akan dikuti oleh setan".(HR.At-Tirmidzi, hadits ini kualitasnya shahih).

Shalawat tidak lupa selalu untuk Nabi kita Muhammad saw, keluarga serta sahabat nya. (Fatwa no.2666 tgl 24/10/1399H)

MEMBUKA WAJAH DAN DUA TELAPAK TANGAN

Pertanyaan:
Di dalam sebuah hadits nabi saw dikatakan bila seorang wanita telah mengalami haidh (baligh), maka yang boleh tampak dari anggota tubuhnya hanya muka dan dua telapak tangan saja. Apakah hadits ini berbicara tentang hijab? masih adakah hadits lain yang berbicara tentang kewajiban menggunakan cadar?

Jawaban:
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu daud dalam pembahasan tentang (Bagian tubuh
wanita yang boleh tampak). Ia berkata "Ya'kub ibn ka'ab al-Anthaqi telah menceritakan kepada kami, Muammal ibn al-Fadhl al-Harrani berkata, 'al-Walid
telah menceritakan kepada kami sebuah berita yang ia terima dari Sa'id ibn Basyir yang ia terima dari Qatadah dari Khalid ibn Duraik dari Aisyah ra bahwa Asma binti Abi bakar dengan pakaian yang tipis dan transparan masuk ke dalam ruangan yang didalamnya ada Rasulullah saw, maka Rasulullah saw kemudian memalingkan muka ke arah lain sambil berkata kepada Asma, "Wahai Asma bila seorang wanita telah haid(baligh), maka anggota tubuhnya tdk boleh terlihat kecuali ini, Rasulullah saw menunjuk ke muka dan tangannya".

Kualitas hadits tersebut diatas Mursal, krn Khalid ibn Duraik tidak pernah bertemu dengan Aisyah ra. Di dalam sanad ini terdapat sa'id ibn Basyir al-Azdi, ada pendapat lain menyatakan ia juga bergelar al-Bashri krn kampung asalnya Basrah-ulama hadits percaya dan menilainya tsiqah(wara' dan terpercaya). Sementara itu Imam Ahmad, Ibnu al-Madani, an-Nasa'i, Hakim dan Abu Daud menilainya dhaif (lemah). Muhammad ibn Abdullah Ibnu Umar menilai
hadits ini hadits munkar, tidak bisa dijadikan argumen, sebelumnya juga ada beberapa hadits munkar yang diriwayatkan dari Qatadah. Ibnu Hibban berkata
"Qatadah kemampuan menghafalnya buruk dan sering salah, beberapa hadits yang
diriwayatkannya tidak bisa diterima sebagai dalil. "Kesimpulannya hadits ini dhaif (lemah) dilihat dari beberapa sisi. Wabillahittaufiq. (Fatwa no...tgl 20/10/1401)

Fatwa Syaikh al-'Utsaimin rahimahullah:

MASALAH HIJAB

Pertanyaan: Masalah Hijab merupakan masalah yang selalu menjadi polemik. Mohon penjelasan Ustadz mengenai bagaimanakah sebenarnya hijab yang sesuai dengan tuntutan syari'at berdasarkan pendapat yang paling kuat argumennya?

Jawaban: Pendapat yang menurut saya paling kuat dalam masalah hijab ini yaitu setiap wanita harus menutupi setiap bagian tubuhnya yg dapat mengundang fitnah ketika terlihat oleh laki-laki. Menurut saya, bagian terpenting yang harus ditutupi dari setiap pria asing(ajnabiyy) adalah wajah. Dan sangat aneh jika ada yang ber pendapat hijab syar'i itu adalah dengan menutup rambut dan membiarkan wajahnya terbuka. Mana yang paling potensial mengundang fitnah rambut atau wajah? Biasanya laki-laki akan lebih tertarik kepada wanita yang berparas cantik walaupun rambutnya kurang bagus daripada wanita yang berparas kurang cantik walaupun rambutnya bagus. Semua orang pada dasarnya telah mengetahui hal ini.Kesimpulan nya, hijab yang sesuai dengan tuntunan syari'at adalah dengan menutup semua bagian tubuh yang dapat mengundang fitnah dan yang terpenting adalah wajah.

Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada nabi kita Muhammad saw,
para keluarganya, sahabatnya dan orang-orang yang selalu mengikuti manhajnya
yang haq hingga akhir zaman!

Semoga risalah kecil ini dapat bermanfaat buat ukhti!
Untuk lebih mengetahui lebih dalam mengenai hujjah kewajiban cadar maka ana sarankan untuk membaca buku-buku yang telah beredar dalam edisi Indonesia antara lain:
-5 Risalah Hijab (penerbit Pustaka Arafah: Ibnu taimiyah dkk).
-Wanita itu Aurat (penerbit Cendekia: Ahmad Mahmud ad-Dieb).
-Hijab dan Pakaian Wanita Muslimah dalam Shalat (penerbit Pustaka At-
Tibyan: Ibnu taimiyah)dll...

