Minggu, 31 Januari 2010

Kapitalisme , Sosialisme , Islam

>> KAPITALISME adalah sistem yang didasarkan atas pertukaran yang sukarela (voluntary exchanges) di dalam pasar yang bebas.

Kapitalisme lahir dari asas sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan masyrakat) yang muncul dari pengalaman pahit saat hidup di bawah otoritas gereja di abad pertengahan dulu ,menegaskan bahwa manusia sendirilah yang berhak membuat aturan hidup, bukan Tuhan.

Dr. Amien Rais dalam Cakrawala Islam (1991), merincinya sebagai berikut:
1. Kapitalisme melahirkan ketidaksamaan (inequality), atau kesenjangan ekonomi dalam masyarakat.
2. Kapitalisme adalah sistem ekonomi yang bersifat internasional, jadi tidak dapat berdiri sendiri dalam suatu negara tertentu. Kapitalisme internasional hanya dapat mempertahankan hidupnya lewat eksploitasi yang dilakukan atas Dunia Ketiga
3.Demi kepentingan ekonominya, kekuatan-kekuatan kapitalis selalu bersikap double-standard. Kapitalisme, langsung atau tidak, berkaitan dengan suatu sistem opresi internasional demi kelangsungan kepentingan ekonominya.
4.Kapitalisme yang secara teoritas memberikan kesempatan sama (equality of opportunity) kepada setiap anggota masyarakat, dalam kenyataannya bersifat diskriminatif, bahkan rasis.
5. Semboyan kapitalisme yang berupa “berproduksi untuk dapat berproduksi lebih besar” (to produce, to roduce and to produce) menyebabkan keserakahan dan berkembangnya kehidupan yang materialistis.
6. Sebagai konsekuensi logis dari cara produksi seperti dikemukakan tadi, adalah pola kehidupan yang konsumeris.
7. Kapitalisme menimbulkan gejala-gejala alienasi dan anomi dalam masyarakat.

>> SOSIALISME, mencoba mengatasi problem produksi, konsumsi dan distribusi melalui perencanaan atau komando.
1. Sosialisme dapat ditegakkan dengan sistem politik yang otoriter, atau bahkan totalite.
2. Menunjukkan kontradiksi fundamental. Secara teoritis, eksploitasi manusia katanya akan dihilangkan, namun terbukti bahwa penganiayaan terhadap setiap anggota masyarakat yang dianggap menjadi penghalang kelancaran sosialisme menjadi sesuatu yang rutin.
3. Sosialisme pada dasarnya mematikan kreatifitas manusia
4. Dengan dikuasainya alat-alat produksi oleh negara, mereka yang memgang kekuasaan akan cenderung untuk melakukan korupsi tanpa pengawasan ketat dari rakyat.
5. Sosialisme melihat manusia selalu berdasarkan kelasnya.
6. Adanya penurunan derajat manusia. Karena materialisme menjadi dasar falsafahnya


>> EKONOMI ISLAM adalah ”suatu sistem ekonomi yang didasarkan pada ajaran dan nilai-nilai Islam”, dimana ”keseluruhan nilai tersebut sudah tentu Alquran, Sunnah, ijma dan qiyas” (Nasution dkk, 2006).

Ekonomi ISLAM bukanlah sebuah sistem yang benar-benar otentik, berbeda atau ada di luar himpunan sistem ekonomi yang dijalankan di dunia.

Namun ada Perbedaan yang utama ;
1. Secara epistemologis ekonomi Islam dipercaya sebagai bagian integral dari ajaran Islam itu sendiri, sehingga pemikiran ekonomi Islam langsung bersumber dari Tuhan.
2. Ekonomi Islam dilihat sebagai sistem yang bertujuan bukan hanya mengatur kehidupan manusia di dunia, tapi juga menyeimbangkan kepentingan manusia di dunia dan akhirat.
3. Sebagai konsekuensi dari landasan normatif , sejumlah aspek positif atau teknis dalam ekonomi konvensional tak bisa diaplikasikan karena bertentangan dengan nilai-nilai yang dibenarkan oleh Islam.

Tentang SISTEM EKONOMI ISLAM
> prinsip ekonomi Islam yang dianut adalah penyerapan pasar domestik yang sangat didukung oleh negara dalam rangka memenuhi kebutuhan individu masyarakatnya.

> Ekspor bukan lagi tujuan utama hasil produksi. Sebab, sistem mata uangnya juga sudah sangat stabil, yaitu dengan menggunakan standar emas (dinar dan dirham). Dengan demikian, negara tidak membutuhkan cadangan devisa mata uang negara lain karena semua transaksi akan menggunakan dinar/dirham atau dikaitkan dengan emas.

> Negara juga akan menerapkan sistem transaksi hanya di sektor riil dan menghentikan segala bentuk transaksi ribawi dan non riil lainnya.

> Dengan begitu, perputaran barang dari sektor riil akan sangat cepat dan tidak akan mengalami penumpukkan stok.

> Penawaran dan permintaan bukanlah indikator untuk menaikkan/menurunkan harga ataupun inflasi, karena jumlah uang yang beredar stabil sehingga harga akan stabil. Negara pun tidak perlu repot-repot mengatur jumlah uang beredar dengan menaikkan/menurunkan suku bunga acuan seperti yang dilakukan negara yang menganut sistem ekonomi kapitalis. Negara hanya akan memantau dan memastikan kelancaran proses distribusi barang dan jasa agar segala kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.

> Negara yang mengelola sumber kekayaan yang menjadi milik rakyat. Hasilnya dikembalikan lagi kepada rakyat. Dengan demikian, jaminan sosial bagi masyarakat, seperti pendidikan dan kesehatan, akan terpenuhi. Dalam kondisi seperti ini, daya beli masyarakat akan sangat kuat dan stabil.


Rosulullah pernah membuat pasar Islam dengan nama “Suqul Anshar“ atau pasar Anshar. Dengan semangat perpaduan serta ketaatan pada ALLAH dan Rasul-Nya umat Islam saat itu menumpukan perhatian semata-mata di Suqul Anshar.
sistem yang dipakai adalah ekonomi Islam, dimana tidak ada penindasan atau riba serta amat memberi kemudahan dan di dalamnya juga terdapat semangat perpaduan dan rasa ber-Tuhan yang tajam, maka banyak orang bukan Islam dan orang luar kota pun tertarik untuk berdagang ke Suqul Anshar.

Sumber :

>Ekonomi Islam: Di Luar Spektrum Kapitalisme dan Sosialisme? ; Ari A. Perdana

>Kritik Islam terhadap Kapitalisme dan Sosialisme; M Tri

>Sahriyalmusa &Kisah Rasulullah Membangun Sistem Ekonomi Islam
firman

YANG PALING MEMPESONA IMANNYA

Ya Allah, taburkanlah wangian
Diatas kubur nabi yang mulia
Dengan semerbak shalawat
Dan salam sejahtera

Madinah Al-munawarah, pada dini hari. Membran malam perlahan tersingkap,
berganti dengan subuh syahdu. Lengang berpulun dengan udara dingin
menggigit. Dan deru sahara hanya terdengar dari jauh. Cerlang fajar sebentar
lagi nampak. Shalat subuh hampir tiba, Rasulullah Saw dan para sahabat
menyemut pada satu tempat, masjid. Semua hendak bertemu dengan yang di
cinta, Allah. Namun sayang, air untuk berwudhu tidak setetes pun tersedia.
Tempat mengambil air seperti biasanya kini kerontang.

Dan para sahabat pun terdiam, bahkan ada beberapa yang menyesali kenapa
tidak mencari air terlebih dahulu untuk keperluan kekasih Allah itu
berwudhu. Rasululllah pun bertanya kepada para sahabat "Adakah diantara
kalian membawa kantung untuk menyimpan air?". Berebut para sahabat
mengangsurkan kantung air yang dimilikinya. Lalu, Nabi yang begitu mereka
cintai itu meletakkan tangannya diatasnya. Tidak seberapa lama, jemari
manusia pilihan itu memancarkan air yang bening. "Hai Bilal, panggil mereka
untuk berwudhu" sabda nabi kepada Bilal.

Dan para sahabat pun tak sabar merengkuh aliran air dari jemari sang Nabi.
Di basuhnya semua anggota wudhu, ada banyak gumpalan keharuan dan pesona
yang menyeruak. Bahkan Ibnu mas'ud mereguk air tersebut sepenuh cinta.

Shalat subuh pun berlangsung sendu, suara nabi mengalun begitu merdu. Ada
banyak telinga yang terbuai, hati yang mendesis menahan rindu. Selesai
memimpin shalat, nabi duduk menghadap para sahabat. Semua mata memandang
pada satu titik yang sama, Purnama Madinah. Dan di sana, duduk sesosok cinta
bersiap memberikan hikmah, seperti biasanya.
"Wahai manusia, Aku ingin bertanya, siapakah yang paling mempesona imannya?"
Al-Musthafa memulai majelisnya dengan pertanyaan.
"Malaikat ya Rasul Allah" hampir semua menjawab.

Dan nabi memandang lekat wajah para sahabat satu persatu. Janggut para
sahabat masih terlihat basah. "Bagaimana mungkin, malaikat tidak beriman
sedangkan mereka adalah pelaksana perintah Allah."
"Para Nabi, ya Rasul Allah" jawab sahabat serentak.
"Dan bagaimana para Nabi tidak beriman, jika wahyu dari langit langsung
turun untuk mereka".
"Kalau begitu, sahabat-sahabat engkau, wahai Rasulullah" pada saat menjawab
ini banyak dari sahabat yang mengucapkannya malu-malu.
"Tentu saja para sahabat beriman kepada Allah, karena mereka menyaksikan apa
yang mereka saksikan".
Selanjutnya mesjid hening. Semua bersiap dengan lanjutan sabda nabi yang
mulia. Semua menunggu, sama seperti sebelumnya pesona sosok yang duduk
ditengah-tengah mereka mampu menarik semua pandangan laksana magnet
berkekuatan maha. Dan suara kekasih Allah itu kembali terdengar. "Yang
paling mempesona imannya adalah kaum yang datang jauh sesudah kalian. Mereka
beriman kepadaku, meski tak pernah satu jeda mereka memandang aku. Mereka
membenarkan ku sama seperti kalian, padahal tak sedetikpun mereka pernah
melihat sosok ini. Mereka hanya menemukan tulisan, dan mereka tanpa ragu
mengimaninya dengan mengamalkan perintah dalam tulisan itu. Mereka membelaku
sama seperti kalian gigih berjuang demi aku. Alangkah inginnya aku berjumpa
dengan para ikhwanku itu".

Semua terpekur mendengar sabda tersebut. Kepada mereka nabi memanggil sapaan
sahabat, sedang kepada kaum yang akan datang, nabi merinduinya dengan
sebutan "Saudaraku". Alangkah bahagia bisa dirindui nabi sedemikian indah,
benak para sahabat terliputi hal ini.

Dan terakhir nabi, mengumandangkan QS Al Baqarah ayat 3: "Mereka yang
beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, dan menginfakkan sebagian dari
apa yang kami berikan kepada mereka".
***

Memang, tiada yang lebih indah, dirindui nabi seperti demikian. Kang
Jalaluddin Rakhmat menyebutkan, keistimewaan sebutan 'saudara' ini
disebabkan beberapa hal.

Pertama: Para sahabat menyaksikan langsung sosok nabi Muhammad, menjumpainya
dalam keseharian, menemaninya dalam setiap kesempatan. Para sahabat bertemu
langsung dengan beliau, memperhatikan segala perilaku indahnya. Para sahabat
beriman kepada Nabi secara lahir. Sedangkan para ikhwan (saudara)
mempercayai Rasulullah setelah membaca dan mendengar perilaku beliau.

Kedua: Para sahabat mengenal nabi secara langsung, berada di depan mata.
Para sahabat melihat mukjizat seperti tadi, bukan dari cerita atau kisah.
Para sahabat mengalaminya sendiri. Sedangkan para ikhwan mengenal nabi
secara tidak langsung, hanya berdasarkan bukti-bukti yang rasional. Dan hal
ini memerlukan pembelajaran yang tidak mudah, karena lebih abstrak. Dan
fitrah manusia selalu mengedepankan hal-hal yang dilihat secara nyata.

Selanjutnya kang Jalal menghimbau, Cintailah Rasululullah, maka ia akan
menjadi pusat perhatian. Kapan saja ia diperbincangkan maka kita akan selalu
semangat menyimak. Cintailah Rasulullah maka kita akan meniru perilakunya
dengan hasil baik. Dan yang lebih dahsyat lagi, cintailah Rasulullah maka
beliau akan menganggap kita sebagai saudara (ikhwan) dan janji Allah dalam
QS. Annisa: 69, seorang pencinta Rasul akan digabungkan dengan orang-orang
yang memperoleh nikmat Allah yaitu Para nabi, para shidiqin, para syahid dan
orang-orang shaleh.
***

Tak ada salahnya, pabila saat ini saya mengenang sosok yang hanya saya tahu
ciri-cirinya dari sebuah buku. Mengapakah terlalu sering saya mengabaikan
teladan sempurna ini. Bahkan, terlalu jauh saya terlontar dari sunnahnya.
Padahal, engkau ya Rasul Allah, begitu memperhatikan kami, hingga kami
disebut pada saat-saat terakhir kehidupanmu. Ketika maut menjemput, nafas
satu-satu dan detik-detik penghabisan di dunia sebelum dengan anggun engkau
dipanggil Allah.

Maafkan saya, ya nabi pilihan Allah, shirahmu saya baca tetapi saya hanya
mengemasnya dengan rapi dalam memori sebagai sebuah kisah yang nantinya akan
saya sampaikan kepada yang lain. Engkau merindukan umat yang berjuang untuk
membelamu, padahal saya sama sekali tidak berbuat apapun. Engkau rindui
sosok-sosok yang mencintaimu dengan segenap jiwa, dan saya tidak tahu apa
bukti kecintaan yang telah saya persembahkan meski hanya sekuntum saja.
Betapa malunya saya wahai Rasulullah.

Meski demikian, perkenankan saya menyampaikan salam, salam cinta dan salam
kerinduan. Salam bagimu ya Rasul Allah, salam bagimu duhai kekasih Allah
yang mulia. Inilah si lemah dari sekian abad dari masamu yang terbentang,
menyampaikan salam pekat kerinduan. Inilah si dungu, meski dengan tubuh
penuh dengan karat dosa, dengan mata yang seringkali tak terarah, dengan
mulut yang kerap menghina dan berdusta, dengan telinga yang sering tuli
terhadap kepedihan sesama, memberanikan diri menyapamu dalam kesendirian.