Sabtu, 05 Desember 2009

05-12-2009

Sunyi senyap dalam keputus asaan
Menghendaki tautan yang tak kunjung jelas
Menangis dalam kebingungan
Menunggu dalam segenap kemampuan

Ketika keterbukaan tak lagi berarti
Ketika kejujuran tak lagi berharga
Ketika kepercayaan tersalah gunakan
Ketika komitmen tak lagi terjaga
Ketika janji meragu terdapati
Ketika hati mulai tergoyahkan

Sakit . . .
Tetesan air mata ini memenuhi pipi
Menahan hati yang tak tenang
Terluka oleh tali kehidupan
Terluka oleh rusuk di sampingnya

05-12-2009

Sunyi senyap dalam keputus asaan
Menghendaki tautan yang tak kunjung jelas
Menangis dalam kebingungan
Menunggu dalam segenap kemampuan

Ketika keterbukaan tak lagi berarti
Ketika kejujuran tak lagi berharga
Ketika kepercayaan tersalah gunakan
Ketika komitmen tak lagi terjaga
Ketika janji meragu terdapati
Ketika hati mulai tergoyahkan

Sakit . . .
Tetesan air mata ini memenuhi pipi
Menahan hati yang tak tenang
Terluka oleh tali kehidupan
Terluka oleh rusuk di sampingnya

Senin, 11 Mei 2009

10 mei '09 17:48

Malam seperti mimpi.
Siang seperti mimpi.
Setiap waktu seperti mimpi.
Hatiku sedang bermimpi.

Ya,kata yang pantas
Tersandang di tembok kamar kecilku.

Sakit rasanya menghadapi semua ini.
Perih rasanya menjalani semua ini.
Ingin aku kembali pada diriku yang mungil.
Tapi,apa daya Dia memutuskan ini.
Apa jua Dia memberikan ini semua.

Seolah semua terasa maya.
Kenapa jua tak Kau persatukan kami sekarang saja?
Betapa Engkau merahasiakannya pada kami.
Apa gerangan yang harus ku ambil?
Semua tak dapat aku sentuh.

Ahh, . . ,
Menatap indahnya memori lusa.
Sakit terasa dimasa sekarang.
Apa yang harus aku lakukan?
Terlepas dari kehidupanku.
Aku tidur pada pukul 10:47.
Tidur panjang bersama cintaku.
Hingga kapan, ada akhwat membangunkanku.
Yang akanku cinta&ku sayang.
Semoga dia jadi milikku.
Wahai rusuk sejatiku.
Amiin Amiin Ya Robbal Alamiin.

Ku lakukan semua ini untukmu adik.untuk menyelamatkan semua.karena aku telah sangat lelah dg keputusan itu.siapa yg akan membangunkan ku,ia lh orang yg mengerti aku.

Sabtu, 02 Mei 2009

02 mei 2009

Ku tarik nafasku&ku helakkan.karena menahan rasa sakit ini.
Entah berapa kali aku memberi tahu dan mengingatkan.tapi kenapa,kenapa masih saja begini.jujur aku sakit sekali.kenapa engkau tidak membicarakannya dulu dg aku.jika memang waktu yg mendesak,kenapa kau tidak pilih yg tidak akan menyakiti aku.knapa?
Engkau tidak ijin kepadaku. Lantas kau anggap apa aku ini.
Sesekali ku pejamkan mata ini karena air mata yg tak henti-henti.
Ya Allah,kuatkanlah aku.berilah petunjuk padaku. Kenapa kau tidak menjaga hatiku. Seharian ini jg kau tidak menghubungiku.apa karena itu jg?
Menangis,marah,sedih,toh buatku tak ada guna jg. Sayatan ini akan terus tersimpan sampai kau hapus dg bukti pengabdianmu.
Aku harap kau tidak mengulanginya lagi. Karena hal seperti ini sama saja kau lebih mengutamakan orang lain dari pada diriku. Afwan

Selasa, 07 April 2009

ದ'I

Ya Muqollibal Qulub Tsabbit qolbi ‘alad diinik…
Ya Muqollibal Qulub Tsabbit qolbi ‘alad da’watik…

Love is a give (Cinta adalah berkah)…
Bahkan salah seorang ikhwah mengatakan:
Love is the essence of life (Cinta adalah inti sari kehidupan)…
Cinta Allah yang membuat bumi ada…
Cinta Allah yang membuat sang surya bersinar…
Cinta antar manusia yang membuat hidup tenteram dan nyaman…
Ketika kita mencintai, tidak ada kata pamrih disana…
Yang ada hanya memberi tanpa mengharap menerima

Mirip seperti itulah hakikat menjadi da’I…
Dia harus siap mengorbankan hidup dan matinya demi da’wah…
Dia selalu memberi utk Islam, tanpa mengharapkan menerima utk setiap kerja da’wahnya…
Itulah ikhlash…
Siap menjadi jundi dan pada saat yang sama siap menjadi qiyadah…
Siap mengeluarkan uang utk da’wah…
Siap mengeluarkan tenaga utk da’wah…


Jika Allah telah menentukan jodoh utk kita, bahkan sebelum kita lahir,
Mengapa kita takut menjadi perawan tua atau jejaka jomblo…?
Masih panjang langkah da’wah kita…
Masih begitu banyak lahan da’wah yang belum kita jamah…
Ada satu hal yang akan datang dengan sendirinya pada anda, yaitu Jodoh…
Sehingga jangan sampai hal ini membuat kita ragu akan janji Allah pada kita…
Jangan sampai da’wah kita berpenyakit hanya karena masalah ini…
Sangat cengeng dan kekanak-kanakan,
Bila sampai ada aktivis da’wah yang terjangkiti hal ini (VMJ: Virus Merah Jambu)…

Da’wah adalah sesuatu yang suci…
Qod aflaha man zakkaha (Beruntunglah orang yang membersihkan diri)…
Wa qod khoba man dassaha (Dan celakalah orang yang mengotori dirinya)…