Mengenang engkau ya Rasul Allah, menetaskan dahaga hebat bagi kerontangnya
jiwa ini untuk berjumpa denganmu. Mengingatimu tentang betapa rekatnya
engkau mencintai para pengikut yang datang jauh setelah engkau tiada,
mengkristalkan haru yang tiada tara. Betapapun besar rasa malu ini,
terimalah salam, wahai pembawa cahaya kepada dunia.
Betapapun buruk rupa jiwa ini,
Betapapun kerdil pikiran ini,
Betapapun kelu lidah ini berucap,
Ingin saya sampaikan kepadamu wahai nabi al-musthafa:
Shallaallaahu ala muhammad, shallalhu alaihi wasallam...

Salam bagimu ya Rasul Allah.
Sahabat, telah sering kita mengucapkan shalawat terhadap junjungan nabi
Mulia, bahkan mungkin disetiap jeda yang kita punya, salam untuk sang
tercinta tak lupa kita ungkap. Namun apakah salam yang kita sampaikan
benar-benar salam yang ikhlas, salam tanda cinta kita, ataukah salam yang
refleks keluar dari mulut kita tanpa ada makna?

“Wallahu 'A'lam Bisawab”

*mudah-mudahan saat ini dalam dadamu ada yang bergemuruh juga*

Rakyat Turki Merindukan Khilafah Kembali . . .

Sejak 1923, di bawah pimpinan Mustafa Kemal Ataturk, Turki telah berubah menjadi negara sekuler. Sudah 86 tahun Republik Turki secara ketat memisahkan agama dan negara dalam kehidupan rakyatnya. Kini, sebagian besar rakyat di negara yang terletak di dua benua--Eropa dan Asia--itu mulai frustrasi dan muak dengan kebudayaan sekuler yang begitu ketat.

Kini, sebagian rakyat Turki merindukan kejayaan Kekhalifahan Ottoman yang sempat menjadi adikuasa dunia. ''Rakyat Turki kembali tertarik dengan kepahlawanan dan kejayaan di era Kesultanan Turki Usmani. Mereka kini merasa memilikinya lagi,'' ungkap Direktur Istana Topkapi, Ilber Ortayli, yang juga penjaga kediaman mewah Sultan Ottoman, kepada The New York Times, Sabtu (5/12).

Dari hari ke hari, kesadaran rakyat Turki untuk mengenang kejayaan Kekaisaran Ottoman terus meningkat. Anak-anak muda di negara itu juga mulai menghidupkan kembali semangat kejayaan Turki Usmani. Melalui kaus yang mereka pakai, generasi muda Turki mengampanyekan keinginannya untuk kembali merebut kejayaan yang pernah dicapai di masa kekhalifahan.

"Kekaisaran Turki Usmani pernah menguasai dua pertiga dunia, namun tak pernah memaksa siapa pun untuk mengganti bahasa atau agama pada kelompok minoritas,'' papar Egeman Bagis, menteri untuk Hubungan Uni Eropa. ''Rakyat Turki bisa membanggakan warisan Turki Usmani itu.''

Kekhalifahan Turki Usmani berjaya sekitar enam abad, yakni mulai 1299 hingga 1 November 1922. Pada era keemasannya, yakni abad ke-16 hingga 17 M, Kekhalifahan Turki Usmani menguasai sebagian besar wilayah di tiga benua, yakni Eropa Tenggara, Asia Barat, dan Afrika Utara.

Pada masa kejayaannya, seluruh wilayah kekuasaan Turki Usmani itu terbagi mejadi 29 provinsi dan sejumlah wilayah otonom menyatakan diri bergabung dengan Sultan Turki Usmani yang bergelar khalifah. Seiring kekalahannya pada Perang Dunia I, kedigdayaan Kesultanan Turki Usmani pun mulai pudar.

Sejak 29 Oktober 1923, Turki pun memproklamasikan diri sebagai negara sekuler. Kerinduan terhadap kejayaan Turki Usmani mulai dipandang sebagai pemberontakan terhadap budaya sekuler yang ketat yang diterapkan oleh pendiri Turki, Mustafa Kemal Ataturk.

''Ottomania (orang-orang Turki yang merindukan Turki Usmani) merupakan bentuk kesadaran dan berdayanya kalangan Islam sebagai reaksi terhadap Ataturk yang berusaha membuang agama dan Islam ke pinggir lapangan,'' ujar Pelin Batu, co-host sebuah program sejarah televisi populer. Setelah menerapkan aturan sekularisme, rakyat Turki dijauhkan dari nilai-nilai agama Islam.

Betapa tidak, aturan sekularisme Turki melarang rakyatnya menggunakan tulisan Arab yang juga merupakan bahasa Alquran. Muslimah pun dilarang berjilbab saat bekerja di lembaga-lembaga negara. Kini, popularitas Ataturk tampaknya mulai meredup di kalangan rakyat Turki.

Kemenangan Partai Pembangunan dan Keadilan pada Pemilu 2002 dan 2007 merupakan bukti bahwa rakyat Turki kembali merindukan ajaran Islam kembali ditegakkan. Dua tahun silam, rakyat Turki memilih Abdullah Gul sebagai seorang presiden yang istrinya mengenakan jilbab dalam satu windu terakhir.

Kerinduan rakyat Turki atas kejayaan Kekhalifahan Turki Usmani juga dipandang sebagai kekecewaan atas upaya Uni Eropa yang menolak kehadiran negara dua benua itu sebagai anggotanya. "Kami orang Turki sudah capek diperlakukan Uni Eropa sebagai negara miskin dan terbelakang,'' papar Kerim Sarc, seorang pemilik toko Ottoman Empire T-Shirts. hri/taq

"Dari Nu’man bin Basyir, dari Hudzaifah radhiyallahu ’anhu berkata: Rasulullah SAW bersabda: تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ “Akan ada fase kenabian di tengah-tengah kalian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada fase Khilafah berdasarkan metode kenabian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada fase penguasa yang zalim. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Lalu akan ada fase penguasa diktator. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Selanjutnya akan datang kembali Khilafah berdasarkan metode kenabian. Kemudian beliau SAW diam.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabarani) Hadits ini menjelaskan bahwa Khilafah akan tegak kembali setelah fase penguasa yang zalim (mulkan ’adhan), dan fase penguasa diktator (mulkan jabariyan). Dan Khilafah yang akan tegak itu adalah Khilafah ‘ala minhaji an-nubuwah, Khilafah yang sesuai dengan metode kenabian, yakni Khilafah yang menilai dirinya seperti Khilafah pada masa Khulafaur Rasyidin. Sehingga dengan izin Allah, Khilafah yang akan tegak adalah Khilafah Rasyidah." Yakinlah saudaraku janji Allah itu pasti..!!

Kisah Penuh Hikmah : Penebang Kayu

Di sebuah desa, ada seorang penebang kayu, yang dibayar Rp 30.000,- per hari oleh seorang pengusaha, untuk jasanya menebang kayu. Setelah beberapa bulan bekerja, pengusaha merasa telah membayar penebang kayu tersebut dengan harga yang semakin mahal, tetapi hasil tebangan kayunya semakin menurun jumlahnya. Dengan negosiasi yang alot akhirnya penebang kayu itu menerima penurunan upahnya menjadi Rp 20.000,- Waktu berselang enam bulan, pengusaha tersebut berkembang usahanya, sehingga ia perlu menambah satu orang penebang kayu lagi. Sama dengan penebang kayu yang pertama, penebang kayu kedua juga dibayar Rp 20.000,- per hari. Setelah satu bulan, pengusaha tersebut menaikkan upah harian penebang kayu kedua, tetapi tidak menaikkan upah penebang kayu yang pertama. Tentu saja penebang kayu yang pertama protes. Bagaimana mungkin seorang pekerja yang baru satu bulan upahnya sudah dinaikkan, tetapi pekerja yang sudah bekerja tujuh bulan, gajinya tidak dinaikkan bahkan diturunkan.

Ternyata pengusaha itu mempunyai alasan yang cukup kuat. Penebang kayu yang kedua, mampu mempertahankan produktivitasnya. Setiap hari, ia mampu menebang kayu yang jumlahnya relatif sama setiap hari. Lain halnya dengan penebang kayu yang pertama. Sejak awal ia bekerja, sampai masa kerjanya tujuh bulan, hasil tebangan kayunya semakin menurun dari hari ke hari.

Penebang kayu yang pertama tidak percaya dengan data yang diberikan oleh si pengusaha. Untuk itu, ia minta hasil tebangan masing-masing dikumpulkan pada lokasi yang berbeda, sehingga ia bisa melihat dan membuktikan bahwa hasil tebangan penebang kayu yang pertama memang lebih banyak jumlahnya daripada hasil tebangannya.
Pengusaha setuju dengan permintaan penebang kayu yang pertama. Ia memberi waktu satu minggu bagi penebang kayu yang pertama untuk melakukan apa yang dimintanya. Setelah satu minggu, akhirnya si penebang kayu yang pertama bisa membuktikan bahwa hasil tebangan penebang kayu yang kedua lebih banyak daripada hasil tebangannya sendiri.

Selanjutnya, pengusaha menyarankan agar penebang kayu pertama belajar dan menanyakan resep sukses penebang kayu kedua dalam mempertahankan produktivitasnya. Saran itu diikuti oleh penebang kayu. Datanglah ia kepada penebang kayu kedua. Ia bertanya banyak hal. Ia melihat bagaimana penebang kayu kedua. Satu hal yang menurutnya bisa menjaga konsistensi produksi penebang kedua, adalah bahwa dalam waktu satu hari, penebang kayu kedua mengambil waktu istirahat dua kali, yaitu pada tengah hari dan ketika sore hari. Sebenarnya ia juga beristirahat pada waktu yang sama, tetapi apa yang dilakukan pada saat istirahat itu, benar-benar berbeda. Penebang kayu pertama, ketika beristirahat memang benar-benar beristirahat, makan dan minum. Tetapi penebang kayu kedua, selain makan, minum dan istirahat, ia juga mengasah kapaknya. Dan mengasah kapak, adalah bagian esensial yang menyebabkan penebang kayu kedua mampu mempertahankan produktivitasnya.

Dunia ini selalu berubah. Setiap hari selalu saja keluar penemuan-penemuan baru, cara-cara baru, dan mengharuskan kita untuk beradaptasi dengan perubahan itu. Pengalaman kami selama ini menunjukkan bahwa bukan yang terkuat yang bisa bertahan hidup, bukan yang terbesar ataupun yang terbuas. Makhluk yang mampu bertahan hidup adalah makhluk yang mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungannya.

Itulah sebabnya, asah kapak anda. Lakukan sesuatu yang berbeda dalam cara anda menjual, sehingga hasil yang anda peroleh pun akan berbeda. Coba identifikasi apa yang sudah anda lakukan, dan analisis hasilnya. Setelah itu, lakukan perubahan pada satu atau dua hal dari cara yang anda lakukan, kemudian analisis kembali hasilnya. Kalau hasilnya lebih buruk, ubah lagi caranya. Kalau hasilnya baik, lakukan terus perubahan ke arah yang lebih baik, sampai tujuan anda tercapai.

Mudah-mudahan ada manfaatnya. Semoga Allah Memberkahi Kehidupan Kita

Selamat Tahun baru 2010.

(Disadur dari Bunda Lucy, Superparenting 1)

RENUNGAN MENGENAI PEMUTUS KENIKMATAN

Oleh Syaikh Abu Usamah Salim bin Ied Al-Hilali

Dari Nadhar bin Ismail yang berkata: Saya pernah mendengar Umar bin Dzar [1] berkata:

Kamu sekalian telah cukup mengerti tentang kematian, maka kamu menunggu-nunggu kedatangannya siang dan malam.

Mungkin kamu meninggal sebagai seorang yang sangat dicintai oleh keluarganya, dihormati oleh kerabatnya, dan dipatuhi oleh masyarakatnya, dipindahkan keliang yang kering dan batu-batu cadas yang bisu. Tidak ada seorangpun dari keluarga yang bisa memberikan bantal, kecuali hanya menempatkannya di tengah kerumunan binatang serangga. Adapun bantal pada saat itu berupa amal perbuatannya.

Atau mungkin kamu meninggal sebagai orang yang malang dan terasing. Di dunia, ia telah ditimpa banyak kesedihan, usaha yang dilakukan sudah berkepanjangan, badan telah kepayahan, lantas kematian tiba-tiba menjemput sebelum ia meraih keinginannya.

Atau mungkin kamu adalah seorang anak yang masih disusui, orang yang sakit, atau orang yang tergadai dan tergila-gila dengan kejahatan. Mereka semua diundi dengan anak panah kematian.

Tidak adakah pelajaran yang bisa dipetik dari perkataan para juru nasihat?!

Sungguh, seringkali saya berkata: "Maha Suci Allah Jalla Jalaluhu. Dia telah memberi tempo kepada kamu sehingga seakan-akan menjadikan kamu lalai." Kemudian saya kembali melihat kepemaafan dan kekuasaan-Nya, lantas berkata: "Tidak, tetapi Dia mengakhirkan kita sampai pada batas ajal kita, sampai pada hari di mana mata menjadi terbelalak dan hati menjadi kering."

"Artinya : Mereka datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong." [Ibrahim : 43]

"Ya Rabbi, Engkau telah memberikan peringatan, maka hujjah-Mu telah tegak
atas hamba-hamba-Mu”

Kemudian ia membaca:

"Artinya : Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang adzab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zhalim: "Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami walaupun dalam waktu yang sedikit." [Ibrahim : 44]

Kemudian ia berkata:

"Wahai pelaku kezhaliman! Sesungguhnya kamu sedang berada dalam masa penangguhan yang kamu minta itu, maka manfaatkanlah sebelum akhir masa itu tiba dan bersegeralah sebelum berlalu. Batas akhir penangguhan adalah ketika kamu menemui ajal, saat sang maut datang. Ketika itu tidak berguna lagi penyesalan.

Anak Adam ibarat papan yang dipasang sebagai sasaran dari panah kematian. Siapa yang dipanah dengan anak panah-anak panahnya, tidak akan meleset. Dan bila kematian itu telah menginginkan seseorang, maka tidak akan menimpa yang lain.

Ketahuilah, sesungguhnya kebaikan yang paling besar adalah kebaikan di akhirat yang abadi dan tidak berakhir, yang kekal dan tidak fana, yang terus berlanjut dan tak kenal putus.

Hamba-hamba yang dimuliakan bertempat tinggal di sisi Allah Ta'ala di tengah segala hal yang menyenangkan diri dan menyejukkan pandangan. Mereka saling mengunjungi, bertemu, dan bernostalgia tentang hari-hari mereka hidup di dunia.

Tentramlah kehidupan mereka. Mereka telah memperoleh apa yang mereka inginkan dan meraih apa yang mereka cari, karena keinginan mereka adalah berjumpa dengan majikan Yang Maha Pemurah dan Maha Pemberi Anugerah. [2]


[Disalin ulang dari: "Wasiat Para Salaf", Penulis Syaikh Salim bin 'Ied Al Hilali, Penerjemah: Hawin Murtadho. Penerbit: At-Tibyan, Solo. Cetakan kedua: Juli 2000 M, hal.111-114]
_________
Foote Note
[1]. Dia adalah Umar bin Dzar biun Abdillah bin Zaraqah Al-Hamdani Al-Murhabi, seorang tabi'it tabi'in yang tsiqah, wafat pada tahun 135 H. Riwayat hidupnya ada dalam "Tahdzibut Tahdzib" (VII:144), "Hilyatul Auliya" (V:108) dan lain-lain
[2]. Dikeluarkan oleh Abu Nu'aim dalam 'Al-Hilyah' (V:115-116)
www.almanhaj.or.id

RESEP MENYEMBUHKAN KEGERSANGAN HATI

Pada suatu kesempatan datanglah salah seorang kepada
Ibnu Mas'ud, sahabat Rosululloh SAW, seraya berkata ,
"Wahai Ibnu Mas'ud berikanlah aku nasihat yang dapat
kujadikan obat bagi hatiku yang sedang gelisah. dalam
beberapa hari ini aku merasa tidak tentram, jiwaku
gelisah dan pikiranku kusut, makan tak enak, tidur tak
nyenyak."Maka Ibnu Mas'ud menjawab, "kalau penyakit
itu yang menimpamu, maka bawalah hatimu mengunjungi
tiga tempat : orang yang sedang membaca Al Qur'an,
engkau membaca Al Qur'an atau engkau dengar baik-baik
orang yang sedang membaca Al Qur'an, atau engkau cari
waktu dan tempat yang sunyi disana engkau berkhalwat
menyembah Allah.

Di tengah malam buta ketika semua orang tidur nyenyak,
engkau bangun mengerjakan salat malam, meminta dan
memohon kepada Allah agar diberikan ketenangan jiwa,
ketentraman fikiran dan kemurnian hati. Seandainya
jiwamu belum terobati dengan cara ini, mintalah kepada
Allah agar diberi-Nya hati yang lain, sebab hati yang
kau pakai itu bukan lagi hatimu." Sekembalinya orang
itu kerumah diamalkanya nasihat Ibnu Mas'ud ra. Benar
hatinya menjadi tenang dan tentram. Nasihat Ibnu
Mas'ud untuk orang itu sungguh sangat ampuh. Penyakit
yang dideritanya berhari-hari sembuh seketika.
Kegersangan dan kegelisahan setiap saat akan menjadi
milik manusia, karena tuntutan untuk memenuhi
kebutuhan hidup yang beraneka ragam. Tidak sedikit
godaan dan rintangan yang harus dihadapi, baik yang
mempengaruhi jiwanya, fikirannya, maupun rohaninya.
Bila kegersangan dan kegelisahan batin itu tidak
segera diobati dan dibersihkan maka ia akan menjelma
menjadi penyakit yang berbahaya. Tidak mustahil sampai
ke tingkat yang kronis yang terkadang lebih berbahaya
daripada penyakit jasmani itu sendiri. Semuanya jadi
serba tidak enak. Apapun aktivitas yang dilakukan
serba menjengkelkan, membosankan, dan senantiasa
menghadirkan amarah.

Sifat kasih sayang yang merupakan modal mahal dalam
dirinya dalam bergaul dan bermasyarakat akan hilang.
Itu semua karena pikiran sedang kalut , hatinya sedang
kusut.
Hal ini bisa dimisalkan orang yang sedang jatuh cinta,
padahal kemampuan untuk menikah belum cukup. Lain lagi
ketika kita mau menghadapi UMPTN dalam hati timbul
rasa was-was kalau-kalau tidak lulus. Juga peristiwa
yang menimpa para aktifis da'wah, ketika menghadapi
benturan dan cemoohan dari musuh da'wah, ketika
ditengah-tangah perjalanan da'wah mengalami
kekecewaan. Sekali lagi hal-hal seperti dimisalkan di
atas pasti akan menimpa pada setiap diri manusia dan
harus cepat-cepat diobati, bila sakit berlanjut maka
amalkanlah pesan Ibnu Mas'ud ra.

Siapa saja yang hatinya sedang gersang,gelisah yang
disebabkan aktivitas sehari -hari yang begitu padat
maka manusia memerlukan semacam obat penenang jiwa.
Ada yang mendatangi tempat-tempat hiburan seperti
diskotik, gedung bioskop, bar-bar, duduk-duduk sambil
menikmati sebatang rokok atau dengan cara main kartu,
dan lain sebagainya. Namun semua itu tidak disadari
bahwa dengan cara semacam itu akan lebih banyak
mendatangkan efek negatifnya daripada positifnya
(manfaatnya). Mungkin disaat asyiknya menikmati
acara-acara yang ada ditempat itu semua aktivitas akan
terlupakan dimana seluruh jiwa terkonsentrasikan untuk
menikmati hiburan. Tapi apa bisa dibuktikan bahwa
setelah keluar dari tempat itu semua kegersangan dan
kegelisahan hati akan tersembuhkan. Barangkali bukanya
hati akan tentram atau tersembuhkan tapi akan lebih
kacau bahkan akan menambah permasalahan baru.

Dalam permasalahan seperti ini semestinya kita
kembalikan kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya
dalam Al Qur'an surat Ar-Ra'du ayat 28 "Ingatlah,
bahwa dengan mengingat Allah itu, tentramlah segala
hati." Sebagaimana telah diceritakan dalam kisah nyata
diatas seseorang yang datang kepada ibnu Mas'ud dimana
hatinya sedang gelisah, kalut, susah makan maka dengan
nasihatnya Ibnu Mas'ud menganjurkan untuk melaksanakan
dari tiga alternatif diatas. Bagamanapun juga hati
manusia adalah milik Allah SWT dan dengan cara
mengembalikan kepada Allah merupakan cara yang tepat
untuk memperbaiki atau menyembuhkan kegersangan dan
kegelisahan hati. Sahabat Rasulullah SAW Ibnu Mas'ud
ra telah memberikan tiga alternatif cara menyembuhkan
hati yang sedang gersang , gelisah, kalut, mudah marah
yakni :


Mengunjungi orang yang sedang membaca Al Qur'an
Membaca atau mendengar baik-baik bacaan Al Qur'an,
salat lail. Mengunjungi orang yang membaca Al Qur'an
merupakan alternatif pertama, karena orang yang
membaca Al Qur'an akan lebih paham tentang kandungan
Al Qur'an dan memiliki hati yang qur'ani. Dengan
mengunjunginya kita akan belajar dan memahami apa yang
terkandung dalam Al Qur'an dan dan kita akan
memperoleh nasihat-nasihat yang bijak, dengan demikian
kita akan lebih dekat kepada Allah SWT yang Insya
Allah kita akan memperoleh hati yang tentram dari
Allah SWT. Sabda Rasulullah SAW "Seseorang itu akan
mengikutu agama temannya, oleh karena itu hendaknya
salah seorang diantara kamu memperhatikan orang yang
ditemaninya." Insya Allah dengan mengunjungi orang
-orang yang rajin membaca Al Qur'an kita akan
memperoleh teman-teman yang saleh yang apabila bertemu
dengan dia kita teringat akan Allah SWT.


Membaca atau mendengar baik-baik bacaan Al Qur'an.

Allah berfirman dalam hal ini "dan apabila dibacakan
Al Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan
perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat
rahmat," (Q.S : Al A'raaf 204).


Mengerjakan salat lail (salat malam)

Disaat manusia tertidur nyenyak. Disitulah kita
berkhalwat mendekatkan diri kepada Allah dan berdo'a
memohon ketentraman hati. Firman Allah dalam Al Quran
surat Al Isra ayat 79, "Pada malam hari, hendaklah
engkau bertahajjud sebagai tambahan untuk engkau,
mudah-mudahan Tuhan mengangkat engkau ke tempat yang
terpuji." Dalam hal ini Allah juga berfirman dalam Al
Qur'an surat Al Muzammil ayat 1-5. Bahkan diriwayatkan
dengan turunnya ayat ini pada awal-awal perjuangan
Rasulullah SAW salat tahajjud pernah diwajibkan. Ini
artinya bahwa salat tahajjud mempunyai hikmah yang
sangat tinggi. Ketiga alternatif itulah yang sangat
tepat untuk mengobati hati yang sedang gersang atau
gelisah dan sangat keliru kalau mengobati penyakit ini
dengan cara masuk ke kandang diskotik, gedung bioskop,
atau tempat-tempat maksiat lainya.


Wallahua'lam Bishawab

Kemenangan Semakin Mendekat

Asslamu'alaikum wr.wb.

Segala puji bagi allah swt tiada maha suci allah yg maha benar adanya dan akan memberikan kemenangan bagi hambanya yg berjuang yg semata2 mengharapkan ridho allah swt , Salam sejahtera bagi junjungan baginda Nabi Muhammad saw beserta keluarga dan para sahabatnya. untuk para pejuang agama allah semoga dimudahkan segala urusannya.
Kami Menghimbau bagi para Anggotanya pengemban dakwah untuk penegakan Khilafah dan Syariah Islam khususnya , dan para pengemban Dakwah umumnya jgn sampai terpancing dengan nada orng2 yg tidak suka pada penegakan khilafah dan syariah islam di bumi allah swt , saya menghimbau agar teman2 membalasnya dengan cara yg santun sbgaimana Rasulullah saw telah memberikan contoh kpd ummatnya yg tercinta . biarkan mereka berkata kasar krna skrg telah diterapkan nya sistem yg rusak yaitu SPILIS , mungkin kurang tahunya mereka terhadap agama mereka sndiri ( Islam ) , atau memang disengaja tuk menutupi kebenaran agama ( Islam ) mereka krna mempunyai kepentingan . Wallahu 'alam . . . Doa kan mereka yg bagi belum tau tentang Islam agar mereka diberikan Hidayah oleh Allah SWT.Amiiinn. . . .

Sandiwara imam ke 12 (Mahdi versi Syiah)

Ringkasan dari sandiwara ini adalah, imam mereka yang kesebelas yaitu Hasan Al-Askari tidak memiliki keturunan. Dia memiliki saudara bernama Ja`far. Saudara ini tidak mungkin jadi imam menurut syarat-syarat mereka. Mereka bimbang dan bingung, karena tidak hadirnya anak bagi Hasan tidak hanya akan membatalkan imamah, akan terbongkar pula seluruh kebohongan mereka dan tertelanjangi seluruh klaim-klaim mereka. Merekalah yang telah membangun dan meletakkan dasar-dasar, syarat-syarat dan tanda-tanda imam. Bagaiman hal itu terjadi, bukankah mereka itu ma`shum dari salah dan lalai, yang dipilih langsung oleh Allah Ta`ala seperti yang mereka yakini karena itu goncanglah perkara Syi`ah, pecahlah persatuan syi`ah karena mereka sekarang tanpa imam dan tanpa agama. Sebab tidak ada agama bagi mereka tanpa adanya imam, sebab imam adalah hujjah untuk penduduk bumi. Al-Qur`an bukanlah hujjah kecuali dengan hadirnya imam. Dengan ada imam, alam semesta terjaga. Akan tetapi imam telah mati dan alam masih utuh??

Maka Syi`ah saat itu berselisih dan pecah menjadi empat belas golongan seperti keterangan An-Nubakhti atau lima belas kelompok seperti keterangan Al-Qummi. Dan keduanya adalah berasal dari abad ketiga Hijriah dan orang yang terdekat dengan peristiwa. Kami akan suguhkan kisah dengan lisan mereka sendiri dari kitab mereka sendiri. Di antara pembesar syi`ah awal adalah Filsuf Imam (lihat majali Al-Mumin,Tustari hal 177). Ia menjelaskan bagaimana kejadian saat itu:

"Sesungguhnya Syi`ah menjadi pusing setelah matinya Hasan Al-Askari. Mereka terpecah-pecah banyak sekali karena perbedaan pendapat.

Satu kelompok berkata bahwa Hasan bin Ali telah mati dan hidup lagi setelah matinya. Seandainya ia memiliki anak, tentu benarlah matinya dan tidak akan hidup kembali karena imamah berlaku untuk pengganti yang telah diwasiatinya.

Satu kelompok berkata, Ja`far adalah imam, bukan Hasan karena Hasan telah mati dan tidak memiliki keturunan, padahal imam tidak akan mati sebelum berwasiat dan memiliki pengganti.

Kelompok lain berkata bahwa imam sesudah Ali bukanlah Ja`far karena ia memiliki banyak hal yang tercela dan ia terkenal dengan itu,juga bukan Hasan karena ia telah mati. Seorang Imam tidak boleh mati sebelum memiliki pengganti. Karena itu imam setelah Ali (Al-Hadi,imam kesepuluh) adalah putranya yang bernama Muhammad , (tetapi ia pun mati) mati pada zaman bapaknya.

Kelompok lain berkata, bahwa imam setelah Ali adalah Hasan (Al-Askari), dan setelah Hasan adalah saudaranya yang bernama Ja`far. Adapun apa yang diriwayatkan syiah dari Ja`far (Ash Shaqid) bahwa imamah tidak boleh beralih kepada saudara setelah Hasan dan Husain itu manakala yang pertama memiliki pengganti dari anaknya, jika tidak maka akan kembali kepada saudara karena darurat.

Pendapat yang banyak sekali, An-Nubakhti menutup makalahnya bahwa mereka terpaksa mengatakan bahwa Hasan (Al-Askari) memilikin putra. Bagaimana mungkin seorang imam yang telah terbukti imamahnya dan nama baiknya yang sangat terkenal dikalangan khusus dan umum kemudian meninggal tanpa seorang pengganti.

Namun pendapat ini pun masih ada yang membantah. Mereka mengatakan bahwa Hasan tidak memiliki sama sekali karena kita telah menyelidiki dan menelitinya. Ternyata tetap tak diketemukan. Seandainya boleh bagi kita mengatakan yang semisal Hasan yang meninggal tanpa anak, bahwa dia memiliki anak yang tersembunyi maka tentu kita boleh mengatakannya untuk setiap orang. Dan tentu kita boleh mengatakannya Nabi pun bahwa beliau memiliki putra yang tersembunyi.

Dan bahwa Abul Hasan Ar-Ridha meninggalkan tiga putra selain Abu Ja`far yang salah satunya adalah sang imam. Karena datangnya berita tentang matinya Hasan tanpa putra seperti datangnya berita tentang wafatnya Nabi dengan tidak meninggalkan seorang putra. Padahal Abdullah bin Ja`far tidak meninggalkan seorang putra dan Ar-Ridha tidak memiliki empat orang putra. Anak tersebut jelas batil (tidak ada) tetapi ada benang penghubung yang benar yaitu istri simpanannya. Dia akan melahirkan seorang putra yang akan menjadi imam bilamana ia melahirkan.

Pendapat inipun disanggah kelompok lainnya...