Sehingga orang yang berhak dan akan bertahan dalam jalan ini,
Adalah orang yang niat ikhlash membersihkan dirinya…
Dia ikut tarbiyah dengan keikhlashan,
Bukan karena ingin menikah dengan akhwat berjilbab…

Dia beraksi dan berdemonstrasi utk menyuarakan yang haq didepan penguasa yang zholim (HR Bukhori Muslim)…

Bukan ingin ketenaran…
Dia berda’wah ingin menuju Jannah-Nya,
Bukan ingin mendapatkan jabatan, fans atau lainnya…

Ingat ikhwan wa akhwat fillah,
Seperti disampaikan Ust. Amirudin:
Utk ikhwan…
Bila anda istiqomah di jalan da’wah ini,
Bidadari telah menanti anda di syurga nanti…
Utk Akhwat…
Bila anda istiqomah di jalan da’wah ini,
Anda lebih baik dari bidadari yang terbaik yang ada di syurga…

Kebenaran hakiki hanya milik Allah …
Dan di yaumil qiyamah kelak akan ditentukan
kebenaran akan hal2 yang kita perdebatkan…

LENTERA

Lentera Mungil Penerang Hati
Kabut kelam terasa mengaburkan pandangan
Kelamnya mendung di hati terasa lebih menyesakkan
Perlahan tapi pasti menutupi nurani,
menafikan kebenaran, merasuk ke relung hati
Hingga akhirnya menutupi pintu hidayah yang penuh kesucian
Akhirnya lentera mungil itu datang menghampiri
Menyibakkan kelamnya mendung di hati manusia,
yang telah diselimuti tebalnya nafsu duniawi
Langkahnya pelan, namun nyalanya terang
Terkadang singgah sejenak ‘tuk mengisi kembali minyaknya
Entah sampai kapan lentera itu mampu bertahan
Di tengah kelamya awan hitam, di tengah angin malam
yang dingin menusuk tulang
Kucoba menghampiri nyala apinya
Semakin dekat kutemukan kehangatan disana,
kudapatkan senyuman tulusnya,
dan kurasakan betapa cerahnya cahaya Ilahi
I. Pengertian Dakwah Sya’bi
Dakwah adalah setiap usaha untuk mengajak kepada manusia membebaskan diri dari segala penghambaan kepada makhluk kemudian menyerahkan segala bentuk penghambaan hanya kepada Allah semata, Rabb semesta alam. Sya’bi dari kata Sya’bu-syu’uubu artinya kaum, bangsa, masyarakat umum dan awam1. Jadi dakwah Sya’bi adalah dakwah yang ditujukan kepada masyarakat umum yang bertujuan agar mendukung dan melaksanakan nilai-nilai Islam dalam kehidupan mereka, sehingga peran da’i Sya’bi yaitu mengajak masyarakat umum/awam untuk berislam secara paripurna (kaaffah). “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolonganyang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”(QS ; Al-Mujaadilah ; 22).
Merekalah yang termasuk manusia minoritas dalam masyarakatnya namun teguh pendiriannya untuk senantiasa berusaha menjalankan kehidupan yang Islami ( model manusia Hizbullah). Dalam dakwahnya para da’i Sya’bi berdakwah kepada masyarakatnya yang terbagi menjadi dua model/tipe manusia.
1. Manusia awam
Komunitas masyarakat yang termasuk model manusia ini ibarat buih yang mudah terombang-ambing oleh berbagai macam paham atau gaya hidup, misalnya gaya hidup sekuler. Sama persis tatkala kondisi masyarakat Makkah sebelum nubuwah kenabian Rasulullah SAW. Suatu ketika Amr bin Luhay, pemimpin Bani Khuza’ah melancong ke Syam (negeri Palestina dan sekitarnya) kemudian di sana dia melihat penduduk Syam yang menyembah berhala dan menganggap hal itu sesuatu yang baik serta benar. Logika di dalam benak Amr bin Luhay membenarkan itu semua mengingat negeri Syam pada saat itu sebagai salah satu pusat peradaban yang maju di jazirah arab. Selain itu, Syam sebagai negeri kelahiran para nabi. Maka dia pulang sambil membawa Hubal dan meletakkannya di dalam Ka’bah. Setelah itu dia mengajak penduduk Makkah untuk membuat persekutuan terhadap Allah. Orang-orang Hijaz pun banyak yang mengikuti penduduk Makkah, karena mereka dianggap sebagai pengawas Ka’bah dan penduduk tanah suci. Kemudian mereka membuat Lata di Tha’if dan Uzza di Wady Nakhlah. Inilah tiga berhala yang paling besar. Begitulah kisah kemusyrikan dan penyembahan terhadap berhala, yang menjadi fenomena terbesar dari agama orang-orang Jahiliyah, yang menganggap dirinya berada pada agama Ibrahim.
Hal serupa dengan zaman yang berbeda terjadi saat ini. Episode yang sama dengan jam tayang yang berbeda sedang diputar sampai saat ini. Masyarakat awam sampai saat ini belum merasakan sejuknya hidup di bawah naungan sesungguhnya dari kehidupan Rasulullah SAW. Mereka mengira bahwa berbagai paham ataupun gaya hidup serba kebarat-baratan seolah-olah sebagai rujukan terbaik. Dari sekulerisme, feminisme, nasionalisme semu maupun isme-isme lainnya merebak di mana-mana sehingga telah menghempaskan kaum muslimin terbenam semakin dalam ke dalam kubangan jahiliah modern. Ditambah lagi, saat ini telah bermunculan Amr bin Luhay-Amr bin Luhay baru yang pernah melancong ke Amerika kemudian mendapati gaya hidup baru ala negeri barat, setelah pulang ke negerinya lalu dia taburi tanah kelahirannya dengan racun-racun yang mematikan hati itu. Dari hingar-bingar diskotik lengkap dengan artis pujaannya, vodka murahan yang memabukkan, sampai free sex yang memuakkan. Orientalis Syatulyn dalam bukunya Al- Gharaha Alal ‘Allamil Islami berkata, “ Gelas dan artis mampu menghancurkan umat Muhammad daripada seribu meriam. Maka tenggelamkan umat Muhammad ke dalam cinta materi dan syahwat “. Akhirnya episode imperialisme modern laris manis menggilas peradaban dunia timur.