Singkat cerita, Akhirnya kelompok kedua belas yaitu Imamiyah berkata: "Yang benar bukanlah seperti yang diucapkan oleh mereka semua. Tetapi Allah memiliki hujjah dari putra Hasan bin Ali, jadi Imam tidak boleh dalam dua saudara setelah Hasan dan Husain. seandainya boleh, tentu benar ucapan sahabat ismail bin Ja`far dan madzhab mereka, dan tentu benar imamah Muhammad bin Ja`far, dan juga tidak boleh bumi ini kosong dari hujjah (imam). (Karena) sekiranya kosong maka tentulah bumi dan orang-orang yang ada diatasnya akan dibalik dan ditenggelamkan.

Karena itu kami percaya dengan matinya Hasan, bahwa dia memiliki putra dan tersembunyi, dan manusia tidak berhak mencari jejak langkahnya selama memang tertutup, tidak boleh menyebut namanya dan tidak boleh bertanya tentang tempatnya. Mencarinya adalah haram, tidak halal dan tidak boleh"

Akhirnya selesailah sudah episode sandiwara dan anekdot yang lucu ini yang telah menghibur kita semua. Sungguh sebuah kisah dari kumpulan cerita seribu satu malam.

penipuan ulung

Al Hasan Al ‘Askari yang wafat tanpa meninggalkan seorang anak pun, dan saudara kandungnya yang bernama Ja’far mewarisi seluruh harta warisannya, dengan dasar karena ia tidak meninggalkan seorang anakpun.

Marga Alawiyyin (Yang dimaksud dengan Alawiyyin ialah anak keturunan sahabat Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu -pent) memiliki daftar keturunan yang kala itu dipegang oleh seorang perwakilan dari mereka, sehingga tidaklah dilahirkan seorang bayi pun dari mereka, melainkan akan dicatat padanya, dan padanya tidak pernah terdaftar seorang anak pun bagi Al Hasan Al ‘Askari. Dan marga Alawiyyin yang semasa dengan Al Hasan Al ‘Askari tidak pernah mengetahui bahwa ia meninggalkan seorang anak laki-laki.

Hakikat yang sebenarnya telah terjadi adalah, tatkala Al Hasan Al ‘Askari wafat dalam keadaan mandul, dan silsilah keimaman para pemuja mereka yaitu sekte Imamiyyah terputus, mereka menghadapi kenyataan bahwa paham mereka akan mati bersama kematiannya, dan mereka tidak lagi menjadi sekte Imamiyyah, karena tidak lagi memiliki imam. Oleh karena itu, salah seorang setan mereka yang bernama Muhammad bin Nushair, salah seorang mantan budak Bani Numair mencetuskan gagasan bahwa Al Hasan Al ‘Askari memiliki anak laki-laki yang disembunyikan di salah satu terowongan ayahnya(*), agar ia dan para sekongkolnya dengan nama Imam tersebut dapat mengumpulkan zakat dari masyarakat dan hartawan sekte Syi’ah! Dan agar mereka -walau dengan berdusta- dapat meneruskan propaganda bahwa mereka adalah pengikut para Imam.

(*) Dan terowongan ayahnya -seandainya memang benar bahwa ayahnya memiliki terowongan- maka para pengikut sekte Syi’ah tidak mungkin untuk memasuki ya, karena terowongan tersebut berada di kekuasaan Ja’far saudara kandung Al Hasan Al ‘Askari, dan ia meyakini bahwa saudara kandungnya yaitu Al Hasan tidak memiliki anak lelaki, tidak di dalam terowongan fiktif tersebut juga tidak di luarnya. Dan bila ia bersembunyi di berbagai terowongan!!! maka mana mungkin mereka dapat menemukannya…



Muhammad bin Nushair ini menginginkan agar dialah yang menjadi “Al Bab (pintu penghubung)” terowongan fiktif tersebut, sebagai penyambung lidah antara imam fiktif dengan pengikutnya, dan bertugas memungut harta zakat. Akan tetapi kawan-kawannya para setan penggagas makar ini tidak menyetujui keinginannya tersebut, dan mereka tetap bersikukuh agar yang berperan sebagai “pintu/Al Bab” ialah seorang pedagang minyak zaitun atau minyak samin. Pedagang ini memiliki toko kelontong di depan pintu rumah Al Hasan dan ayahnya, sehingga mereka dapat mengambil darinya segala kebutuhan rumah tangga mereka. Tatkala terjadi perselisihan ini, pencetus ide ini (yaitu Muhammad bin Nushair -pent) memisahkan diri dari mereka, dan mendirikan sekte An Nushairiyah yang dinisbatkan kepadanya.

Dahulu kawan-kawan Muhammad bin Nushair memikirkan supaya mereka mendapatkan cara untuk memunculkan figur “Imam Ke-12″ yang mereka rekayasa, dan kemudian ia menikah dan memiliki anak keturunan yang memegang tampuk Imamah sehingga paham Imamiyah mereka dapat berkesinambungan. Akan tetapi terbukti bagi mereka bahwa munculnya figur tersebut akan memancing pendustaan dari perwakilan marga Alawiyyin dan seluruh marga ‘Alawiyyin serta saudara-saudara sepupu mereka para khalifah dinasti Abbasiyyah dan juga para pejabat mereka. Oleh karenanya mereka akhirnya memutuskan untuk menyatakan bahwa ia tetap berada di terowongan, dan bahwasanya ia memiliki persembunyian kecil dan persembunyian besar, hingga akhir dari dongeng unik yang tidak pernah didengar ada dongeng yang lebih unik daripadanya, sampai pun dalam dongeng bangsa Yunani.

Mereka menginginkan dari seluruh umat Islam yang telah dikaruniai Allah dengan nikmat akal sehat agar mempercayai dongeng palsu ini!! Agar pendekatan antara mereka dengan sekte Syi’ah dapat dicapai?! Mana mungkin terjadi, kecuali bila dunia Islam seluruhnya telah berpindah tempat ke (rumah sakit jiwa) guna menjalani pengobatan gangguan jiwa!! Dan Alhamdulillah atas kenikmatan akal sehat, karena akal sehat merupakan tempat ditujukannya tugas-tugas agama, dan akal sehat -setelah nikmat iman yang benar- merupakan kenikmatan terbesar dan termulia.

Validitas Literatur Induk Ajaran Syiah

Kita patut meragukan apakah sumber mereka masih orisinil atau sudah dipermak sana sini. Dengan mengetahui validitas sumber sebuah ajaran, kita bisa menilai validitas ajaran tersebut.

Ada beberapa kitab yang dianggap oleh syiah sejajar dengan kitab empat di atas, artinya derajat validitas riwayatnya tidak berbeda, sehingga kitab itu berisi dalil-dalil yang valid untuk penyimpulan hukum syareat menurut syiah imamiyah. Hal ini seperti disebutkan oleh Al Majlisi pada pengantar Biharul Anwar –bisa dilihat pada jilid 1 hal 26-: kitab-kitab karya Ash Shaduq –selain lima kitab- sama terkenalnya dengan kitab empat. Majlisi meneruskan begitu; juga kitab Basha’ir Darajat termasuk literatur pokok yang juga dijadikan rujukan oleh Kulaini dan lainnya. Bisa dilihat di halaman yang sama, Majlisi juga menyebutkan kitab-kitab lain yang sederajat dengan kitab empat. Pendapat yang sama juga dinyatakan oleh Al Hurr Al Amili dalam kitab Wasa’il Syi’ah jilid 20. juga dalam pengantar setiap kitab disebutkan bahwa kitab itu sama validnya dengan kitab yang empat .

Nampaknya yang disebut adalah dua kitab itu, yaitu kitab-kitab As Shaduq dan Bashair Darajat karena kitab-kitab itu adalah kitab-kitab besar kumpulan hadits, atau bisa jadi juga untuk menyaingi mazhab ahlussunnah dan untuk sekedar promosi. Nampak hal itu jelas ketika kita melihat kitab Al Wafi dimasukkan ke delapan kitab rujukan utama, dan kitab itu dianggap sebagai kitab tersendiri, padahal isi kitab Al Wafi hanyalah kumpulan dari empat kitab utama (Al Kafi, Tahdzib, Al Istibshar dan Man La Yahdhuruhul Faqih), mengapa dianggap sebagai kitab baru, padahal isinya hanyalah pengulangan dari empat kitab yang terdahulu. Ini semua dalam rangka membuat image bahwa syiah memiliki banyak rujukan, padahal isinya itu-itu juga, pengulangan dari empat kitab rujukan.

Begitu juga kitab AL Istibshar dianggap sebagai kitab tersendiri, padahal kitab Al Istibshar hanyalah ringkasan dari kitab Tahdzibul Ahkam, seperti dijelaskan oleh Thusi sendiri pada pengantar kitab Al Istibshar – jilid 1 hal 2-3- begitu juga siapa saja yang menelaah kedua kitab itu akan jelas mendapati bahwa kitab Al Istibshar hanyalah ringkasan dari kitab Tahdzibul Ahkam. Semua ini jelas dalam rangka promosi mazhab.

Begitu juga anda akan menemukan bahwa kitab Biharul Anwar karya asli penulisnya hanya sebanyak 25 jilid, lalu karena jilid ke 25 nampak terlalu besar maka dipisah menjadi 2 jilid, akhirnya jumlah keseluruhan kitab Biharul Anwar hanyalah 26 jilid. Bisa dilihat hal ini dalam kitab Dzari’ah jilid 3 hal 27. Tetapi kitab Biharul Anwar hari ini berjumlah 110 jilid, dimulai dari jilid 0, supaya nampak intelek. Pembaca yang “intelek” akan bertanya-tanya tentang asal tambahan kitab Biharul Anwar dari jilid 27 sampe jilid 110, hasil karya Majlisi sendiri –yang menulis 26 jilid- atau ada tangan-tangan lain yang menambah supaya nampak tebal?

Syiah memang senang sekali dengan yang demikian, biasanya ada sekelompok orang yang digaji khusus oleh hauzah ilmiyah untuk menulis sebuah buku, lalu buku itu dibuat seolah ditulis oleh satu orang, seakan orang itu menulis buku yang besar yang sangat sulit utnuk ditulis oleh sendirian, seperti bisa kita perhatikan kitab Al Ghadir – yang konon ditulis oleh seorang bernama Abdul Husein Al Amini-, selain itu syiah juga gemar mengaku-aku, bahwa syiah adalah pionir dalam semua cabang ilmu, padahal pengetahuan mereka hanyalah mengambil dari kitab-kitab Ahlussunnah, mereka memiliki pendapat-pendapat aneh yang membongkar kebohongan mereka.

Dalam kitab A’yanus Syi’ah banyak sekali ulama ahlussunnah yang dianggap sebagai syiah imamiyah hanya karena mereka memiliki sedikit kecondongan kepada Ali, padahal hal demikian itu tidak sampai membuat mereka masuk menjadi syiah rafidhah, karena kecintaan ahlussunnah pada ahlulbait adalah kecintaan sejati, lebih dari kecintaan syiah rafidhah pada ahlulbait.



Isi kitab-kitab utama syiah hanyalah maslah fiqih, kecuali dua jilid pertama dari kitab Al Kafi memuat tentang akidah syiah. Jika kita perhatikan, isi kitab fiqih mereka mirip dengan fiqih ahlussunnah, membuat kita makin percaya dengan keterangan para ulama yang menyebutkan bahwa ulama syiah banyak yang mencontek kitab ahlusunnah, di antaranya adalah Ibnu Taimiyah dalam Minhajussunnah jilid 3 hal 264.

Syiah memiliki pendapat-pendapat aneh dalam fiqih, yang berbeda dengan ulama ahlusunah, pendapat-pendapat itu kadang begitu aneh dan tak terbayangkan bahwa pendapat-pendapat itu perlu ditulis dalam kitab tersendiri. Asy Syarif Al Murtadha mengumpulkan pendapat-pendapat syiah yang berbeda dengan ulama ahlussunah dalam kitabnya Al Intishar.

Sebagai selingan, tidak ada salahnya bila kita menyimak sedikit pendapat-pendapat yang hanya dimiliki oleh syiah dari kitab Al Intishar:


* Keluar Madhi dan Wady tidak membatalkan wudhu –hal 119

* Wajib mengucapkan Hayya Ala Khairil Amal dalam adzan – hal 137

* Wajib hukumnya shalat gerhana matahari maupun bulan, siapa yang ketinggalan harus mengqadha’ –hal 173

* Barangsiapa berpuasa ramadhan dalam keadaan musafir maka harus membayar puasanya –hal 190 –kasihan sungguh-

* Orang sakit yang memaksakan diri berpuasa di bulan Ramadhan –padahal dia dibolehkan untuk tidak berpuasa- maka puasanya tidak sah dan tetap harus mengqadha’ – hal 192

* Jika menemukan bangkai ikan di tepi sungai, sedangkan dia tidak tahu apakah ikan tersebut mati atau disembelih, maka dicelupkan di air, jika ikan tersebut mengambang di atas dadanya maka ikan itu disembelih, jika mengambang di atas punggungnya maka ikan itu mati dengan sendirinya tanpa disembelih – hal 402 [di mana letak perbedaan antara punggung dan dada ikan?]

* Sembelihan ahli kitab haram dimakan –hal 403

* Haram memakan makanan buatan orang kafir – hal 409



Ibnu Aqil Al Hanbali menukil pendapat-pendapat itu dan dia pun merasa heran, tulisan Ibnu Aqil dinukil juga oleh Ibnul Jauzi dalam kitab Al Muntazham –jilid 8 hal 120- juga Ibnul Jauzi menuliskan dalam Al Maudhu’at: Rafidhah telah membuat kitab fiqih yang mereka sebut sebagai mazhab imamiyah, di dalamnya memuat pendapat yang menyimpang dari ijma’ kaum muslimin tanpa dalil apa pun. Lihat Al Maudhu’at jilid 1 hal 338.

Sementara bahasan lain yang terdapat dalam Al Kafi dan Biharul Anwar adalah tentang tauhid, al adl , imamah.. kebanyakan berisi keyakinan mereka tentang imamah dan para imam yang dua belas, tentang penunjukan mereka dari Allah, sifat-sifat para imam, kisah hidup mereka dan keutamaan berziarah ke kubur mereka. Begitu juga membahas tentang musuh para imam, terutama para sahabat Nabi SAAW, jika kita perhatikan, mayoritas bahasan adalah tentang imamah dan para imam.

Pembaca yang menelaah kitab hadits syiah akan mendapati jurang perbedaan antara kitab hadits syiah dan kitab hadits ahlussunnah, begitu juga perbedaan yang ada para riwayat ahlussunnah dan syiah imamiyah. Kitab sunnah yang meriwayatkan hadits, hanyalah meriwayatkan hadits Nabi, dan hanya hadits Nabi-lah yang disebut dengan hadits. Sedangkan kitab hadits syiah mayoritas memuat riwayat dari salah satu dari dua belas imam mereka, selain itu mereka juga berkeyakinan bahwa riwayat yang berasal dari imam sama dengan riwayat yang berasal dari Nabi, artinya sabda imam sama seperti sabda Nabi.

Jika kita perhatikan kitab hadits syiah, kita akan menemukan bahwa hadits yang berasal dari Nabi sangatlah sedikit, sedangkan mayoritas riwayat Al Kafi adalah dari Ja’far Ash Shadiq, sangat jarang sekali yang berasal dari ayahnya Muhammad Al Baqir, apalagi yang berasal dari Amirul Mukminin Ali, jumlahnya lebih sedikit, begitu juga yang berasal dari Nabi SAW, jauh lebih sedikit

Begitu juga kita perhatikan, empat kitab utama syiah disusun pada abad ke sebelas Hijriyah, dan setelahnya, yang terakhir ditulis oleh Husein Nuri Thabrasi, -judulnya Mustadrakul Wasa’il- yang wafat tahun 1320 H –hidup sejaman dengan syaikh Muhammad Abduh-

Kitab itu memuat 23000 hadits dari para imam syiah [lihat Ad Dzari’ah jilid 7 hal 21] yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Kitab itu ditulis ratusan tahun setelah wafatnya para imam, jika memang benar kitab itu berisi riwayat bersanad dari para imam bagaimana orang berakal bisa percaya pada riwayat yang belum pernah ditulis sejak 11 abad atau 13 abad lalu ? jika memang riwayat itu tertulis dalam kitab, mengapa kitab itu baru ditemukan di abad 14 Hijriah?

Sebagian penulis kitab syiah menyatakan bahwa merka menemukan buku yang belum pernah ditemukan sebelumnya, Al Majlisi mengatakan: Alhamdulillah, di depan kami terkumpul sebanyak 200 judul buku, seluruh isinya telah kunukil dalam Biharul Anwar, [lihat I’tiqadat Al Majlisi hal. 24, lihat juga Al Fikr Asy Syi’I hal. 61]sementara Al Hurr Al Amili menyatakan bahwa dirinya memiliki delapan puluh kitab selain empat kitab rujukan mereka, isi kitab-kitab itu dituliskan dalam Wasa’ilusy Syi’ah [lihat Wasa’ilusy Syi’ah jilid 1, pengantar. Juga lihat Adz Dzari’ah jilid 4 hal 352-353].

Begitu juga Nuri Thabrasi ikutan mengklaim bahwa dirinya menemukan kitab-kitab yang belum pernah ditulis sebelumnya walaupun dirinya hidup di abad 14 Hijriyah, Agho BArzak Tahrani mengatakan: hal yang mendorong Husein Nuri Thabrasi untuk menulis mustadrak Al Wasa’il adalah karena Thabrasi menemukan kitab-kitab penting yang belum pernah ditulis dalam kitab-kitab kumpulan hadits syiah sebelumnya [lihat Ad Dzari’ah jilid 21 hal 7].

Ulama syiah menganggap hadits-hadits baru hasil penemuan Nuri Thabrasi yang dituliskan dalam Mustadrak Al Wasa’il sebagai hadits-hadits yang sangat penting dan diperlukan, tidak bisa ditinggalkan, ulama syiah yang bernama Al Khurasani –seperti dinukil dalam Adz Dzari’ah- mengatakan: setiap mujtahid tidak boleh berijtihad sebelum merujuk ke kitab Mustadrak Al Wasa’il dan menelaah hadits-hadits yang termuat di dalamnya, [lihat Ad Dzari’ah jilid 2 hal 111], apakah ini berarti sebelum adanya kitab Mustadrak Al Wasa’il ucapan ulama mereka tidak dapat dijadikan pegangan? Silahkan anda merasa heran, barangkali masih ada lagi hadits yang baru ditemukan.

Riwayat-riwayat itu tidak ditemukan di literatur kuno syiah, mengapa demikian? Mengapa Kulaini tidak meriwayatkannya padahal dia dapat menghubungi empat “dubes” imam Mahdi?Kulaini memberi judul kitabnya dengan Al Kafi karnea dianggapnya cukup bagi syiah, bahkan kitab Al Kafi telah ditunjukkan kepada imam Mahdi –yang bersembunyi hingga hari ini- melalui “duta besar “, kemudian Imam Mahdi memberikan komentar: kitab ini cukup bagi syiah kami, begitu juga At Thusi menyatakan, bahwa dirinya mengumpulkan hadits-hadits syiah yang berkaitan dengan fiqih dari kitab-kitab literatur inti syiah, dalam kitabnya Tahdzibul Ahkam, tidak ada yang terlewatkan kecuali hanya sedikit saja [lihat Al Istibshar jilid 1 hal 2].

Apakah kitab-kitab ini ditulis pada era dinasti shafavid di iran lalu ditulis atas nama para ulama klasik syiah? Bisa jadi, dan sangat mungkin.

Bahkan empat kitab syiah yang utama [Al Kafi, Tahdzibul Ahkam, Al Istibshar dan Man La Yahdhuruhul Faqih] tidak luput dari tambahan dari tangan-tangan tidak bertanggung jawab. Salah satu buktinya, bisa dilihat dalam kitab Ad Dzari’ah –jiild 4 hal 504- dan A’yanus Syi’ah –jilid 1 hal 288- juga keterangan ulama syiah hari ini, bahwa jumlah hadits Tahdzibul Ahkam adalah 13950 hadits, tetapi penulisnya sendiri menyatakan dalam kitab Iddatul Ushul [jilid 1 hal 139 ,cetakan sitarah-Qum] bahwa jumlah hadits Tahdzibul Ahkam hanya 5000 lebih, artinya tidak mencapai jumlah 6000. bisa dilihat dalam kitab Al Imam As Shadiq hal 485.

Ternyata jumlah hadits Tahdzibul Ahkam bertambah lebih dari dua kali lipat, inilah bukti nyata yang ada di depan mata.

Begitu juga ulama syiah masih berbeda pendapat, apakah kitab Raudhatul Kafi –kitab Al Kafi jilid 8- termasuk dalam kitab Al Kafi yang ditulis oleh Kulaini, ataukah merupakan tambahan yang ditulis setelah kitab Al Kafi, bisa dilihat dalam kitab Raudhatul Jannat jilid 6hal 176-188, seolah-olah penambahan dalam kitab adalah hal biasa dan sangat mungkin terjadi..

Yang lebih berbahaya, seorang ulama syiah terkemuka yang bernama Husein bin Haidar Al Karki Al Amili [wafat th 1076 H] mengatakan: kitab Al kafi berjumlah lima puluh jilid, memuat riwayat dengan sanad yang bersambung pada para imam [Raudhatul Jannat jilid 6 hal 114], sementara Thusi [wafat 360 h] mengatakan bahwa kitab Al Kafi berjumlah 30 jilid,…. [lihat Al Fahrasat hal 161].

Apakah kitab Al Kafi mengalami penambahan selama kurun waktu antara abad ke lima dan sebelas hijiriyah? Tambahannya pun bukan sedikit, tapi 20 jilid, padahal setiap jilid terdiri dari banyak bab yang memuat banyak hadits. Mungkin hal ini tidak menjadi masalah bagi syiah, jika mereka berani memalsu riwayat dari Nabi SAAW dan Ahlulbait, mestinya memalsu buku dari gurunya bukanlah hal susah, bukti dalam hal ini sangat banyak, yang kami paparkan sudah cukup bagi mereka yang mau menggunakan akalnya yang masih sehat.

Kita tanyakan lagi pada penganut syiah, mana sumber ajaran agama kalian? Kalian banyak menggunakan logika dan mantiq karena miskin dalil naqli, apalagi setelah tahu bahwa kitab literatur kalian terbukti masih harus diragukan lagi validitasnya.

Catatan Awi Sirep: Tanya Jawab dngn Habib Munzir Al Musawa ttg Syiah...

_________________Tanya (ADHE09) :_________________

Assalamu'alaikum wr.wb

Habib Munzir yg ana cintai..ana mau tanya tntang IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia) yang brpusat di yogyakarta.mereka itu ber aliran syiah dari iran.tapi yg ana bingung tdk ada satupun pengurusny yg ahlul bait.apa pendapat habib dan apakah aliran mereka sesat atau tidak.terimakasih atas jwbannya..
Assalamu'alaikum wr wb.

_________________Jawab (Habib Munzir) :_________________

Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Cahaya Keberkahan Lailatul Qadr semoga selalu menerangi hari hari anda dengan kebahagiaan,

Saudaraku yg kumuliakan,
syiah mempunyai banyak golongan yg terpecah pecah, saya belum pernah mendengar kelompok yg di Jogja ini, namun jika mereka terbukti telah menyalahkan para sahabat dan khulafa'urrasyidin maka mereka sesat, dan sebagian besar syiah demikian

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

Wallahu a'lam


_________________Tanya (wiribi) :_________________

Salam Habib yang dirahmati Allah Swt.

Ana mau tanya, antum mengatakan bahwa sebagian besar Syiah itu sesat, berarti ada Syiah yang tidak sesat, Syiah yang manakah itu?

Syukran

_________________Jawab (Habib Munzir) :_________________

Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Rahmat dan kebahagiaan semoga selalu menyelimuti hari hari anda

Saudaraku yg kumuliakan,
beribu maaf selama 10 hari tidak online hingga tak bisa untuk menjawab pertanyaan anda

saudaraku, syiah yg tidak sesat adalah mereka yg mengikuti ahlussunnah waljamaah, tidak mencaci sahabat, memuliakan mereka, namun mereka memuliakan dan mendahulukan ahlulbait Rasul saw dalam segala hal, kelompok ini sangat sedikit, mereka termasuk golongan ahlussunnah waljamaah, namun condong pada ahlulbait dalam segala hal, dan mereka mengaku sebagai syiah karena menurut mereka bahwa ahlussunnah waljamaah kurang memuliakan ahlulbait Rasul saw.

hal seperti ini wajar saja dan bisa dimaklumi selama tidak bertentangan dg syariah.

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

Wallahu a'lam

_________________Tanya (wiribi) :_________________

Salam Habib yang dirahmati Allah.

Bagaimana kalau sahabat itu membangkang perintah Nabi Saw atau membunuh keluarganya yang suci. Bukankah dia layak untuk dicela dan dilaknat? Sebagai contoh; orang-orang dari golongan Bani Umayyah seperti Mu'awiyah atau Yazid yang katanya seorang khalifah atau sahabat dari kalangan Ahlussunnah, akan tetapi mereka telah berani melakukan kejahatan maha agung di alam semesta ini kepada Nabi Saw? Mereka telah melakukan penghianatan kepada Rasulullah Saw dengan menginjak-injak keluarganya hingga membunuh dengan sadis putra kesayangan Rasul Saw, yaitu Imam Husain bin Ali di padang Karbala beserta keluarga dan sanak kerabat dan juga sahabat-sahabat imam, merampas putri-putri Rasulullah Saw yang juga putri-putri Imam Ali!

Muawiyah dan Yazid, layakkah mereka diberi gelar sahabat dan khalifah? Bukankah mereka lebih layak dicaci dan dilaknat?

_________________Jawab (Habib Munzir) :_________________ ( - mngkin salah ketik pada kalimat Yazid dan Muawiyah, mksdnya mgkin Yazid bin Muawiyah, tmbahan : awi sirep - ) _________________

Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Kesejukan Rahmat Nya dan Keindahan Dzat Nya swt semoga selalu menaungi hari hari anda dg kebahagiaan,

Saudaraku yg kumuliakan,
ada hal yg perlu diklarifikasi dalam sejarah,

pembunuhan atas Imam Husein ra bukan oleh Muawiyah, tapi oleh Yazid dan Muawiyah.

tidak terjadi perampasan putri putri keturunan Imam Ali kw.

mengenai kejadian ini adalah cobaan yg demikian dahsyat, dan Muawiyah ra ini dihasud oleh musuh musuh islam dari kaum munafikin bahwa Ali bin Abi Thalib kw membiarkan berkeliarannya pembunuh Khalifah Utsman ra, Muawiyyah ra termakan hasutan, sebagaimana beberapa sahabat lainnya, namun Muawiyyah dikabarkan Taraju' dan berwasiat kepada putranya Yazid untuk mengembalikan kepemimpinan Khalifah kepada putra putra Imam Ali kw.

Muawiyah ra wafat dalam tobat dan islam dan Iman, hal ini diakui oleh Jumhur Imam Imam Ahlulbait dan Imam Imam Ahlussunnah waljamaah diluar ahlulbait.

mengenai Yazid bin Muawiyah memang merupakan penguasa dhalim, namun iapun termakan hasutan kaum munafikin yg mengatakan bahwa Imam Husein ra datang membawa pasukan untuk merebut kekuasaan, dan memang tampaknya secara dhahihrnya memang demikian,
karena Imam Husein ra memang diundang oleh kaum khawarij untuk di Bai'at sebagai Khalifah, maka Imam Husein ra pun terpancing untuk menerima undangan kaum khawarij, lalu kabar sampai pada Yazid dan ia mengeluarkan pasukannya untuk menghabisi Imam Husein ra yg disangka akan memberontak dan merebut khilafah,

maka pembantaian terjadi, kita tidak menyangkal bahwa perbuatan itu adalah kedhaliman yg nyata.

namun kita tetap berjalan dg syariah dan Iman, apa yg diperbuat oleh Imam Ali Zainal Abidin putra Imam Husein ra?, apakah ia mencaci Yazid dan Muawiyah?

apa yg diperbuat Imam Jakfar Asshadiq ra, apakah ia mencaci mereka?,

munculkan satu dalil yg memperbolehkan mencaci muslimin?, sedangkan Rasul saw telah jelas jelas melarang kita mencaci orang yg telah mati, sebagaimana sabda Rasul saw : "Janganlah kau caci orang yg telah mati, karena mereka telah berlalu kepada Allah" (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim).

apa urusan kita ikut ikut urusan yg telah terjadi 14 abad yg silam dg ikut ikut mencaci?, sebenarnya hal seperti ini mesti diadili, bukan dicaci, karena caci maki tidak membawa manfaat, bahkan akan membuat dosa dosa orang yg dicaci itu terhapus.

namun untuk diadili maka sudah terlambat karena ia telah wafat, biarlah pengadilan Allah swt yg Maha Adil yg akan mengadili dg seadil adilnya, apakah kita merasa lebih berhak dari Allah swt untuk mengadili hamba hamba Nya?,

kita berpanut pada Imam Imam kita dari golongan Ahlulbait dan bukan Ahlul bait yg tidak mencaci Muawiyah dan Yazid, mereka para Imam Imam kita berpanut pada Rasulullah saw, dan Rasul saw sudah tahu bahwa cucunya akan dibantai begitu rupa, namun beliau saw tak mencaci mereka.

singkatnya saudaraku, jika kita mengakui cinta pada ahlulbait dan berada di fihak ahlulbait, maka ikutilah ajaran imam imam ahlulbait, bagaimana budi pekerti mereka terhadap musuh, bagaimana sucinya jiwa mereka dari mencaci, bagaimana indahnya akhlak mereka pada semua makhluk Allah swt, mereka mewarisinya dari Rasulullah saw,

jika kita mencaci maki, maka siapa yg kita ikuti?, kita hanya mengikuti hawa nafsu saja, dan justru hal ini membuat kita terlempar dari kelompok Imam Imam Ahlulbait karena kita berkhianat pada mereka dan keluar dari bimbingan mereka dan mengatasnamakan hal ini sebagai ajaran ahlul bait.

maka saudaraku hindarilah caci maki.