Kini terbuktilah apa yang telah dikhawatirkan Rasulullah Saw. empat belas abad silam. Rasulullah Saw. bersabda, Dikhawatirkan bahwa berbagai bangsa akan memperebutkan kalian, sebagaimana orang-orang lapar memperebutkan makanan. Mendengar hal itu para sahabat bertanya, “Apakah karena kita sedikit, wahai Rasulullah?”, “Tidak, bahkan kalian waktu itu mayoritas, akan tetapi kalian adalah buih layaknya buih air bah. Allah akan mencabut rasa takut dari dada musuh kalian dan menimpakan wahn kepada
kalian, “jawab Rasulullah Saw. “Apakah wahn itu, wahai Rasulullah?” tanya para sahabat. Rasul menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud).
2. Manusia Virus (Hizbusyaiton)
Pasca perang salib, para pemimpin eropa berpikir keras mencari cara yang paling tepat untuk menyerang dunia Islam. Mata penglihatan bangsa Eropa hingga detik ini tetap mengincar dengan rakus dunia Islam hingga memungkinkan mereka masuk ke dunia Islam dan berdomisili di dalamnya. Semangat mereka untuk mencapai target tersebut dimotivasi faktor politis, ekonomi dan religius.
Imperialisme modern banyak mengambil pelajaran dari perang salib. Pada perang salib, negara-negara eropa melihat kekuatan Islam sebagai penghalang yang sulit diatasi. Islam adalah roh yang membangkitkan kehidupan dan perasaan tanggung jawab terhadap kaum muslimin.
Tujuan utama imperialisme modern teringkas dalam point-point berikut:
1. Menaklukkan Islam yang merupakan kekuatan penyeru pembebasan dan perlawanan melawan musuh.
2. Menghancurkan khilafah yang merupakan simbol tempat kaum muslimin bersatu guna membela Islam.
3. Membuka lahan baru untuk memasarkan hasil industri yang meledak pasca kebangkitan industri.
4. Memperluas jangkauan negara imperialis.
5. Mengambil aset negara jajahan.
6. Memanfaatkan potensi rakyat negara jajahan untuk kepentingan negara-negara imperialis.
Keinginan menguasai dunia Islam tidak pernah hilang dari memori bangsa Eropa. Pemikiran untuk bisa menembus dunia Islam menjadi perhatian khusus para pemimpin Eropa.
Mereka itulah model manusia Virus (Hizbusyaiton) yang selalu siap siaga menebarkan virus-virus keangkuhan seantero jagad sebagaimana kufurnya para ahlul kitab dahulu terhadap ajaran Rasulullah Saw.
“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS ; Al-Maa’idah ; 67).
II. Urgensi Dakwah Sya’bi
Berikut ini akan dipaparkan mengenai tiga arti penting dakwah sya’bi :
1. Ri’ayah mashalih ijtima’iyah (memelihara kepentingan publik)
Umar bin Khattab selalu memberikan advokasi kepada orang-orang yang lemah untuk mendapatkan keadilan hukum dari faktor kekuatan politik dan hukum. Ketika salah seorang putra Gubernur Mesir Amr bin Ash menampar seorang penunggang kuda yang tidak sengaja telah menyenggol kudanya. Orang itu mengadukan hal tersebut kepada Umar bin Khattab r.a. Kemudian, Umar segera memanggil putra Amr bin Ash. Kemudian memperingatkan perlakuan kasar tersebut seraya berkata, “Mataa ista’badtannaas waqad waladathum ummahaatuhum ahraaran. Artinya, Sejak kapan engkau memperbudak manusia sedangkan mereka dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan merdeka.”
Dari gambaran kisah di atas, dapat disimpulkan bahwa kewenangan politik dapat memberikan keputusan yang berpihak kepada masyarakat dan membela rasa keadilan mereka di depan hukum sehingga kepentingan publik mampu terakomodasi dengan baik. Seseorang yang telah memperoleh kewenangan politik baik di tingkat legislatif, eksekutif maupun yudikatif, sepanjang ia selalu berusaha melahirkan kebijakan publik yang berguna bagi kemaslahatan dan cita rasa keadilan, maka ketokohan dirinya akan mendapatkan respon luas dari masyarakatnya, sehingga rakyat semakin segan, simpatik dan memberikan dukungan moral kepadanya. Disinilah peran seorang kader untuk mampu memberikan kontibusi bagi kemajuan masyarakatnya sebagai wujud tanggung jawab seorang pemimpin terhadap kaumnya.
5