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,

Wallahu a'lam

_________________Tanya (wiribi) :_________________

Salam Habib yang penuh dengan kedamaian

Afwan habib, sepertinya antum sudah berprasangka buruk kepada Imam Husain. Imam Husain tidak pernah sedikitpun dipikirannya terbesit untuk melakukan pemberontakan demi merebut kekuasaan tahta di dunia. Bagaimana mungkin seorang dari Ahlulbait Nabi yang telah disucikan Allah, dan telah disabdakan oleh datuknya Saw bahwa Imam Husain adalah pemimpin pemuda di surga, akan tergiur dengan perebutan kekuasaan? Tidak mungkin Habib yang mulia.

Imam Husain berkata, “Demi Allah. Aku tidak keluar ke Karbala ini dengan keangkuhan dan mencari perang. Sungguh aku keluar ke sini untuk mencari ishlah demi kepentingan umat datukku Muhammad saw. Aku ingin menegakkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar. Aku ingin berjalan di jalannya datukku Muhammad dan ayahku Alî al-Murtadha.”

Imam Husain tidak mungkin salah dalam memilih jalannya. Sehingga jelas bahwa kekuasaan pada saat itu berada di tangan orang yang dzalim dan durhaka Yazid bin Mu'awiyah beserta para pengikutnya yang memerangi Imam hingga terbunuh syahid di padang Karbala.

Benar apa yang telah disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw, Dari Jarir (bin Abdullah Albajali), Nabi saw berkata kepadanya ketika Haji Wada' (haji terakhir dalam hidupnya Nabi saw), "Suruh tenanglah orang banyak itu (para sahabat disekitar Nabi)!" Kemudian beliau bersabda, "Janganlah kamu KAFIR kembali sesudahku, dimana sebagian kamu memenggal leher yang lain" (Sahih Bukhari juz 1 Bab Ilmu)

Disini sangat jelas kekafiran Yazid bin Mu'awiyah disini dengan melakukan kejahatan yang tak pernah dilakukan oleh orang paling jahat sekalipun di dunia ini kecuali Yazid dan para pengikutnya yang telah membunuh dan memenggal kepala Imam Husain beserta keluarga dan para sahabatnya, dia telah membunuh keluarga suci pengemban risalah kenabian, keluarga suci tempat turunnya para malaikat dan keberkahan, keluarga suci Muhammad Saw.

Inilah kejahatan yang tiada tara di alam semesta ini yang tertimpa kepada keluarga Nabi. Terungkaplah bahwa sebagian sahabat telah kafir sepeninggal Rasulullah Saw.

"Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya." (QS. An-Nisaa: 93)

Bagaimana mungkin umat manusia yang mengetahui hal ini dan menyaksikannya tidak melaknat perbuatan yang maha dzalim ini dan melupakannya begitu saja? Melaknat orang-orang yang dzalim adalah bukan hawa nafsu tetapi ajaran Al-Quran itu sendiri. Sungguh, Nabi dan keluarganya pun juga melaknatnya.

"Mereka itu, balasannya ialah: bahwasanya laknat Allah ditimpakan kepada mereka, (demikian pula) laknat para malaikat dan manusia seluruhnya" (QS. Ali-Imran:88)

Imam Husain telah dijuluki oleh seluruh ulama bahwa beliau adalah pemimpin para Syuhada (rajanya orang-orang yang mati syahid). Mati syahid berarti mati dijalan Allah, berarti mati dalam kebenaran yang nyata demi tegaknya agama Muhammad Saw (bukan karena perebutan kekuasaan), sehingga dengan sangat jelas bahwa lawannya adalah berada pada kekafiran yang sangat nyata.


_________________Tanya (wiribi) :_________________


Salam Habib yang dirahmati Allah.

Mengenai mencela atau mencaci, bukankah Mu'awiyah sendiri telah mencaci Ahlulbait Nabi? Dia telah mencaci Imam Ali bin Abi Thalib. Banyak dikalangan ulama Ahlussunnah itu sendiri telah menuliskan di dalam kitab-kitab besar mereka bahwa Mu'awiyah selalu melakukan cacian dan makian hingga melaknat Imam Ali di setiap mimbar-mimbar Shalat Jumat. Layakkah Mu'awiyah dikatakan sahabat atau khalifah Nabi yang dengan jelas menunjukkan kebenciannya kepada Ahlulbait Nabi khususnya kepada Imam Ali?

Di antara bukti yang memperjelas kekafiran Mu'awiyah dan sahabatnya adalah perintahnya terhadap kaum Muslimin untuk melaknat Ali dan memaksa mereka agar melakukannya dengan ancaman yang berat. Dia perintahkan orang-orang agar melakukan kemungkaran tersebut pada setiap khutbah Jumat mereka. Perbuatan Mu'awiyah ini telah tertulis dengan sangat jelas di dalam banyak kitab sejarah, baik yang bersumber dari kalangan Syiah sendiri ataupun dari kitab-kitab besar tarikh dan/atau hadits kalangan Ahlussunnah Wal Jama'ah.

Mu'awiyah membunuh kaum Mukmin yang berusaha mencegah dan membangkang peraturan itu seperti Hujr bin Adi dan para sahabatnya. Seluruh ulama Mazhab Islam telah menetapkan hadits mutawatir ketika Nabi Saw bersabda, "Barangsiapa mencaci Ali, berarti dia telah mencaci diriku dan barang siapa mencaciku, berarti dia telah mencaci Allah Swt!"

Banyak dari kalangan ulama besar Ahlussunnah seperti Ahmad bin Hanbal dalam kitabnya Al-Musnad, An-Nasa'i dalam kitabnya Al-Khasha'is, Al-Tsa'labi dalam tafsirnya, Fakhrurrazi dalam kitab tafsirnya, Ibnu Abi Al-Hadid dalam Syarh Nahjul Balaghah, Allamah Al-Kanji Asy-Syafi'i dalam Kifayatut Thalib, Sabath bin Al-Jauzi dalam Al-Tadzkirah, Syaikh Al-Qundusi Al-Hanafi dalam Yanabi' AL-Mawaddah, Allamah Al-Hamdani dalam Mawaddatu al-Qurba, Al-Dailami dalam Firdaus, Syaikh Muslim bin Hajjaj dalam Shahih-nya (Shahih Muslim), Muhammad bin Thalhah dalam Mathalibu al-Su'al, Ibnu Shabagh al-Maliki dalam al-Fushul, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, Al-Khatib al-Khawarizmi dalam Al-Manaqib, Syaikhul Islam Al-Humawaini dalam Al-Fara'idh, Al-Faqih Asy-Syafi'i Ibnu Al-Maghazili dalam Al-Manaqib, Thabari dalam Adz-Dzakha'ir, Ibnu Hajar dalam As-Sawa'iq al-Muhriqah dan lain-lainnya dari para ulama besar Anda (Ahlussunnah wal Jama'ah).

Hadis yang diriwayatkan oleh mereka sangatlah banyak, di antaranya sabda Nabi Saw, "Barangsiapa menyakiti Ali, maka dia telah menyakitiku, dan barangsiapa yang menyakitiku maka laknat Allah baginya."

Ibnu Hajar meriwayatkan sebuah hadis yang lebih umum dan lebih mencakup persoalan di atas, yaitu dalam al-Shawa'iq bab tentang peringatan bagi orang-orang yang membenci Ali, ia berkata bahwa Nabi Saw bersabda, "Wahai Bani Abdul Muthalib! Aku memohon kepda Allah bagi kalian tiga hal; Agar menguatkan kedudukan kalian, memberikan petunjuk bagi orang yang masih tersesat di antara kalian, dan mengajarkan orang-orang yang bodoh di antara kalian, dan aku juga memohon kepada Allah agar kalian menjadi orang-orang yang mulia dan pengasih. Oleh karena itu apabila ada seseorang yang menganggap dirinya suci, membasuh kakinya dan sebagian tubuhnya untuk berwudhu kemudian ia shalat dan berpuasa tetapi dia membenci Ali dan Ahlulbaitku, dia akan masuk neraka."

Dalam hadis lain Nabi Saw bersabda, "Barangsiapa menjelek-jelekkan Ahlulbaitku maka ia termasuk orang yang murtad kepada Allah dan keluar dari Islam dan barangsiapa menyakiti Ahlulbaitku maka laknat Allah kepadanya dan barang siapa menyakitiku di dalam Ahlulbaitku, maka ia telah menyakiti Allah. Sesungguhnya Allah mengharamkan surga kepada orang-orang yang menzalimi Ahlulbaitku atau memerangi mereka, atau membantu atas pembunuhan terhadapnya, atau orang-orang yang menghinanya."

Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam Musnad, dan yang lainnya dari ulama-ulama Ahlussunnah Wal Jama'ah, bahwasannya Nabi Saw bersabda, "Barangsiapa menyakiti Ali, maka pada hari kiamat akan dibangkitkan dalam keadaan Nasrani atau Yahudi."

Ibnu Al-Atsir dalam kitabnya Al-Kamil serta yang lainnya dari ahli sejarah Ahlussunnah bahwa terbukti Mu'awiyah ketika melaksanakan doa qunut pada shalat Shubuh, ia melaknat Imam Ali, Al-Hasan, Al-Husain, Ibnu Abbas dan Malik Al-Asytar.

Apa yang Antum katakan setelah disampaikannya hadis-hadis yang terdapat dalam kitab-kitab ahli hadis dari kalangan Ahlussunnah itu sendiri, tidak ada seorangpun dari ulama besar Ahlussunnah Wal Jama'ah yang mengingkarinya.

Seluruh ulama telah mengetahui bahwa diantara masalah pokok dalam Islam yang telah disepakati adalah barangsiapa melaknat atau menghina Allah Swt dan Rasul-Nya maka ia adalah orang kafir yang najis dan terlaknat.

Ada sebuah hadis yang telah diriwayatkan oleh Allamah Al-Kanji Asy-Syafi'i, seorang ahli fiqih Ahlussunnah di dua tanah suci Makkah dan Madinah, juga seorang pemberi fatwa Iraq dan ahli hadis di negri Syam. Hadis ini juga bersumber dari seorang Ahlussunnah hafizh atau penghafal Al-Quran, Abu Abdillah Muhammad bin Yusuf Al-Quraisyi, yang terkenal dengan Allamah Al-Kanji, penulis kitab Kifayatut Thalib, dinukil dalam bab 10 dengan sanad yang bersambung kepada Ya'qub bin Ja'far bin Sulaiman, ia berkata, saya berada bersama bapakku, Abdullah bin Abbas dan Said Ibnu Jabir yang membawa kami melewati tepian sumur Zamzam. Tiba-tiba ada sebuah kaum dari penduduk Syam yang mencerca Ali, Abdullah bin Abbas kemudian berkata kepada Said, 'Kembalilah kepada mereka.' Dan ketika unta yang mereka tumpangi tiba di tempat mereka berkumpul, Ibnu Abbas berkata, 'Adakah di antara kalian yang sedang menghina Allah?' Mereka berata, 'Mahasuci Allah! Tak seorang pun di antara kami yang menghina Allah!' Ibnu Abbas melanjutkan, 'Adakah di antara kalian yang sedang menghina Nabi Saw?' Mereka menjawab, 'Tentu tidak seorang pun dari kami yang menghina Nabi Saw.' Ia berkata, 'Siapa di antara kalian yang menghina Ali bin Abi Thalib?' Mereka serempak berkata, 'Kalau ini memang ada.' Dia berkata, 'Saya bersaksi kepada Nabi Saw bahwa saya telah mendengar darinya pernah berkata kepada Ali, 'Barangsiapa menghinamu berarti ia telah menghinaku dan barangsiapa menghinaku ia telah menghina Allah, dan barangsiapa menghina Allah, ia akan dicampakkan ke dalam api neraka!"

Hadis ini diriwayatkan oleh banyak para ulama besar Ahlussunnah yang sanadnya bersambung ke Ibnu Abbas. Mereka itu antara lain adalah Allamah al-hafizh al-Faqih Ibnu al-Maghazili dalam kitabnya Manaqib al-Imam Ali, dalam hadis no. 447. Dikeluarkan juga oleh al-Muhibb at-Thabari dalam kitab Riyadh an-Nadhirah, juz 2 melalui jalan al-Malla dalam kitab sejarahnya. Demikian pula al-Muwafiq al-Khawarizmi meriwayatkan di dalam kitabnya Manaqib, Allamah Zarnadi dalam kitab Nuzhum Durur al-Samthain.

Banyak dari kalangan ulama besar Ahlusunah meriwayatkan dari Nabi Saw, dengan sabdanya, "Barangsiapa mencintai Ali, ia adalah orang mukmin dan barangsiapa membencinya, ia adalah orang munafik." Hadis semacam ini banyak diriwayatkan oleh para ahli hadis besar dari kalangan Ahlussunnah, seperti Jalaluddin As-Suyuti dalam Ad-Durr Al-Mantsur, Al-Tsa'labi dalam kitab Tafsir-nya, Allamah Al-Hamdani dalam Mawaddatu Al-Qurba, Ahmad bin Hanbal dalam Musnad, Ibnu Hajar dalam Shawa'iq, Al-Khawarizmi dalam Manaqib, Allamah Ibnu Maghazili dalam Manaqib, Hafizh al-Qunduzi al-Hanafi dalam Yanabi al-Mawaddah, Ibnu Abi Al-Hadid dalam Syarh Nahjul Balaghah, Thabrani dalam Aushath, Muhibb Thabari dalam Dzakha'irul Uqbah, An-Nasa'i dalam Khashais, Allamah Al-Kanji Asy-Syafi'i dalam kitab Kifayatut Thalib, Muhammad bin Thalhah dalam Mathalibu al-Su'al, Sabath al-Jauzi dalam Tadzkiratul Khawash, Ibnu al-Shabagh al-Maliki dalam Fushul Al-Muhimmah, dan lain-lainnya.

Mereka seluruhnya mengeluarkan hadis dengan sanad-sanad mereka dan dengan jalan yang beragam pula, sehingga kedudukan hadis itu termasuk dalam kategori hadis Mutawatir, dimana semua telah bersepakat bahwa orang munafik dan orang kafir yang disebabkan karena mencaci dan menyakiti Ali bin Abu Thalib, niscaya akan masuk neraka.

Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya orang-orang munafik berada di bagian paling bawah dari api neraka.” (QS. An-Nisa: 154)

Disebutkan oleh ulama Ahlussunnah Ibnu Shabagh al-Maliki di dalam kitab al-Fushul al-Muhimmah yang dinukil dari kitab al-Ali, karangan Ibnu Khalawiyah dari Abu Sa’id Al-Khudri, Nabi Saw berkata kepada Ali, “Kecintaan kepadamu merupakan keimanan. Rasa benci kepadamu adalah kemunafikan. Orang yang pertama kali masuk surga adalah orang yang mencintaimu dan orang yang pertama kali masuk neraka adalah orang yang membencimu.”

Diriwayatkan oleh ulama Ahlussunnah al-Hamdani dalam kitabnya Mawaddah al-Qurba, bab Mawaddah ketiga, juga Syaikh Islam Ahlussunnah Humawaini dalam kitabnya Fara’idus Simthain, Rasulullah Saw bersabda, “Tidak ada orang yang mencintai Ali kecuali orang mukmin dan tidak ada yang membencinya kecuali orang kafir.” Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Nabi Saw berbicara kepada Ali, ‘Tidak ada yang mencintaimu kecuali orang mukmin, dan tidak ada yang membencimu kecuali orang munafik.” (Terdapat juga di kitab Nahjul Balagah khutbah ke-22, 148, 172 dan 156. Kitab al-Imamah wa al-Siyasah hal 48, ulama besar Ahlussunnah Ibnu Qutaibah)

Diriwayatkan oleh Muhammad bin Thalhah dalam kitabnya Mathalib al-Sual dan Ibnu Shabagh al-Maliki dalam al-Fushul meriwayatkan dari Imam at-Turmudzi dan An-Nasa’i dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata, “Saya tidak pernah mendapatkan orang munafik pada masa Rasulullah kecuali mereka yang membenci Imam Ali!”

Perang Nahrawan menentang Ali, penipuan Mu'awiyah terhadap Imam Hasan, cacian Muawiyah di atas mimbar terhadap Ali di masjid-masjid, perlantikan Yazid, seorang peminum arak, pembunuhan Imam Husain, anak-anak dan keluarganya serta sahabatnya sebanyak 72 orang, pembunuhan massal di Madinah yang diketuai oleh Muslim bin Uqbah, panglima Yazid, 80 orang sahabat Nabi yang telah menyertai Perang Badar dibunuh dalam Perang al-Hurrah. Bukti-bukti ini juga dapat Antum temui di dalam kitab Ahlussunnah Ibn Qutaibah, Al-Imamah wal-Siyasah, I, hlm. 216

Begitu jelas Bani Umayyah mencaci Ali di atas mimbar masjid selama 70 tahun, bermula dari Muawiyah, berterusan sehingga pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Cacian dihentikan selama dua tahun lebih, kemudian diteruskan semula. Lihatlah dalam kitab Ahlussunnah As-Suyuti, Tarikh al-Khulafa', hlm. 243.

Terungkaplah dengan sangat jelas kekafiran dan kemunafiqan Mu'awiyah yang telah mencaci maki dan melaknat secara terang-terangan kepada Ahlulbait Nabi. Bukti-bukti telah/akan terlihat jelas apabila kita benar-benar mengkaji Agama dengan menyeluruh dengan hati yang bersih dan menghilangkan segala bentuk fanatisme mazhab.

Habib yang saya cintai, layakkah orang yang akan masuk Neraka Jahannam itu diberi gelar Khalifah atau sahabat Nabi?


_________________Jawab (Habib Munzir) :_________________

Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Kesejukan Rahmat Nya dan Keindahan Dzat Nya swt semoga selalu menaungi hari hari anda dg kebahagiaan,

Saudaraku yg kumuliakan,
anda keliru memahami ucapan saya, Imam Husein adalah datukku dan pada tubuh ini mengalir darah Imam Husein ra.

bukan merebut tahta keduniawian sebagaimana tuduhan anda kepada saya, dan kalimat itu tak ada dalam ucapan saya diatas, cuma anda mesti berhati hati akan racun syiah yg selalu memandang dari segi yg buruk daripada segi yg baik pada sahabat Rasul saw.

dan dalam hal ini kebenaran adalah jelas di fihak Imam Husein ra, namun Yazid terpancing hasutan, yg mengatakan bahwa Imam Husein ra datang ingin merebut kekuasaannya.dan Yazid telah berbuat dhalim kepada Imam Husein ra.

namun sebagaimana saya jelaskan bahwa Rasul saw dan seluruh pembesar ahlulbait tak mengajarkan mencaci muslim.

mengenai hadits riwayat Shahih Bukhari yg anda sampaikan pd kejadian hujjatul wada, baiknya anda jangan berfatwa buta, lihat makna hadits tsb, bagaimana asbab wurudnya,

jika semua orang yg memerangi muslim adalah kafir, lalu bagaimana dengan Imam Ali kw yg juga memerangi orang muslim yaitu Ummulmukminin Aisyah ra dan sahabat lainnya?,
maka dengan penyampaian anda ini anda telah mengkafirkan imam Ali kw dan pengikutnya saat saling bunuh di perang Jamal?

silahkan laknat Imam Ali kw karena beliau juga memimpin perang melawan Istri Rasulullah saw.

tentunya ini pendapat hawa nafsu, cukupkanlah dari mencaci orang muslim, lihat ucapan ketika Imam Ali mendengar ada dari pengikutnya yang mencaci maki Muawiyah dan kelompoknya, beliau marah dan melarang, seraya berkata:
“ Aku tidak suka kalian menjadi pengumpat (pencaci-maki), tapi andaikata kalian tunjukkan perbuatan mereka dan kalian sebutkan keadaan mereka, maka hal yang demikian itu akan lebih diterima sebagai alasan. Selanjutnya kalian ganti cacian kalian kepada mereka dengan : “Yaa Allah tahanlah pertumpahan darah kami dan darah mereka, serta damaikanlah kami dengan mereka” (Nahjul Balaghah – 323)

Demikian pengarahan Imam Ali kepada pengikutnya dan pecintanya. Jika mencaci maki Muawiyah dan pengikutnya saja dilarang oleh Imam Ali, lalu bagaimana dengan orang-orang Syiah sekarang yang mencaci maki bahkan mengkafirkan Muawiyah dan pengikut-pengikutnya, layakkah mereka disebut sebagai pengikut Imam Ali kw?

satu pertanyaan saya yg menjawab semua pernyataan anda, adakah Imam Ali kw mencaci Muawiyah ra, adakah Imam Husein ?, atau Imam Hasan?, atau Imam Ali Zainal Abidin ra mencaci orang yg membunuh ayahandanya?, adakah Imam Muhammad Al Baqir?, atau Imam Jakfar Asshadiq.?,

lalu siapa yg anda ikuti?, bukankah kalian mengaku mencintai Ahlulbait?

kami ahlussunnah waljamaah mengikuti ajaran Imam Imam ahlulbait, kalian mengikuti siapa?, atau kalian merasa lebih benar dan lebih tahu islam dari Imam Ali kw?, atau lebih benar dari Imam Imam Ahlulbait?

Demikian saudaraku yg kumuliakan, cobalah berfikir dengan Iman, tidak usah berfatwa dengan hawa nafsu, cukup ikuti perbuatan Imam Ali kw, ikuti perbuatan Imam Imam Ahlulbait, bagaimana sujud mereka, akhlak mereka pada teman dan musuh, inilah pengikut ahlulbait.

semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,

Wallahu a'lam

__________________SELESAI________________________________

..............................................

ini msing hnya ksimpulan dri awi aja.. oke..

syiah masing myakini Muawiyah ra mnyuruh rang2 mencaci maki ahlul bait Nabi SAW.. hnya masing ahlul Bait Nabi SAW tdk prnah mngajarkan mncaci maki...

jd klo mang syiah mngaku mahzab ahlul bait.. tp masing mencaci para Sahabat & Isteri Nabi SAW.. mk pda dasarnyaa pngakuan mahzab ahlul bait adlh dusta...

klo seandainya Muawiyah ra mang mnyuruh mencaci maki (sperti kyakinan syiah)... maka nyang benar mahzab mrk adlh mahzab Muawiyah...

Salam Perjuangan!!

Assalamu'alaikum wr wb

Allahuakbar!!

Salam Perjuangan!

"akan selalu ada satu kelompok dari umatku yang berperang (berjuang) di atas kebenaran, mereka menang, hingga hari kiamat (HR. Shahih Bukhori-Muslim)

Saudara-saudarku seiman dan seperjuangan semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, rezeki dan keistiqomahan dalam perjuangan penegakkan Syariah dan Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah yg kita rindukan ini. Yakinlah Janji Allah SWT itu adalah benar bagi kita yang telah berikrar berjuang dijalanNYA pasti akan diberikan kemenangan sebagaimana firmanNYA :

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nur : 55)


Yakinlah firman Allah SWT tsb adalah suatu janji kebenaran yg mutlaq bagi hambanya yang berjuang DijalanNYA sampai kemuliaan dan kejayaan Islam kita dapatkan atau kita musnah sama sekali dimuka bumi ini mendapatkan syahadah dalam perjuangan yg mulia ini.
Namun tentunya saudara-saudaraku kita sebagai seorang hamba yang mengaku pejuang tentunya kita harus senantiasa membersihkan diri dan terus meneguhkan keimanan dan senantiasa menjaga ketaqwaan kita kepadanya dengan cara selalu meninggalkan apa-apa yang dilarangNYA dan mengerjakan apa-apa yang diperintahkanNYA, serta tak lupa pula kita agar selalu senantiasa melaksanakan amaliyah yang disukaiNYA. Tentunya kita melaksanakan itu semua dengan Ikhlas dan hanya mengharap keridhoan, pahala dan rahmat dariNYA Semuanya itu wahai saudaraku haruslah ada pada diri kita, pabila kita ingin perjuangan yang mulia ini diridhoi dan digenapkan oleh Allah SWT sebagaimana yang telah dijanjikanNYA.

Tentunya dalam menapaki perjuangan ini kita pasti melewati apa yang dinamakan ujian yang berupa godaan, kesukaran, musibah, kebosanan/ketidaksabaran dsbnya. Dan itu wahai saudaraku adalah syarat mutlak yg harus kita lalui didalam perjuangan ini

Firman Allah SWT :
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (Surah Al-Ankabut ayat 2-3)

Rasulullah saw bersabda :
" Perumpamaan orang mukmin ibarat sebatang pokok yang lentur diombang-ambing angin, kadang hembusan angin merobohkannya, dan kadang-kadang meluruskannya kembali. Demikianlah keadaannya sampai ajalnya datang. Sedangkan perumpamaan seorang munafik, ibarat sebatang pokok yang kaku, tidak bergeming oleh terpaan apapun hingga (ketika) tumbang, tumbangnya sekaligus".
(Bukhari : Kitab Al-Mardha, Bab I, Hadist No. 5643, Muslim No. 7023, 7024, 7025, 7026, 7027).

Yakinlah semakin banyak godaan, cobaan yang berhasil kita lalui, tentunya itu menandakan bahwa perjuangan yang kita jalankan ini adalah memang benar sebuah perjuangan. Suatu kemenangan itu pabila di dapatkan dengan kemudahan dan waktu yang instant, maka yakinlah pastilah itu bukanlah sebuah perjuangan. Dan tentunya hanya dengan kesabaran dan keistiqomahan yang besarlah maka perjuangan yang kita lakukan itu adalah perjuangan yang besar.

Firman Allah Swt :
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”. (Surah Al-Imran ayat 200)

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’”. (Surah Al-Baqarah ayat 45)

Maka dari itu wahai saudaraku bersabarlah dan tetaplah istiqomah dalam perjuangan ini. Yakinlah Allah SWT pasti akan menolong setiap hambanya yang berjuang dijalanNYA :

Firman Allah SWT :
“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa,” (QS. Al Hajj : 40)


dan semoga kita termasuk golongan yang sebagaimana Rasulullah SAW sabdakan dan semoga Allah SWT memberikan kita kesempatan umur agar dapat melihat dan merasakan kemenangan-kemenangan yang dijanjikanNYA

Allahuakbar!! Allahuakbar!! Allahuakbar!!

Salam Perjuangan!!

Wasalamu’alaikum wr wb

Bahaya Ghazwul Fikri ! ( Perang Pemikiran )

Assalamualaikum warahmatullah

Semangat siang semuanya. Alhamdulillah kita dipertemukan kembali.

Segala puji bagi Allah yang telah mempertemukan kita kembali dan Salawat serta salam kita curahkan kepada Rasulullah, keluarga bserta Sahabat2xnya. Allahuma Amiin

Mengenai artikel kali ini, ana akan membawakan sebah materi tentang Ghazwul fikri(perang pemikiran). Materi ini saya bawakan adalah agar kita mampu memilih mana yang seharusnya kita pilih di masyarakat yang 'majemuk' saat ini. Walaupun berbeda2x, sudah seharusnya kita berperinsip yang sesuai dengan Syariah karena Islam adalah agama kita. Jadi bukan berarti ketika kita berada di suatu lingkungan yang femikiran2xnya tidak bermayoritas islami, maka kita akan terus berlaku islami.

Sebagai contoh adalah masalah hijab dan cadar, hijab dan cadar sudah semestinya menjadi barang yang tidak asing ditelinga maupun di lingkungan yang mayoritas penduduknya adalah beragama islam. Namun sepertinya yang saya lihat, hal itu tidaak terlihat di indonesia, bisa jadi hal ini dipengaruhi oleh keadaan dimana masyarakatnya tidak terbiasa dengan keadaan seperti itu. dan keadaan seperti ini seolah teklah memerangi prinsip2 islam yang ada di masing2x pribadi muslim untuk menyikapi masalah hijab dan cadar ini. Oleh karena itu untuk mengurangi dampak dari keterasingan ini, mungkin ana akan mencoba untuk memberikan suatu artikel untuk membahas masalah perang seacam ini.

Untuk mempersingkat, akhir kata dari ana, mari tunjukkanlah kepada dunia bahwa kita adalah seorang muslim

***


Perang. Siapa yang suka perang? Normalnya manusia tidak suka. Apalagi kaum ibu. Tapi ada saja pihak-pihak yang dengan sengaja mengobarkan perang karena maksud-maksud menguasai pihak-pihak yang ingin dikuasai. Dewasa ini perang tidak hanya menggunakan senjata fisik seperti bedil dan tombak. Dewasa ini perangnya bahkan lebih berbahaya karena yang mengobarkan perang justru menyembunyikan aktifitasnya dengan berbagai bungkus sehingga musuh yang diperangi tidak sadar sedang diperangi. Tujuannya tetap sama, yaitu mengalahkan dan menguasai musuh, hanya caranya yang berubah drastis.