Seorang da’i (kader dakwah) secara alamiah adalah sebagai pemimpin bagi kaumnya. “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang–orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat–ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al – Kitab dan Al–Hikmah . Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan nabi) itu, mereka adalah benar – benar dalam kesessatan yang nyata.”(QS ; Ali–Imron ; 164). Sehingga suatu ketika bila masyarakat membutuhkan penyaluran dana APBD, kitalah agennya. Apabila masyarakat kesulitan mencari guru ngaji atau penceramah, kitalah orangnya. Apabila ibu-ibu PKK kehabisan akal untuk memajukan organisasinya, POSWEKA-lah yang semestinya pro-aktif memajukannya. Semuanya itu bertujuan untuk menciptakan bi’ah (lingkungan) yang senantiasa terbingkai dengan nilai-nilai keislaman.
2.Fi Siyaghatu al-bina al-ijtima’I (membentuk bangunan sosial)
Dalam kehidupan bermasyarakat, terdapat beberapa segmentasi aktivitas sosial. Aktivitas warga masyarakat cenderung mengikuti dua golongan aktivitis di masyarakat.
Pertama ; aktivis kampung. Orang-orang yang termasuk golongan ini terdiri atas pengurus-pengurus kampung yang memiliki cita-cita untuk memajukan kampungnya. Sebuah cita-cita yang mulia tentunya. Namun, kadangkala kita menjumpai aktivitas mereka hanyalah sekedar untuk memenuhi prinsip muamalah saja. Dalam kaidah syar’i-nya aktivitas muamalah tolok ukurnya adalah nilai kemaslahatan/segi kemanfaatannya. Sehingga dalam hal ini segala macam aktivitas kemasyarakatan yang dinilai adalah aspek kemanfaatan bagi warganya. Bahkan acara pengajian kampungpun kadangkala motivasi utamanya supaya bisa berbaur dengan tetangganya. Bagi masyarakat tradisional Mereka berprinsip “pokoke urip kuwi apik karo tonggone” (hidup itu rukun bersama tetangga).
Suatu ketika di Pojok ada acara resepsi pernikahan. Kebetulan acara resepsi berada di sebelah timur masjid berseberangan dengan jalan kampung. Pada saat acara berlangsung jam menunjukkan pukul dua belas siang kurang beberapa menit, pertanda sudah masuk waktu sholat dhuhur. Pada saat itu, 6
acara resepsi pernikahan baru saja dimulai. Tanpa berpikir panjang saya langsung menghampiri pembawa acara dan penjaga sound system supaya memberikan jeda acara untuk mengumandangkan adzan. Meskipun banyak orang yang nggak sholat karena mungkin dibenak mereka beranggapan bahwa sholat disaat acara resepsi adalah perkara yang nggak umum/nggak lumrah (tidak maslahat), namun saya dan takmir dan beberapa orang akhirnya menjalankan sholat jamaah dhuhur juga. Padahal, untuk perkara sholat maupun ibadah-ibadah mahdah lainnya tolok ukurnya bukanlah kemaslahatan, melainkan asasnya adalah ketaatan kepada Allah dan ittiba’ kepada Rasulullah Saw. Bayangkan jika pada saat itu semua orang ikut acara resepsi tanpa ada salah seorang atau beberapa orang yang meluangkan waktu sejenak untuk sholat di masjid, tentunya kita akan merenungkan kembali makna dari sebuah hadist. Rasulullah Saw. bersabda, “Jika ada tiga orang di salah satu desa, atau kampung namun tidak mengadakan shalat jama’ah maka syetan berkuasa atas mereka. Oleh karena itu, hendaklah kalian selalu berjama’ah, karena serigala itu memekan kambing yang jauh (terpisah dari kelompoknya).” (Diriwayatkan Ahmad, Abu Daud, An-Nasai, dan Al-Hakim.)
Hal serupa terjadi di masa arab jahiliyah dahulu. Meskipun masyarakat arab pada saat itu diselimuti dengan kehidupan yang penuh dengan kesyirikan dan kemunkaran, namun benih-benih akhlak kebaikan masih ada pada saat itu. Misalnya, sifat kedermawanan. Mereka saling berlomba-lomba dan membanggakan diri dalam masalah kedermawanan dan kemurahan hati. Adakalanya seseorang didatangi tamu yang kelaparan pada saat hawa dingin menggigit tulang. Sementara saat itu dia tidak memiliki kekayaan apapun selain seekor onta yang menjadi penopang hidupnya. Namun, rasa kedermawanan bisa menggetarkan dirinya, lalu dia pun bangkit menghampiri onta satu-satunya dan menyembelihnya, agar ia bisa menjamu tamunya. Diantara pengaruh kedermawanan ini, mereka biasa merasa bangga karena minum khamr dan berjudi. Mereka menganggap Kedua aktivitas tersebut merupakan salah satu cara untuk mengekspresikan kedermawanan, karena dari laba judi itulah mereka bisa memberi makan orang-orang miskin, atau mereka bisa menyisihkan sebagian uang dari andil orang-orang yang mendapat laba. Oleh karena itu Al-Qur’an tidak mengingkari manfaat khamr 7
dan main judi, namun dengan membuat redaksi sebagai berikut, “Tetapi dosa Keduanya lebih besar dari manfaatnya.” (Al-Baqarah : 219). Hal ini berawal dari paradigma umum masyarakat yang menganggap bahwa “hidup itu pokoke apik karo tonggone” (Hidup rukun dengan tetangga), tanpa dilandasi asas ketaatan kepada Allah dan ittiba’ kepada Rasulullah Saw.
Untuk itulah Allah SWT mengutus Rasulullah Saw yang memiliki misi utama menyampaikan risalah dan menyempurnakan akhlak manusia. Apabila kita kaitkan dengan segmentasi kehidupan sosial masyarakat maka kalangan Kedua inilah yang dikenal sebagai aktivis masjid.
Kedua ; aktivis masjid. Dalam segmentasi kehidupan sosial, komunitas ini termasuk minim dari segi kuantitas, namun memiliki kualitas dan peran yang dominan di masyarakat. Komunitas inilah yang mengemban misi iqomatu dinnullah (menegakkan agama Allah) di muka bumi ini. Merekalah pewaris para nabi, yang mengemban misi kenabian untuk menyempurnakan akhlak manusia. “innamaa bu’itstu liutammima sholikhal akhlaq”(sesungguhnya aku diutus tidak lain hanyalah untuk menyempurnakan akhlak). HR. Baihaqi dari Abu Hurairah.
Dari ungkapan hadits di atas dapat kita gali nilai-nilai tarbawiyah yaitu : “Sesungguhnya aku diutus tidak lain hanyalah untuk…” Kata “innama” secara bahasa memiliki makna pembatasan menurut sebagian ulama. Hal ini berarti misi Nabi Muhammad saw. tidak lain hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. Tetapi akhlak yang dimaksudkan disini tidak lain adalah agama Islam itu sendiri. Sebagaimana sabda beliau, “Agama Islam itu adalah kebaikan akhlak.” Islam berisi penjelasan dan aturan mengenai akhlak kepada Allah, akhlak kepada para nabi, akhlak kepada sesama manusia, akhlak kepada diri kita sendiri, dan akhlak kepada lingkungan sekitar kita. Kemudian arti dari “…Untuk menyempurnakan akhlak.” Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa masih ada serpihan-serpihan akhlak yang mulia dalam diri setiap manusia, betapapun jahatnya manusia tersebut. Seringkali kita mendapati sifat yang baik pada diri para penjahat seperti ; keberanian, kedermawanan, kesetiakawanan, kasih sayang, pengorbanan dan sifat-sifat kebaikan lainnya. Hanya saja sifat-sifat mulia ini kadangkala ditempatkan pada tempat yang tidak semestinya, dan didorong oleh tendensi atau motivasi tertentu yang
bukan motivasi keimanan, sehingga perlu diluruskan dan disempurnakan. Inilah tugas Rasul saw. dan tugas kita, pewarisnya. Sehingga tugas dari seorang da’i sya’bi adalah berusaha untuk membentuk bangunan kehidupan sosial sebagaimana dituntunkan oleh Rasulullah Saw.
3. Halul Qadhaya Al- Ijtima’I (memberi solusi atas problematika di masyarakat)
Dalam kehidupannya di masyarakat, para da’i sudah selayaknya dengan penuh “legowo” senantiasa mencurahkan segenap tenaga, pikiran, bahkan hartanya bagi kemajuan kaumnya. Hal ini cukup beralasan mengingat antara kita dengan masyarakat ada dua hak yang musti ditunaikan oleh seorang da’i kepada masyarakatnya yaitu hak “berukhuwah” dan hak “berdakwah”. Apabila antara sesama ikhwah kita hanya berhak menunaikan hak ukhuwah saja, namun dengan masyarakatnya para da’i dituntut untuk memenuhi juga hak dakwah kepada masyarakatnya.
Terkadang disaat-saat tenaga kita sudah “low bat” (terkuras) untuk aktivitas keseharian yang padat, justru saat itu mereka membutuhkan tenaga kita untuk mengatasi problematika ataupun keinginan masyarakat untuk mendapatkan hak ukhuwah dan hak dakwah tersebut dari kita. Misalnya, kita musti hadir ronda atau mensegerakan perawatan jenazah bila ada “sripah” di kampung. Namun, sudah selayaknya seorang da’i tidak mengeluh akan tuntutan tersebut karena kesibukan tersebut adalah ladang amal bagi kita. Cobalah kita membuka lembaran sejarah para sahabat terdahulu, misalnya keteladanan dari seorang Abu bakar. Beliau sering didatangi oleh tokoh-tokoh kaumnya untuk dimintai pendapat mengenai banyak hal. Inilah saat dimana sorang da’i dituntut sebagai pemberi solusi bagi masyarakatnya.
Apabila kita kaitkan dengan aktifitas dakwah kita misalnya pada saat musyawarah warga atau musyawarah takmir apa yang seharusnya kita lakukan dalam forum tersebut?
Pertama ; Kita musti memahami permasalahan warga secara global. Kemampuan ini dapat dimiliki oleh seorang da’i jika da’i yang bersangkutan telah mengenal medan dakwah (ma’rifatul maidani) sekaligus berinteraksi dengan medan dakwah (tafa’ul maidani) secara intensif. Dari sinilah seorang da’i dapat menilai suatu permasalahan umatnya dari berbagai macam sudut pandang. Kenapa bisa demikian?.., karena pengetahuan yang dimiliki da’i tersebut telah berubah menjadi sebuah pengalaman. Pengalaman ini diperoleh dari amal yang telah berlangsung sekian lama. Imam Al-Ghazali mengatakan, “ketika ilmu pengetahuan telah menjadi pengalaman maka disana akan bertautan antara aspek akal, emosi, cita rasa dan aspek spiritual”. Kemudian orang-orang psikologi menyebutnya dengan istilah “ESQ”. Tak heran ketika ustadz dari DPP menyempatkan berkunjung ke yogya, kita tersugesti untuk menyempatkan hadir dalam acara temu kader dengan beliau. Perasaan ini muncul karena sama-sama kita tau bahwa ilmu pengetahuan beliau telah berubah menjadi pengalaman dakwah yang berharga.