Perang yang kita bicarakan ini adalah yang sangat konsepsional, sangat luas bidangnya, sangat lihai dalam memilih cara sehingga tidak disadari musuh, sangat jauh dampaknya kepada jiwa lawan dan sangat lama masa berlangsungnya. Ghazwul Fikri. Secara bahasa artinya perang pemikiran. Ada yang mengistilahkan dengan perang urat syaraf.

Perang ini baru muncul sekitar awal abad duapuluh dan merupakan upaya musuh-musuh untuk menjatuhkan kekuatan Islam secara tuntas. Ghazwul fikri dilaksanakan dengan cara melakukan dua tipudaya dasar yang disusupkan dalam fikrah (pemikiran) ummat Islam. Tiga tipudaya tersebut adalah takhwif (usaha untuk menimbulkan rasa takut kepada selain Allah), dan tadl-lil (usaha pengkaburan berbagai konsepsi dalam fikrah Islami). Adapun bentuk-bentuk upayanya dapat sangat beragam, antara lain:

- dengan berbagai opini sesat di media dan di tengah masyarakat muslim

- melalui film, sandiwara, pertunjukan seni, maupun lirik-lirik lagu yang dikemas indah

- melalui berbagai bentuk fiksi baik fiksi murni, fiksi ilmiah, cerita komik, cerita drama sampai cerita anak

- melalui berbagai sandiwara politik dan peristiwa seperti sandiwara Holocaust dimasa Perang Dunia II dan lain-lain

- melalui berbagai acara ilmiah yang mempertontonkan berbagai kecanggihan militer dan intelijen mereka

- melalui penyebaran berbagai adat kebiasaan non-Islam yang dipromosikan dan dikemas dengan berbagai keindahan dan kemeriahan

Mungkin masih banyak lagi cara-cara dan media perang mereka yang kita belum tahu, namun intinya tetap sama. Ini perang sungguhan dan ini perang yang curang.

Kecurangan yang paling nyata adalah dalam cara mereka bersembunyi ketika menyerang. Berbagai film-film menarik yang bahkan dinobatkan (oleh mereka sendiri) sebagai film-film terbaik, ternyata di dalam film itu ada berbagai propaganda anti Islam yang menusuk.

Promosi berbagai perayaan adat jahiliyah yang dikemas sedemikian rupa sebagai “warisan pelecehan terhadap nilai-nilai tinggi Islam. Misalnya di Mesir, digencarkan promosi kebudayaan Mesir kuno zaman Fir’aun, lengkap dengan segala atributnya dan berbagai upacara penyembahan berhala, itu semua bertujuan tersembunyi agar masyarakat Mesir yang kini Muslim mulai meninggalkan nilai-nilai Islam dan kembali bangga dengan nilai-nilai zaman Fir’aun.

Cobalah simak program-program sebuah channel tv khusus tentang berbagai kebudayaan dari tv berlangganan. Bahkan cd-cdnya dijual di toko cd.
Lalu untuk apa rubrik ini membicarakannya? Agaknya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa justru perang itu (Ghazwul Fikri) sangat tidak disadari di negeri ini. Para penjaga Benteng Terakhir negeri ini (baca: kaum ibu) apakah sadar bahwa setiap hari mereka dicekoki racun-racun Ghazwul Fikri lewat kotak kaca yang menjadi hiburan wajib setiap rumahtangga? Apakah para Penjaga Benteng Terakhir masih saja rela membelikan racun telinga dan jiwa bagi putra-putri mereka yang berbentuk berbagai format lagu, yang seolah wajib kini selalu hadir menghiasi pendengaran putra-putri kita dua-puluh-empat jam? 24 jam? Ya! Tidak jarang putra-putri kita belajar sampai tertidur tetap memasang alat mantra tersebut ke kuping mereka!

Mantra! Memang seperti mantra, boleh jadi lagu yang dipasang langsung ke telinga dapat mempengaruhi jiwa anak kita lewat kata-kata yang terdengar maupun tidak terdengar dari lagu tersebut. Efeknya bisa sampai seperti mantra. Seperti orang terhipnotis. Masih ingat fenomena Kurt Cobain musisi metal dari ujung Utara bumi yang membuat lagu tentang bunuh diri dan kemudian melaksanakannya? Kemudian jejak langkahnya diikuti oleh beberapa orang penggemarnya. Tersihir!

Tahukah para Penjaga Benteng Terakhir bahwa brainwashing atau cuci otak dapat terjadi dengan cara seseorang terus menerus mendengarkan kata-kata yang sama berulang-ulang, yang apalagi jika dikemas dengan nada-nada musik dan dentingan alat musik akan semakin memperkuat efeknya karena akan masuk ke bagian otak yang tanpa nalar? Jika seseorang sudah gandrung dengan suatu lagu, niscaya dia akan mendengarkannya berulang-ulang dan tak jarang mendengarkannya sambil sangat relaks yang berarti masuk ke tingkat kesadaran yang bisa dengan mudah disurupi jin?

Tanyakan pada para ahli ruqyah syar’iyyah (para terapis yang mempunyai ketrampilan mengobati orang kesurupan). Apakah para ibu muslimah dan para remaja penikmat lagu selalu mengerti apa yang dinyanyikan dalam lirik lagu kegemaran mereka? Banyak sekali yang mengaku tidak memperhatikan makna lagu, yang penting enak mengelus gendang telinga, meskipun kadang sebenarnya mudah saja mempelajari lirik lagu tersebut, tapi jarang yang secara serius mencoba mencari apa makna sebenarnya. Paling jauh sebagian besar penikmat lagu hanya mengingat arti dari bagian-bagian tertentu dari lagu tersebut, terutama kalau dianggap cocok. Misalnya refrain yang meneriakkan kata-kata pujian cinta atau patah hati.

Di era menjelang tahun 80-an, era kami-kami yang kepala empat masih remaja, ada lagu dari sebuah grup musik Queen yang berjudul Bohemian Raphsody. Lagu yang diteriakkan oleh Freddy Mercury yang minta disuntik mati karena AIDS tersebut, seluruh isinya adalah pelecehan terhadap nilai-nilai Islam, bahkan sampai penolakan atas takdir (“ sometimes ‘ wished I’ve never been born before”). Lagu ini dulu termasuk Hit, bahkan bertahan masih digemari hingga kini.

Masih ingat lagu berbahasa spanyol yang sempat ketahuan ternyata berbicara tentang iblis? Grup musik Last Ketchup yang melantunkan lagu tersebut bahkan mengakui tak faham isi lagunya karena berbahasa kuno. Itu mantra setan!

Masih-kah para Penjaga Benteng Terakhir merasa masa kini sudah tak ada lagi perang dan karenanya boleh bersantai dalam menjaga bentengnya? Masihkah kita menyangka bahwa zaman sudah berubah dan kini musuh-musuh Islam sudah beristirahat dari memerangi kita? Lihatlah ke sekeliling, dan lihatlah dengan teliti. Wallahua’lam. (SAN)

Sumber diambil: http://www.eramuslim.com/syariah/benteng-terakhir/perang-itu-namanya-ghazwul-fikri.htm

Keraguan Dan Keyakinan Taaruf serta Interaksi ketika Proses Pra Pernikahan

Saya seorang wanita 23 tahun masih kuliah semeter akhir, 2 bulan lalu saya menjalani proses taaruf dengan seorang ihwan yang baru mengaji, dari segi akhlak dia sangat baik terutama dengan keluarga, tak ada alasan saya untuk menolak proses ini, karena sikapnya dan agamanya walaupun baru mengaji tapi lebh memahaminya dari saya. saya menjalani proses ini dengan meminta petunjuk Allah. saya selalu shalat isthikharah ataupun do'anya jika tidak sempat hingga saat ini. tapi petunjuk Allah tidak datang melalui mimpi, tetapi melalui kemudahan-kemudahan proses ini. keraguan justru berasal dari diri saya apakah saya pantas mendapat seorang yang sifatnya sabar sedangkan saya seorang yang emosian dan banyak sifat buruk lainnya. saya khawatir ihwan ini menyesal dengan pilihannya karena melihat saya hanya dari segi penampilan saya. tapi selama menjalani proses ini keyakinan muncul sedikit demi sedikit kalau dia jodoh saya.

apakah saya boleh meyakini hal ini saya khawatir ini hanya berdasarkan nafsu untuk menikah?

lalu apakan saya pantas mendapatkan seorang laki2 yang baik lagi sopan, sedangkan saya seorang wanita yang keras kepala lagi punya sikap buruk.

ketika keyakinan itu datang saya meminta ihwan ini untuk segera menikah dengan saya, tapi dia meminta supaya ditunda hingga saya bisa menyelesaikan skripsi dahulu karena permintaan orang tuanya. bagaimana proses komunikasi saya dengan dia? apakah boleh saya chating untuk membahas masalah akad nanti? pertanyaan/obrolan apa yang dibolehkan, karena saya tidak mau terjebak perangkap syetan.. terima kasih


Jawaban

Saudariku yang dicintai Allah SWT, sungguh beruntung Anda mendapatkan seorang calon pendamping yang baik dan sopan. Anda telah mendapatkan sebagian dari nikmat Allah dengan memberikan Anda jodoh yang sholih.
Hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah bersyukur atas nikmat ini dengan cara memperkuat iman dan memperbanyak amal sholih. Yang kedua adalah menepis keraguan Anda untuk menikah dengannya. Tidak pada tempatnya jika Anda ragu dengan nikmat Allah tersebut karena jika ragu Anda bisa termasuk golongan orang yang kufur nikmat. Nikmat Allah tidak boleh ditolak. Sebab nanti nikmat tersebut bisa berubah menjadi azab. "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (QS. Ibrahim ayat 7).

Untuk menepis keraguan Anda, perbaikilah diri Anda segera. Hilangkan sikap keras kepala dan sikap buruk Anda segera. Masih ada waktu untuki berubah sampai saat indah pernikahan tiba. Jika pun sulit untuk berubah, mungkin saja kekuarangan Anda tersebut merupakan kelebihan yang menutupi kekurangannya ketika Anda sudah menikah kelak. Misalnya, orang yang keras kepala cocok untuk menjadi pendamping orang yang peragu.

Lalu tentang cara komunikasi Anda dengannya karena pernikahan masih lama (menunggu Anda selesai skripsi) adalah tidak usah berhubungan sama sekali kecuali jika ada persoalan yang sangat penting. Jangan tergoda untuk menghubungi dia hanya untuk membahas persoalan sepele, apalagi untuk sekedar menanyakan kabar saja atau isyarat romantisme lainnya. Tidak perlu juga chating untuk membahas persoalan akad nikah jika waktunya masih lama. Hal ini untuk menjaga kebersihan hati Anda dan dia.

Demikian jawaban singkat saya. Semoga berkenan dan semoga urusan pernikahan Anda dilancarkan oleh Allah SWT.

Salam Berkah !

Andai Kata Rasululloh Menjadi Tamu Kita

Bayangkan apabila Rasulullah SAW dengan seijin Allah tiba-tiba muncul mengetuk pintu rumah kita…….. Beliau datang dengan tersenyum dan muka bersih di muka pintu rumah kita, Apa yang akan kita lakukan ? Mestinya kita akan sangat berbahagia, memeluk beliau erat-erat dan lantas mempersilahkan beliau masuk ke ruang tamu kita. Kemudian kita tentunya akan meminta dengan sangat agar Rasulullah SAW sudi menginap beberapa hari di rumah kita. Beliau tentu tersenyum.

Tapi barangkali kita meminta pula Rasulullah SAW menunggu sebentar di depan pintu karena kita teringat Video CD rated R18+ yang ada di ruang tengah dan kita tergesa-gesa memindahkan dahulu video tersebut ke dalam. Beliau tentu tetap tersenyum.

Atau barangkali kita teringat akan lukisan wanita setengah telanjang yang kita pajang di ruang tamu kita, sehingga kita terpaksa juga memindahkannya ke belakang secara tergesa-gesa. Barangkali kita akan memindahkan lafal Allah dan Muhammad yang ada di ruang samping dan kita meletakkannya di ruang tamu. Beliau tentu tersenyum.

Bagaimana bila kemudian Rasulullah SAW bersedia menginap di rumah kita ? Barangkali kita teringat bahwa anak kita lebih hapal lagu-lagu barat daripada menghapal Sholawat kepada Rasulullah SAW. Barangkali kita menjadi malu bahwa anak-anak kita tidak mengetahui sedikitpun sejarah Rasulullah SAW karena kita lupa dan lalai mengajari anak-anak kita. Beliau tentu tersenyum……..

Barangkali kita menjadi malu bahwa anak kita tidak mengetahui satupun nama keluarga Rasulullah dan sahabatnya tetapi hapal di luar kepala mengenai anggota Power Rangers atau Kura-kura Ninja. Barangkali kita terpaksa harus menyulap satu kamar mandi menjadi ruang Shalat. Barangkali kita teringat bahwa perempuan di rumah kita tidak memiliki koleksi pakaian yang pantas untuk berhadapan kepada Rasulullah SAW. Beliau tentu tersenyum……..

Belum lagi koleksi buku-buku kita dan anak-anak kita. Belum lagi koleksi kaset kita dan anak-anak kita. Belum lagi koleksi karaoke kita dan anak-anak kita. Kemana kita harus menyingkirkan semua koleksi tersebut demi menghormati junjungan kita ?Barangkali kita menjadi malu diketahui junjungan kita bahwa kita tidak pernah ke masjid meskipun azan berbunyi. Beliau tentu tersenyum……..

Barangkali kita menjadi malu karena pada saat maghrib keluarga kita malah sibuk di depan TV. Barangkali kita menjadi malu karena kita menghabiskan hampir seluruh waktu kita untuk mencari kesenangan duniawi. Barangkali kita menjadi malu karena keluarga kita tidak pernah menjalankan sholat sunnah. Barangkali kita menjadi malu karena keluarga kita sangat jarang membaca Al Qur’an. Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengenal tetangga-tetangga kita. Beliau tentu tersenyum…….

Barangkali kita menjadi malu jika Rasulullah SAW menanyakan kepada kita siapa nama tukang sampah yang setiap hari lewat di depan rumah kita. Barangkali kita menjadi malu jika Rasulullah SAW bertanya tentang nama dan alamat tukang penjaga masjid di kampung kita. Betapa senyum beliau masih ada di situ……..

Bayangkan apabila Rasulullah SAW tiba-tiba muncul di depan rumah kita…… Apa yang akan kita lakukan ? Masihkah kita memeluk junjungan kita dan mempersilahkan beliau masuk dan menginap di rumah kita ? Ataukah akhirnya dengan berat hati, kita akan menolak beliau berkunjung ke rumah karena hal itu akan sangat membuat kita repot dan malu.

Maafkan kami ya Rasulullah…. Masihkah beliau tersenyum ? Senyum pilu, senyum sedih dan senyum getir…..Oh betapa memalukannya kehidupan kita saat ini di mata Rasulullah.

Jazakumullah...

mari bersama mengembalikan kehidupan Islam.