Kedua ; Selanjutnya dari point pertama diatas akan memberikan bekal bagi kita untuk “memberi solusi” atas permasalahan yang ada pada acara pertemuan tersebut. Sehingga disini seorang da”i hendaknya telah membawa solusi dari rumah untuk disampaikan ke dalam forum. Jangan sampai seorang da’i hadir di pertemuan warga dengan menyampaikan segudang permasalahan tanpa punya solusi, perilaku ini akan menjadikan blunder bagi kita karena membuat jalannya musyawarah menjadi buntu tanpa ada penyelesaian. Seharusnya seorang da’i adalah sebagai pusat rujukan bagi umatnya sehingga perlu kearifan dalam menyampaikan suatu permasalahan dan bijaksana dalam memberikan solusi. Bagi seorang da’i (baca; kader) yang tidak mengetahui permasalahan masyarakatnya (umatnya), maka tidak termasuk dalam pembahasan ini, karena kader tersebut belum bisa disebut sebagai seorang da’i. Hakikat seorang da’i adalah bahwa secara psikologis dirinya memiliki keinginan untuk merubah masyarakatnya menjadi lebih baik dengan atau tanpa intruksi dari struktur jamaah. Disinilah seorang da’i mampu berdakwah dengan penuh kesenangan karena dalam dakwahnya selalu melibatkan aspek emosi dalam hatinya.
III. Berdakwah dengan roja’ dan khouf
1. Roja’ dan Khouf Dari Segi Obyek Dakwah
Beberapa waktu yang lalu di Pojok diadakan kajian rutin malam jumat kliwon dengan tema “Dahsyatnya sakaratul maut”. Dalam acara tersebu sekaligus dilangsungkan praktek perawatan jenazah oleh ust. Wartono. Acara tersebut bermula dari keinginan bapak takmir masjid untuk menggelar praktek perawatan jenazah di pojok. Sebelumnya beliau telah mengikuti training perawatan jenazah yang telah diadakan oleh DPRa PKS Sinduadi. Mengenai konsep acara saya yang merancang seluruhnya. Dalam acara itu sengaja saya tampilkan video mengenai kondisi manusia ketika menghadapi sakaratul maut dan ketika berada di alam kubur. Ide ini terinspirasi dari kondisi terkini kampung pojok yang hanya dalam jangka waktu satu bulan terdapat lima warga pojok yang meninggal dunia. Hasilnya, keesokan harinya ada tetangga yang ketika akan tidur tidak berani mematikan lampunya bahkan sekedar mengurangi lampu yang hidup pun mereka enggan dengan alasan takut kalau-kalau ada pocongan yang nongol. Hari-hari berikutnya, alhamdulillah jamaah maghrib di masjid Al-Ilma pojok mengalami peningkatan.
Dari cerita diatas menunjukkan adanya proses “perjalanan hidayah” yang sedang berlangsung. Dalam tafsir al-Qurtubi para ulama membagi hidayah menjadi beberapa macam. Dalam kasus diatas ada dua proses perjalanan hidayah menurut para ulama.
Pertama ; Hidayatud Dien
Hidayud dien akan membimbing akal manusia, sehingga mampu membedakan antara suatu perkara yang haq maupun perkara yang dinilai batil. Dari kasus di atas terdapat ketakutan (khouf) dari beberapa warga akan datangnya maut setelah mereka menyaksikan video dan kajian tentang sakaratul maut. Mereka pada saat itu tau betapa dahsyatnya peristiwa sakaratul maut tersebut. Namun, perasaan ini tidak akan betahan lama. Perasaan takut (khouf) akan hilang dengan sendirinya ketika mereka disibukkan kembali dengan aktivitas maupun segala macam kesenangan duniawi yang mampu menjadi penghalang meresapnya hidayah sampai ke hati. Hati ibarat makhluk yang bernama ikan, ikan habitatnya ada di air. Apabila ikan ke luar dari habitatnya (daratan) maka ikan akan bolak-balik dan akhirnya terdiam (mati). Demikian pula dengan hati, habitat hati adalah tempat ataupun suasana yang memiliki nuansa ukhrawi misalnya ; masjid, mendengarkan tilawah dsbnya. Apabila hati telah keluar dari tempat maupun aktifitas ukhrawi maka hati tersebut akan bolak-balik dan bila dibiarkan maka akhirnya akan mati. Matinya
11
hati akan membuat susahnya menerima hidayah. Sehingga kita dituntunkan sebuah do’a untuk meneguhkan iman di hati kita ; “yaamuqollibal quluubi tsabit qolbii ‘aladiinika”; “Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agamaMu” (H.R. Tirmidzi dan Ahmad). Disinilah perlunya metodologi dakwah untuk meneruskan ke jenjang hidayah yang mampu meresapkan hidayah ke lubuk hati yang terdalam. Maka hidayah selanjutnya yaitu hidayatut taufiq.
Kedua ; Hidayatut Taufiq
Hidayatut taufiq apabila telah tertanam dalam hati seseorang maka akan menjadikan orang tersebut mampu menakar segala macam aktivitasnya dalam pandangan agama. Selain itu, segala macam aktivitas ibadahnya bermula dari kesadaran individu. Saat inilah perlu dimunculkan perasaan harapan (roja’) akan segala macam keutamaan (fadhilah) beribadah kepada Allah dengan imbalan yang tidak ternilai yaitu surga. Kata kunci untuk mendapatkan hidayatut Taufiq adalah “kesungguhan” (mujahadah) dalam menjalani segala macam aktivitas ibadah. Dalam salah satu ayat disebutkan ;
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S ; Al-Ankabut ; 69)
Sehingga metodologi dakwah selanjutnya yaitu dengan memberikan santapan rutin bagi ruhaniyah obyek dakwah kita. Di Pojok telah berlangsung kajian kitab tentang fadhilah berdzikir yang sesuai dengan tuntutan Rasulullah Saw. Kajian kitab ini rutin setiap hari jumat ba’da sholat Isya’ bersama Ust. Ishak. Metode ini bisa juga diterapkan di wilayah lain.
2. Roja’ dan Khouf Dari segi Jamaah Dakwah
Bulan Maret kemarin saya ditunjuk DPC Mlati untuk mengikuti Dauroh Dakwah Sya’bi yang diadakan oleh DPW. Acara tersebut berlangsung di Gedung Depsos DIY di Jalan Veteran Yogyakarta. Acara demi acara saya ikuti dengan seksama. Tiap sesi diisi oleh ustadz-ustadz sya’bi yang sudah kondang. Antara lain ustadz Sumedi dari DPD Gunung Kidul, ustadz Nandar Winoro dari Sleman serta ustadz sya’bi yang sudah teruji jam terbangnya yaitu ustadz Didik Purwodarsono. Sementara itu, ada satu sesi tambahan yang diisi oleh pengurus Deputi dakwah DPW. Mereka memaparkan tentang pemetaan dakwah di beberapa wilayah di DIY termasuk disinggung tentang kondisi dakwah masjid di daerah Sinduadi yang notabene sebagai basisnya kader-kader dakwah kampus. Deputi dakwah DPW menilai bahwa masjid di lingkungan Sinduadi kebanyakan telah dikuasai oleh harakah lain di luar harakah Tarbiyah. Bagi saya, pernyataan dari Deputi dakwah DPW tersebut cenderung emosional meskipun didasarkan oleh fakta empiris yang akurat. Mengapa ?…., mari kita coba menganalisis dari sisi rekayasa dakwah sya’bi.
Pertama ; Kecenderungan harakah lain untuk berdakwah kepada masyarakat apalagi keinginan untuk memakmurkan masjid bukanlah suatu kesalahan melainkan justru sebagai kemajuan dakwah. Justru jamaah kita musti dikoreksi apabila porsi dakwah di masjid telah tertutupi oleh gencarnya dakwah politik (siyasi). Inilah yang kita sebut sebagai ketakutan (khouf) bagi jamaah. Ditambah lagi adanya catatan mengenai fenomena keengganan kader untuk membina, mengindikasikan adanya kelemahan tarbawiyah disebagian kader kita. Selain itu, sebenarnya harakah lain juga sedang melakukan misi mulia, sebagaimana firman Allah dalam ayat berikut ini ;
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(Q.S ; At-Taubah ; 71)
Kedua ; Kemungkinan ada ketakutan (khouf) yang berlebihan bagi kita bahwa kelak dalam pemilu 2009 jumlah suara PKS di wilayah siduadi mengalami penurunan gara-gara masjid-masjid sudah dimakmurkan oleh harakah lain. Apakah demikian?…
Marilah kita cermati dari fakta empiris di pemilu 2004. Saat itu suara PKS di wilayah Sinduadi menduduki perolehan terbesar kedua setelah Golkar. Artinya, bahwa pemilu yang lampau sudah ada hasil yang positif. Hasil ini relatif akan bertahan dan cenderung mengalami pertambahan karena pasokan suara PKS selama ini dominan di wilayah sinduadi timur (daerah Pogung) yang nota bene adalah masyarakat terdidik. Selain itu, nggak bakalan ketua RT, RW atau orang-orang di Pogung nggak mau ikut jadi panitia KPPS atau ikut-ikutan membid’ahkan partai gara-gara sering ikutan kajian Salafy di masjidnya. Sulit rasanya bagi ibu-ibu PKK untuk tidak menyempatkan ke TPS kelak gara-gara PAUD (Pembimbingan anak usia dini) di daerah Pogung yang seharusnya ditangani POSWEKA justru keduluan umahat-umahat Hizbut Tahrir. Justru strategi kita (DPRa Sinduadi) seharusnya lebih mengarah ke wilayah tengah dan barat yang masih dimerahkan dan dikuningkan oleh partai status quo. Langkah ini sudah ditempuh oleh DPRa Sinduadi dan POSWEKA yang melakukan rekrutmen di dusun-dusun di wilayah sinduadi (Kutu Raden, Gedongan, Pojok). Langkah ini sesuai dengan kaidah dalam dakwah sya’bi bahwa rekrutmen sya’bi lebih optimal dilakukan di tiap-tiap dusun. Bahkan di Pojok ketika acara Launching POSWEKA hampir dipadati oleh ibu-ibu satu RW. Apabila kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh DPRa maupun POSWEKA berada di luar dusun masyarakat setempat pasti akan menemui kendala-kendala teknis. Misalnya ; wah.., aku ra ono boncengane, atau kadohan ra reti nggone (Kata ; beberapa warga). Disini menunjukkan adanya harapan (Roja’) bagi dakwah kita kedepan khususnya menjelang pemilu 2009 yang tinggal hitungan bulan.
Wallahu a’lam.

mari bersama mengembalikan kehidupan Islam.